Ngabuburit Ala Kampung

Sumber gambar : bisnis-jabar.com

Ngabuburit
Sebuah kata dalam bahasa Sunda yang artinya menunggu waktu berbuka puasa, begitulah kebanyakan selain orang sunda mengartikannya. Kali ini akang coba menerangkan arti kata “ngabuburit” ini secara lebih rinci. Kata dasar dari ngabuburit adalah “burit” yang merupakan sebuah kata penunjuk waktu “sore” atau menjelang malam. Dalam bahasa sunda awalan “nga” artinya hampir sama dengan awalan “me” dalam bahasa Indonesia. Dengan awalan “nga” maka kata burit seolah berubah menjadi kata kerja, sedangkan pengulangan sisipan “bu” dalam bahasa sunda merubah kata tunggal menjadi jamak. Sebagai perbandingan dalam bahasa Indonesia adalah kata “menunggu” yang akan mempunyai makna berbeda dengan kata “menunggu-nunggu”. Jadi ngabuburit bukan hanya sekedar menunggu sore tetapi berarti menunggu-nunggu sore.
Pengalaman berpuasa di kampung saat kecil sungguh sulit terlupakan mengingat saat ini pengalaman2 itu sudah sulit ditemui. Diantara banyak pengalaman berpuasa dahulu akang akan berbagi cerita sebagiannya :

  • Marak
    Marak dalam bahasa kami adalah kegiatan mencari ikan disungai dengan cara menguras air sebanyak mungkin dari wilayah target. Sungai yang menjadi sasaran biasanya yang berarus kecil dan cukup lebar. Hal ini dilakukan dengan membendung sebagian badan sungai menggunakan bebatuan, jerami dan rerumputan. Arus airnya dialirkan kebagian lain dari sungai tersebut. Cara ini bisa dilakukan mengingat sungai di tempat akang adalah sungai pegunungan yang penuh dengan bebatuan dan biasanya dangkal. Semakin sedikit air ditempat target maka akan semakin mudah kami menangkap ikan. Apalagi terkadang kami meracuni ikan tersebut dengan ramuan yang terbuat dari daun sejenis tanaman yang disebut babadotan. Daun ini beraroma sangat bau apalagi jika kita haluskan menggunakan tangan maka baunya akan sulit hilang. Selain mengasyikan kegiatan ini juga melatih kebersamaan karena “marak” harus dilakukan oleh banyak orang. Tentu saja acara ini biasanya diakhiri dengan mandi disungai. Byuuuurrrrr
  • Pasang bubu
    Bubu atau perangkap ikan merupakan perangkat tradisional yang dimiliki oleh hampir semua kebudayaan di negeri ini. Disaat bulan puasa kami biasa memasang bubu pada sore hari sambil ngabuburit. Bubu yang berbentuk silinder dengan ujung meruncing terbuat dari bambu. Bambu2 sebesar lidi disusun sedemikian rupa dengan kerapatan tertentu yang dibuat sesuai ikan yang akan ditangkap. Semakin kecil kerapatannya semakin kecil pula ikan yang bisa lolos dari perangkap tersebut, artinya semakin besar kemungkinan ikan yang didapat. Memasang bubu memerlukan keterampilan dalam memilih tempat dan cara meletakkan bubu. Bubu diletakkan dengan mengarahkan ujungnya ke arah hulu sungai sedangkan lubang tempat masuknya ikan diarahkan ke arah hilir. Disekitar bubu diletakkan bebatuan dan bermacam dedaunan sebagai cara untuk mengelabui ikan. Dengan pemasangan yang baik maka bubu akan tampak menjadi tempat yang menyenangkan bagi ikan untuk bersembunyi.Bubu diangkat keesokan hari setelah sholat subuh.Jadi kami mengisi acara “subuhan” bukan dengan trek-trekan motor atau mondar-mandir dijalanan tidak karuan tapi rame-rame sibuk disungai.
  • Membuat kolang-kaling
    Dalam bahasa kami kolang-kaling disebut “cangkaleng” yang berasal dari buah pohon aren. Saat masih dipohon sebutan untuk buah ini adalah “caruluk”. Membuat kolang-kaling menjadi salah satu kegiatan favorit kami jika ngabuburit. Kami tidak peduli dengan resiko dari getah caruluk yang terkenal membuat gatal. Gatal yang ditimbulkan oleh getah ini biasanya diatasi dengan mengoleskan minyak kelapa ke sekujur tubuh sebelum mengambil buah caruluk dari pohonnya. Buah yang terkumpul kemudian direbus hingga kolang-kalingnya mudah dikeluarkan dengan cara memecah buahnya. Kolang-kaling yang dikumpulkan biasanya hanya cukup untuk dimakan sendiri saat berbuka. Minuman seperti kolak pun bisa ditambah kolang-kaling ini biar rasanya lebih nikmat

Begitulah sebagian kegiatan yang biasa akang lakukan saat ngabuburit dahulu saat masih kecil dikampung halaman. Rasanya menyenangkan jika sahabat blogger juga menceritakan pengalaman masing-masing saat bulan puasa. Ayo ceritakan pengalamanmu….!

About these ads

Tentang abi_gilang

The ordinary people
Tulisan ini dipublikasikan di Puisi dan tag . Tandai permalink.

14 Balasan ke Ngabuburit Ala Kampung

  1. della berkata:

    Seger kayaknya berenang siang-siang, Kang :D

  2. Dhenok Habibie berkata:

    enak ya kang, ngabuburitnya di air jadi sekalian ngadem.. hahahahahha :P

    iya, harusnya mengisi ngabuburit itu dengan kegiatan yang menyenangkan dan positif.. tapi di beberapa tempat masih banyak yang mengisi “subuhan” dengan balap liar

  3. @SobatBercahaya berkata:

    Inget masa kecil jadi pengin nyemplung sunge :))

  4. onesetia82 berkata:

    ngabuburit sambil nyari kolak kang … ;)
    wilujeng ngalaksanakeun ibadah shaum kang …
    hapunten tina sadayananing kalepatan, pamugi akang kersa ngahapunten … :D

  5. Idah Ceris berkata:

    Kata sama tapi beda ari ya kang?
    Marak itu kalau di tempat idah, Banyak. :)
    kalu Bubu ya Tidur kang. hiihihiho

  6. bensdoing berkata:

    waktu hari minggu kemarin…..sya ngabuburit lho Kang, ke rumah Akang… :D

  7. Ely Meyer berkata:

    kegiatannya khusus anak cowok saja ya :)

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s