Anak Zaman

zaman

Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung

Sebuah peribahasa yang sudah tidak asing di telinga kita yang berarti dimana pun kita berada maka kita diharuskan mengikuti adat istiadat ditempat tersebut. Begitu pula dalam dimensi waktu, dimana zaman dilalui maka aturan dizaman itu pula yang diikuti. Memperhatikan anak zaman sekarang sering membuat akang kagum. Terutama dalam segi ilmu pengetahuan pada umumnya anak sekolah zaman sekarang lebih pintar daripada zaman akang sekolah dahulu (pada usia yang setara). Perkembangan teknologi tak pelak menjadi sebab mudahnya anak sekolah kini mendapatkan informasi apapun yang mereka butuhkan. Tingkat pendidikan orang tua yang tentu saja lebih tinggi semakin membuat anak sekolah kini benar-benar dimanjakan dengan sumber informasi yang difasilitasi oleh orang tuanya.

Suatu ketika akang menjenguk anak seorang teman yang sedang dirawat disebuah rumah sakit. Naila namanya, kini duduk di kelas 1 tingkat Sekolah Dasar. Seorang anak yang pintar dan lucu juga sangat percaya diri sebagaimana layaknya anak-anak kota. Sejenak akang teringat akang dahulu ketika seusia dengannya yang begitu pemalu dan benar-benar “kampungan”. Saat dijenguk kondisi Naila sudah mulai membaik sehingga Naila terlihat ceria dan cerewet seperti biasanya. Naila ditemani kedua orang tuanya dan seorang kakak perempuannya. Kami pun ngobrol kesana-kemari dan diselingi menggoda Naila yang terbaring ditempat tidur untuk memancing tawanya.

Disela obrolan kami, kakaknya Naila berkata bahwa Naila sudah punya pacar. Tentu saja hal ini dimaksudkan untuk menggoda Naila. Naila pun tersipu malu dan segera menyembunyikan wajahnya dibalik selimut. Akang pun menyahuti kakaknya dengan menanyakan siapa nama pacar Naila. Tiba-tiba Naila membuka selimutnya dan menyeru kepada kakaknya agar jangan menyebutkan satu nama pun. Akang sedikit terkejut karena pada awalnya akang mengira Naila akan menyangkal kalau dirinya disebut telah punya pacar. Ternyata Naila bukan menyangkal disebut punya pacar tetapi berusaha menghalangi kakaknya agar tidak menyebut nama siapapun yang disebut “pacarnya”. Melihat reaksi adiknya, kakak Naila malah terus menggoda dengan menyebut nama seseorang. Naila semakin terlihat merajuk kepada kakaknya sambil terus memohon agar tak menyebutkan nama seorang pun.

Dalam perjalanan pulang akang membahas kejadian tersebut bersama istri akang. Tentang Naila yang bisa jadi merupakan representasi anak kecil lainnya. Naila yang terlihat lebih ”dewasa” dari usianya saat ini begitu akrab dengan istilah “pacaran” terlepas apapun arti kata tersebut baginya. Sebuah kata yang menurutnya sendiri berbeda dengan arti teman karena saat ditanya nama temannya Naila dengan lantang menyebutkan temannya yang laki-laki maupun perempuan. Tetapi saat ditanya nama pacarnya hanya wajah memerah dan senyum tersipu yang jadi jawabannya. “Mungkin memang begitu anak zaman sekarang” ungkapan yang dikemukakan istri akang tentang Naila. Akang pun tidak punya banyak komentar tentang hal tersebut.

Bisa jadi Naila berbeda dengan kebanyakan anak sekarang ataupun bisa jadi sebaliknya. Kembali ingatan akang terbayang sewaktu sekolah dahulu dimana Ibu atau Bapak guru sering menghukum muridnya yang bandel dikelas. Hukuman yang diberikan biasanya menyuruh anak yang bandel untuk berdiri didepan kelas selama pelajaran berlangsung. Namun hukuman tersebut seringkali tidak ampuh untuk membuat si anak bandel jera. Hanya satu hukuman yang ampuh akan membuat si bandel jera yaitu selama pelajaran berlangsung disuruh duduk sebangku dengan murid lain yang berlawanan jenis. Jadi jika yang bandel anak laki-laki (seingat akang hanya anak lelaki yang biasanya bandel) maka akan disuruh duduk dengan anak perempuan. Dengan hukuman seperti ini dijamin sianak bandel tidak akan berkutik selama pelajaran berlangsung karena merasa malu dan risih duduk sebangku dengan perempuan. Jangankan disebut-sebut kata “pacar” , bagi kami duduk berdekatan dengan perempuan saja sudah mampu menimbulkan rasa malu. Ah memang beda zaman tentu beda kebiasaan.

Ditulis pada Catatan | Di-tag , | 19 Komentar

Dongeng Bayangan

bayang

Anak kecil adalah mahluk yang tercipta untuk bermain. Dunia mereka seluruhnya hadir sebagai tempat bermain. Dari sejak membuka mata di pagi hari hingga memejamkan mata di malam hari tak ada waktu terlewat tanpa bermain. Hanya tidur yang mampu menghentikan kegiatan bermain mereka. Bahkan mungkin dunia mimpi mereka pun diisi dengan dunia bermain. Sebagai orang tua yang mempunyai putra berusia dua tahun, akang sering merasa takjub dengan energi yang dimiliki anak kecil untuk bermain. Selain rasa takjub akang juga dipusingkan dengan mengarahkan energi bermain anak agar semua permainan yang dilakukan dapat melatih keterampilannya.

Masih teringat oleh akang kata-kata Dr Luh (dokter-nya Gilang) bahwa seorang anak akan mencapai kesempurnaan dalam berjalan setelah melakukan sekurangnya enam juta langkah. Hal ini juga yang terus memberi semangat akang untuk tetap mengimbangi gerak Akbar jika sedang bermain. Jika menuruti rasa lelah tentu saja akang akan berusaha menghentikan kegiatan Akbar. Namun hal ini akan mengurangi kesempatan Akbar mencapai tumbuh kembang yang baik. Sudah menjadi watak anak-anak jika menyukai sesuatu maka mereka akan meminta berulang kali hingga merasa bosan. Begitupun dengan berbagai macam permainan yang akang perkenalkan kepadanya.

Akhir-akhir ini permainan yang sedang disukai Akbar adalah mendongeng sebelum tidur ditemani bayangan bebek. Hampir setiap malam sebelum tidur Akbar meminta akang untuk bermain bayangan bebek. Pada mulanya akang hanya teringat dengan permainan akang saat kecil. Bersama saudara akang sering bermain bayangan tangan dengan membentuk berbagai macam benda. Bayangan yang dahulu biasa dimainkan adalah bayangan burung, kelinci dan kepala kuda. Sebenarnya akang hanya membentuk sebuah bayangan yang paling sederhana dengan menggunakan sebelah tangan. Saat Akbar melihatnya dengan spontan dia mengatakan itu adalah bebek.

Akang mendongeng dengan diiringi suara yang dibuat mirip dengan suara tokoh kartun Donald Duck. Akang bisa ngoceh nemenin Akbar selama lima belas menit hingga setengah jam sebelum tidur. Terkadang Akbar berusaha menangkap bayangan yang ada di dinding, Akang pun memindahkan bayangan ketempat lain sehingga Akbar akan terus mengejar bayangan bebek yang ada didinding. Jika sudah demikian kami tertawa bersama menyongsong malam. Bermodal senter kecil dan memadamkan lampu kamar maka permainan sederhana ini bisa mengantar akbar tidur tanpa terlebih dahulu bersikap rewel. “…wek…wek….wek…ayo Akbar sekarang waktunya tidur…wek…wek..”

Ditulis pada Cerita Akbar | Di-tag , , | 10 Komentar

Warisan

SEPEDA

Salah satu keuntungan mempunyai anak sama jenis kelaminnya adalah bisa mewariskan barang sang kakak kepada adiknya. Dari mulai baju hingga aksesoris lainnya yang masih layak pakai dan belum dibuang. Begitu pula Akbar yang juga banyak mewarisi barang milik Gilang. Kegiatan terapi Gilang yang pada awalnya mencapai 3 kali dalam seminggu memaksa akang untuk menyediakan stok baju sedikit lebih banyak. Istri akang bilang kasihan Gilang jika terapi memakai baju yang itu-itu terus. Jika di rumah sih nggak masalah bajunya pake yang lusuh atau robek tetapi saat terapi diusahakan memakai baju yang layak pandang.

Baju anak-anak biasanya gampang rusak dan kotor karena dipakai bermain. Hal ini tidak terjadi pada baju-baju Gilang yang tak pernah bermain sehingga baju Gilang tidak dipakai lagi jika memang sudah tidak muat. Baju-baju bekas Gilang kini dipakai oleh Akbar dengan kondisi yang masih bagus. Kami hanya tertawa jika melihat foto Akbar sedang memakai baju Gilang kemudian dibandingkan dengan foto Gilang dahulu dengan baju yang sama. Si Uwa pengasuh bahkan sering protes karena Akbar jarang dibelikan baju baru. Terkadang Akbar disebut “anak sisa” karena apa-apa yang dia pakai kebanyakan memang bekas dipakai Gilang dahulu.

Salahsatu barang lain yang diwarisi Akbar adalah sepeda. Sebenarnya sepeda ini dibeli atas saran terapis sebagai alat bantu untuk melatih kemampuan Gilang berjalan. Saat membuat postingan ini akang mencari tulisan akang tentang sepeda untuk Gilang yang ternyata ber-tanggal 11 juni 2011. Hampir dua tahun usia sepeda ini sejak dibeli pertama kali. Sepeda yang pada mulanya telah akang modifikasi untuk keperluan terapi kini dikembalikan kepada kondisi asal. Sejujurnya proyek sepeda khusus untuk Gilang tidak berjalan sesuai harapan. Modifikasi yang rumit sulit dibuat karena akang tidak menemukan tukang las yang benar-benar mengerti apa yang akang inginkan dengan sepeda tersebut. Sementara itu semakin lama ukuran sepeda menjadi terlalu kecil untuk Gilang. Alhasil sepeda tersebut tidak pernah dipakai samasekali.

Kini Akbar sudah mulai menginginkan sepeda. Si Uwa pengasuh beberapa kali memberi laporan jika Akbar berebut sepeda milik teman bermainnya. Akang pun akhirnya mengeluarkan sepeda Gilang dari “pertapaannya” untuk digunakan oleh Akbar. Tentu saja Akbar merasa senang mendapat sepeda “baru” untuk bermain sehingga sekarang Akbar tidak perlu lagi berebut dengan teman bermainnya.

Ditulis pada Cerita Akbar | Di-tag , , , | 8 Komentar

Aku, Gunting Dan Televisi

barbershop

Kudapati sebuah gunting tengah menari-nari diatas kepalaku. Memotong rambutku. Tujuh wanita berbaju merah berbaris rapi didepanku. Gunting mengatakan mereka adalah tujuh dari delapan istri seseorang. Rasanya aku pernah mendengar. Gunting terus menari. Helai demi helai rambutku rontok. Satu dari wanita berbaju merah mengatakan kami tak terpisahkan. Sungguh romantis pikirku. Gunting berhenti menari sejenak. Mereka kena tenung ujarnya. Aku bingung. Tampaknya mereka bahagia. Wanita itu kembali mengatakan sesuatu. Kini gunting memotong kupingku. Aku tak mendengar suara apapun. Hanya suara gunting dikepalaku. Mereka bohong hardik gunting padaku. Aku ingin mendengar kebohongan mereka pintaku. Gunting tak bergeming. Nanti kupotong lehermu ancamnya. Mereka tak bahagia. Mereka dijampi-jampi. Gunting terus bersuara. Jangan kasihani mereka. Gunting terus menari. Memotong mataku. Memotong sadarku. Hanya gunting yang tetap tersadar. Didepanku kini hadir seorang wanita berkerudung. Dia menangis. Sosok yang tak asing. Kasihani dia ujar gunting. Gunting masih menari. Gunting tetap bersuara. Dia istri dari seorang ustadz besar. Ustadz bermotor besar. Kini gunting bersuara lirih. Ustadz itu mendapat petaka besar. Dipanggil Sang Maha Besar. Gunting menari semakin lambat. Tujuh wanita berbaju merah berbaris rapi didepanku. Wanita berkerudung masih menangis. Gunting terus menari. Memotong rambutku. Memotong kupingku. Memotong mataku. Memotong sadarku. Kini gunting memotong tidurku.

Ditulis pada Puisi | Di-tag , , | 11 Komentar

Tak Se-smart Ponselnya

TERLAMBAT

Masih ingat waktu akang kehilangan ponsel sekitar sebulan yang lalu ? Walaupun telah dikembalikan oleh Pak Yongki Komaladi namun akang tidak bisa menggunakannya karena ponsel tersebut telah rusak. Sejak saat itu akang tidak memiliki dan menggunakan ponsel samasekali. Setelah sekian tahun terbiasa menggunakan ponsel dan secara tiba-tiba kehilangannya sungguh banyak hal yang bisa diceritakan. Hal pertama adalah protes dari teman kerja akang yang selalu kesulitan jika ingin menghubungi akang diluar jam kerja. Korbannya tentu saja istri akang yang harus selalu menjawab penelepon yang ingin menghubungi akang. Akang sulit dihubungi jika tidak berada dirumah atau tidak sedang bersama istri.

Istri akang sempat protes dan meminta agar akang segera membeli ponsel, namun akang menundanya dengan alasan ingin mencoba tak menggunakan ponsel (padahal aslinya sih nggak punya duit :mrgreen: ). Ada sedikit rasa takut saat pertama kali memutuskan untuk tidak memiliki ponsel. Takut begini –takut begitu menghinggapi pikiran akang. Sebagian besar timbul karena perasaan “sok jadi orang penting” akang yang merasa selalu dibutuhkan orang lain. Kekhawatiran yang muncul pada kenyataannya tidak menjadi kenyataan samasekali. Tidak memiliki ponsel ternyata biasa-biasa saja. Teman yang ingin menghubungi akang bisa menghubungi saat akang di tempat kerja atau di rumah. Memang dikedua tempat itulah sebagian besar waktu yang akang lewatkan. Jadi jika ada yang bilang “hari gini nggak punya ponsel, apa kata dunia? (dengan tanda tanya yang paling besar)” maka akang akan menjawab “ biasa aja tuh” (dengan ekspresi wajah yang lurus selurus permukaan air).

Kesulitan menjadi orang tak ber-ponsel tidak banyak seperti yang dikhawatirkan, salah satunya adalah tentang kesukaan akang ngeblog. Kegiatan ngeblog menuntut akang untuk selalu mencari ide tentang tulisan yang akan diposting di blog. Ide tulisan sendiri seringkali muncul ditempat dan saat yang tidak bisa ditentukan. Bisa disaat berkendara, mengantri atau bahkan saat diam sekalipun. Para penulis sukses banyak memberikan saran bahwa ketika mendapat suatu ide maka ikatlah ia dengan tulisan. Bukan tulisan yang panjang tetapi hanya inti dari ide itu sendiri baik berupa kalimat atau hanya satu frasa sekalipun. Hal ini sangat bermanfaat karena jika ide-ide telah menumpuk terkadang hilang begitu saja ketika hendak dituangkan kedalam sebuah tulisan. Akang sendiri biasa menuliskan ide-ide tersebut didalam layanan draft SMS kemudian jika ada waktu luang untuk menulis maka ponsel tersebut dijadikan contekan. Jadi sejak tidak menggunakan ponsel akang kembali harus membawa buku catatan saku dan sebuah pulpen tentunya jika pergi kemana pun.

Ada pelajaran berharga lain yang akang dapatkan dengan tidak ber-ponsel. Seringkali akang janjian dengan teman dan mengajak bertemu disuatu tempat pada waktu yang ditentukan. Jika terlambat dari waktu yang dijanjikan untuk bertemu maka dengan mudahnya akang memberitahu lewat telepon bahwa akan terlambat ditempat tujuan. Tidak peduli walaupun teman akang telah bosan menunggu lama seolah dengan menelepon kita telah menebus dosa keterlambatan kita. Nah saat tidak menggunakan ponsel akang tidak bisa berbuat demikian sehingga akang dipaksa untuk selalu menepati janji yang telah disepakati. Walaupun dengan resiko jika teman akang yang terlambat maka akang yang harus menunggu tanpa bisa mendapat konfirmasi apapun.

Menyangka akang benar-benar tidak ingin menggunakan ponsel lagi, istri akang diam-diam membelikan sebuah ponsel. Tahu kesukaan akang ngeblog dia pun memilihkan ponsel yang bisa digunakan untuk keperluan tersebut. Mengingat harga ponsel yang bisa digunakan untuk banyak keperluan berharga cukup mahal, istri akang tak kehilangan akal untuk membeli ponsel buatan China yang terkenal murah untuk spek ponsel yang lumayan komplit. Dengan harga yang tak lebih dari sejuta rupiah, sebuah ponsel ber-platform android kini akang gunakan. Senang sekali rasanya dibelikan ponsel yang tidak hanya bisa digunakan untuk menelepon dan SMS-an. Apalagi diberikan sebagai kejutan (walau sedikit terpaksa) dari istri tercinta. Ngeblog menggunakan ponsel ternyata tidak semudah menggunakan komputer seperti yang biasa akang lakukan. Bahkan akang sempat membuat postingan kebablasan di blog akang karena ternyata akang belum sepintar ponselnya.

Ditulis pada Catatan | Di-tag | 18 Komentar