Surat dari ayah

Inkubator

Pukul 23:00, 08 September 2006

Angkot carteran yang kutumpangi berhenti di depan UGD  rumah sakit Hermina di pinggiran kota bogor, dengan terburu-buru kutemui petugas yang sedang berjaga untuk meminta pertolongan karena di dalam angkot ibumu melengking lengking menahan rasa sakit sambil memegang perutnya, sepertinya akan segera melahirkan. Dengan sigap petugas yang berjaga segera menurunkan ibumu dan membawanya ke ruang tindakan UGD, tidak berapa lama berselang mereka membawanya ke ruangan perawatan karena nampaknya akan diberikan penanganan yang lebih intensif. Tidak banyak prosedur yang harus kulalui untuk mengurus administrasinya karena dirumah sakit ini ibumu bekerja dan para petugasnya pun mengenal ibumu dengan baik. Selama menunggu pemeriksaan aku menunggu dengan perasaan yang tidak menentu kupikir inilah saatnya akan menjadi seorang ayah, berbagai macam pikiran menghiasi kepalaku ini, tentang diriku, tentang ibumu, tentang kau nanti dan tentang semua hal yang akan aku hadapi kedepan, tentang kebahagiaan yang menanti. Lima hari yang lalu kami kontrol ke dokter kandungan, setelah memeriksa ibumu dokter pun menyarankan agar kami kembali lagi seminggu kemudian, tetapi dari selepas ashar tadi ibumu mulai merasakan mules yang tak juga reda hingga pukul sepuluh malam, karena makin khawatir akhirnya kamipun membawanya ke rumah sakit ini.
Tiba-tiba aku dipanggil oleh seorang suster agar aku masuk ke ruangan tempat ibumu diperiksa, kulihat wajah ibumu sekilas, nampak kekhawatiran disana tapi aku pikir itu karena semua ini adalah pengalaman pertamanya. Saat ku telah berhadapan dengan dokter yang memeriksa kulihat keningnya sedikit berkerut seperti kebingungan.

“Selamat malam Pak!” ujarnya

“Selamat malam Dok!” jawabku dengan suara sedikit bergetar.

“Jadi begini Pak, kami telah melakukan CTG terhadap kandungan istri bapa dan kami merasa khawatir bahwa janin dalam kandungan ibu mengalami stress janin, tapi untuk memastikannya kami akan memantau perkembangannya terus dalam berapa waktu kedepan” jelasnya.

“Baiklah Dokter, mohon lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok!” ujarku penuh permohonan.

“Tentu saja akan kami lakukan yang terbaik Pak, sekarang bapak tunggu saja dan berdo’a-lah semoga semua berjalan baik sesuai harapan kita” dokter mencoba menghiburku.

Walaupun banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan tetapi sepertinya tidak tepat disaat ini untuk disampaikan melihat dokter sedang sibuk menangani pasien-pasiennya. Kuhampiri ibumu yang merasa cemas mendengar penjelasan dokter yang tadi didengarnya, aku hanya berusaha untuk terlihat tetap tenang dan berusaha menghiburnya semampuku. Berpuluh do’a kulafalkan, berpuluh ayat kubacakan untuk menemani ibumu yang sedang berbaring. Selama menunggu kulihat perawat yang berulang kali memeriksa keadaan kandungan ibumu, setiap kali pemeriksaan selesai aku berusaha untuk menanyakan perkembangan janin di perut ibumu, hal itu berlangsung terus hingga keesokan pagi.

09 September 2006,

Pagi itu nampaknya rasa sakit yang dirasakan ibumu agak sedikit berkurang, sekarang dia sudah bisa menyantap makanan yang disediakan oleh petugas, tetapi saat makan itulah tiba-tiba suster menyuruh ibumu untuk menghentikan makannya karena saat itu juga akan dilaksanakan operasi cesar. Hatiku berdebar mendengar apa yang dikatakan suster, aku merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan karena keluarga yang mengantar tadi malam semuanya sudah pulang ke rumah, langsung saja aku mengurus segala persyaratan administrasi yang harus dipenuhi seperti surat persetujuan untuk tindakan anestesi, persetujuan untuk tindakan operasi dan lain-lain. Aku tak tahu persis apa yang terjadi dengan ibumu karena saat kembali ke ruang perawatan ibumu sudah tidak ada lagi diruangannya dan aku disuruh menunggu didepan ruangan operasi. Aku masih berharap banyak bahwa ibumu akan melahirkan dengan lancar, yang kulakukan hanya berdo’a dan berdo’a tentunya untuk keselamatan ibumu dan juga kau, kutunggu suara jeritan bayi yang biasa terdengar pertama kali jika seorang bayi dilahirkan, tapi yang kutunggu tak juga terdengar dan sekarang hatiku mulai merasa cemas, apakah ibumu baik -baik saja, apakah operasinya berjalan lancar, apakah kau selamat dan banyak pertanyaan lain yang terpikir dikepalaku ini. Tiba-tiba pintu ruangan operasi terbuka, aku terkaget dan tak siap menghadapi apa yang terjadi kemudian, sebuah inkubator didorong oleh dua orang suster dan nampaknya seorang dokter mengikutinya, mereka berjalan dengan tergesa-gesa dan terlihat tegang, aku mencoba menguasai pikiranku, kulihat sesosok bayi didalam inkubator, tergeletak seperti papan, tanpa tangisan dan tanpa gerakan, sebagai seorang ayah perasaanku mengatakan bahwa bayi itu adalah kau, anakku.

“ Dokter apakah ini anak saya? Apa yang terjadi dengannya Dok?” tanyaku.

“ Benar Pak ini anak bapak, dia mengalami HIPOKSIA yaitu keadaan kekurangan oksigen dan segera harus mendapatkan perawatan ICU, maaf Pak saya belum bisa menjelaskan sekarang, bapa bisa bertanya kepada dokter kandungan yang sekarang masih diruangan operasi” jawab dokter dengan tergesa-gesa.

Akupun bimbang apakah akan mengikuti kau ke ruangan ICU ataukah harus melihat ibumu yang ada diruangan operasi. Akhirnya kuputuskan untuk segera menemui ibumu diruangan operasi karena kupikir kalau ikut ke ICU akupun tidak akan bisa mendampingimu dan hanya akan menyaksikanmu dari luar ruangan ICU. Dari dokter kandungan aku mendapat informasi bahwa kamu mengalami hipoksia dan keracunan ketuban, hal ini dimungkinkan karena waktu kehamilan ibumu terlalu lama yaitu hampir 42 minggu. Dalam keadaan normal seorang bayi yang baru lahir harus menangis sebagai tanda masuknya oksigen kedalam paru-parunya, tetapi tidak denganmu karena paru-parumu dipenuhi oleh ketuban oleh karena itu kamu harus mendapatkan perawatan di ruangan ICU untuk segera membersihkan paru-paru dari kotoran ketuban. Nampak ibumu sangat terpukul dengan keadaan ini sementara aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, hanya tangis dan do’a yang selalu terpanjat dariku. Setelah meyakinkan diri bahwa keadaan ibumu sudah bisa ditinggalkan aku pun mendatangi ruangan ICU untuk melihatmu. Setelah meminta ijin kepada petugas untuk melihatmu aku diberi pakaian khusus pengunjung ruangan ICU, saat semuanya siap kulangkahkan kakiku mendekati ruangan tempatmu di rawat. Kau diletakkan didalam inkubator, tak terhitung selang-selang yang dimasukkan kebeberapa bagian tubuhmu juga kabel-kabel yang menempel pada banyak bagian tubuhmu tersambung dengan alat-alat pendukung kehidupan dan monitor-monitor pemantau. Untuk mendukung pernapasan digunakan alat ventilator, sebuah alat yang berfungsi menggantikan fungsi paru-paru, pada alat tersebut terdapat bentuk pompa yang naik turun seirama dengan kembang kempisnya dadamu disertai bunyi “beep..beeep” persis seperti robot. Sebuah selang mencuat dari dada kanan mengeluarkan cairan yang ditampung didalam botol penampung, menurut dokter selang itu menembus hingga paru-paru berfungsi mengeluarkan kotoran dari paru-paru. Pada layar monitor terlihat angka-angka yang terus berubah dan juga grafik-grafik yang naik turun mengikuti segala perubahan pada tubuhmu. Kucoba untuk mengelusmu melalui dua buah lubang disisi inkubator, tak ada reaksi apapun darimu, aku bergerak ke sebelah kanan kepalamu untuk melafalkan adzan kemudian melafalkan iqomat disebelah kiri, inilah hal yang sejak pertama ingin kulakukan saat menjumpaimu, hampir saja tak sanggup kuselesaikan adzan yang kulafalkan, mulutku serasa tercekat menahan kesedihan yang tiba-tiba kurasa, baru kali ini kuperhatikan wajahmu dengan seksama nampak seluruh tubuhmu sedikit membengkak dibeberapa tempat seperti lebam membiru. Kalaulah suster tidak mengingatkanku untuk segera meninggalkan ruangan, kuingin rasanya terus bersamamu bahkan kalau mungkin biarlah aku saja yang merasakan kesakitan ini daripada harus kau yang menanggung semua ini.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Gilang dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Surat dari ayah

  1. Ping balik: Gilar Adik Gilang « Belajar Kehidupan

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s