Sumber gambar : koleksifoto.com
Satu lagi cerita tragis yang akang dengar saat mengantar Gilang terapi tentang sebuah keluarga yang mengalami kehancuran karena tidak mampu menghadapi titipan seorang anak CP (Cerebral Palsy). Pikiran akang langsung terbayang akan masa depan sang anak, seorang anak CP yang masih dikaruniai orang tua yang lengkap Ibu dan Ayah saja belum tentu akan dengan mudah menjalani kehidupannya. Bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga mungkin perumpamaan yang tepat bagi mereka karena menyandang CP adalah seperti membawa beban dan kehilangan salah satu orang tua adalah seperti kehilangan salah satu kaki. Berbagai cerita yang akang dengar semakin memaksa agar melakukan introspeksi terhadap keluarga sendiri karena bukan tidak mungkin dimasa depan akan banyak hal yang bisa membuat akang dan istri menghadapi masalah serupa.
Dalam perjalanan mengarungi hidup bersama seorang anak CP hingga saat ini akang juga merasakan hambatan2 yang terkadang mudah untuk dilewati tetapi dilain waktu hambatan itu sangat sulit diatasi. Memang harus diakui akang pernah mengalami tahap saling “mencurigai” antara akang dan istri. Akang mencurigai jangan2 Gilang mengalami CP karena merupakan penyakit turunan yang berasal dari keluarga istri, disaat yang sama istri akang juga berpikir demikian. Mungkin saja jika masalah seperti itu tidak dikelola dengan baik maka keluarga akang pun akan hancur. Banyak cara yang dilakukan dalam mengatasi masalah ini seperti mencari tahu tentang seluk beluk penyakit CP dari berbagai sumber baik bertanya kepada ahli atau sekedar membaca dari buku. Dengan menambah wawasan tentang penyakit yang diderita membuat kami menjadi semakin rasional dalam menyikapi segala akibat yang timbul dari penyakit CP tersebut.
Cara lain yang kami tempuh adalah dengan memperbanyak silaturahim dengan keluarga lain yang senasib dengan kami. Hal demikian membawa banyak hikmah yang terasa seperti kami merasa bahwa kami tidak sendiri dalam perjuangan menghadapi CP ini. Kami juga banyak mendapat pengetahuan tentang bagaimana menghadapi anak CP sehari-hari bahkan pengalaman2 seperti ini terasa lebih nyata ketimbang teori di dalam buku. Disaat hati merasa lelah dan sempat terpikir untuk menyerah seringkali motivasi tumbuh lagi saat bertemu keluarga CP lain yang tingkat penyakitnya lebih berat tetapi mereka menunjukkan kesabaran yang lebih kuat. Saran dan wejangan dari sesama keluarga CP akan terasa lebih memotivasi bagi kami daripada yang berasal dari teman lainnya, hal ini mungkin karena ada perasaan senasib diantara kami. Dari silaturahim seperti inilah akang mendapatkan banyak kekuatan untuk terus berjuang mengarungi hidup bersama Gilang.
Anak bagaikan pelangi yang lahir dari sinar surya dan rintik hujan, tak akan ada pelangi tanpa salahsatu dari keduanya. Pelangi adalah anugerah karena tidak setiap pertemuan sinar surya dan rintik hujan menjadi pelangi. Surya dan hujan tidak pernah memperebutkan pelangi tidak juga mengingkarinya.
Anakku …kaulah PELANGIKU


subhanallah. . .sy salut sama akang sekaligus malu krn belum bisa sabar menghadapi Al anak sy yg br 3 bln ini menderita CP jg. Semoga cerita akang ttg Gilang, dpt memberikan kekuatan buat sy. .trms
Saatilang seusia 3 bulan mungkin akang jg tidak setegar Mba Herlin….tetap semangat!!!
Gilang beruntung sekali punya orang tua hebat… saya juga punya keponakan dari suami yang lumpuh sejak kecil… sekarang umurnya sudah 12 tahun tidak bs komunikasi dan hanya duduk di tempat tidurnya yang pengap, jangankan mendapat terapi, berkali2 saya sarankan untuk dibelikan kursi roda saja tidak ada keluarga yang menanggapi. mereka sudah putus asa berkali2 ke dokter tidak ada perkembangan. Dia gadis yang cantik, ingin sekali saya membantunya tapi saat ini belum cukup dana, pengetahuan juga minim… kalo bisa share ilmunya Kang, gimana caranya anak CP bisa mandiri dn komunikasi…
Mudah2n sy pun s’tegar n s’sabar Akang. . .
Terima kasih atas dukungannya Mbak Herlin…Jazakillahu khoir..!!!