Surat Dari Ayah (part III)

Pada hari ke-2, dokter ICU menyarankan agar kau dipindahkan ke RSPP karena harus dilakukan pemeriksaan CT scan yang kebetulan belum tersedia di RS Hermina Bogor. Aku berusaha mencari ambulan yang memenuhi persyaratan untuk membawamu ke Jakarta, akhirnya aku disarankan untuk menelepon ke pelayanan ambulan 118. Aku mendapat pernyataan dari pihak penyedia ambulan bahwa syarat untuk pemindahan adalah pasien harus benar-benar dalam keadaan memungkinkan untuk dipindahkan. Setelah ada kepastian bahwa hal itu telah dibicarakan dengan dokter ICU, maka disetujui bahwa pemindahan akan segera dilakukan, hanya saja ada yang mengganjal yaitu pihak ambulan 118 tidak mempunyai inkubator portable yang bisa dibawa didalam ambulan tapi mereka menyatakan bahwa hal itu bisa diatasi. Dengan sedikit keraguan akhirnya kuputuskan menggunakan jasa layanan mereka untuk memindahkanmu ke RSPP. Setelah sepakat ditentukanlah bahwa pemindahan akan dilakukan pada saat tengah malam untuk menghindari kemacetan dan mengurangi faktor resiko yang mungkin terjadi selama perjalanan. Pukul sebelas malam ambulan 118 yang ditunggu telah tiba di RS Hermina, dua orang petugasnya langsung menyiapkan segala peralatan dan dokumentasi yang diperlukan, setelah aku manandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa aku tidak akan menuntut pihak manapun jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan maka pemindahan pun mulai dilakukan. Tubuhmu dibungkus dengan semacam kain terbuat dari aluminium foil yang biasa digunakan untuk memanggang ayam, selang ventilator dipindahkan ke ventilator mini yang dibawa petugas ambulan, semua data medis telah disediakan oleh perawat untuk kepentingan penanganan di RSPP, dengan hati-hati kau mulai dimasukkan kedalam ambulan, hanya aku yang mengantarmu karena ibumu masih dalam perawatan dan belum bisa menemanimu saat itu. Ada satu hal jadi pertanyaanku, dari awal aku tidak melihat inkubator yang sangat diperlukan untuk menjaga suhu tubuhmu karena kuyakin bahwa aluminium foil saja tidak akan memadai untuk menjaga suhu tubuhmu ,lalu dimanakah inkubator itu?saat kutanyakan pada petugas dia bilang bahwa inkubator memang tidak tersedia tetapi yang akan dilakukan adalah membuat suhu didalam ambulan sama seperti di inkubator yaitu sekitar 37° celcius, mendengar itu aku sedikit kaget tetapi tidak bisa berkata apa-apa yang terpikir hanyalah bagaimana memindahkan kau dengan selamat. Seorang petugas menjadi sopir dan sorang yang lainnya bersamaku dikabin belakang bersamamu dengan semua peralatan yang memenuhi kabin ambulan. Perjalanan memindahkanmu dari Bogor ke Jakarta adalah pengalaman yang tak mudah dilupakan, dengan suhu di dalam ambulan mencapai 37° celcius keringatku bercucuran sepanjang perjalanan. Oleh petugas aku disuruh untuk terus memantau tetesan cairan dari botol infus, jika tetesan berhenti aku pun segera memberitahukan petugas untuk kemudian dibetulkan hingga cairan menetes lagi. Petugas pun tidak kalah sibuknya denganku, dia terus melihat kearah monitor yang menampilkan level kandungan oksigen dalam darahmu, selain itu matanya sesekali melirik kearah tabung suplai oksigen untuk memastikan bahwa suplai oksigen tetap terjaga. Sebenarnya jalur perjalanan yang dilalui tidak terlalu jauh tetapi yang menjadi kekhawatiran adalah jumlah oksigen yang tersedia hanya cukup untuk perjalanan selama dua jam jadi kami tetap berlomba dengan waktu. Benar saja, ditengah perjalanan suplai oksigen habis sehingga suplai oksigen harus dipindahkan ketabung lainnya, karena penggantian tabung harus dilakukan secepat mungkin dan hal itu tidak bisa dilakukan petugas seorang diri maka terpaksa ambulan dihentikan sementara waktu, sopir ambulan membantu penggantian tabung oksigen, dengan begitu cekatan mereka melakukan pekerjaannya, pekerjaan yang berhubungan dengan keselamatan nyawa manusia karena jika suplai oksigen ke otakmu sampai terhenti beberapa menit saja maka bisa dipastikan hal itu akan berakibat fatal.
12 September 2006
Saat sampai di IGD RSPP kau segera diturunkan dari ambulan, karena telah ada pemberitahuan sebelumnya maka segala perlengkapan telah disiapkan oleh para petugas di IGD. Prosedur serah terima dilakukan dengan segera, data rekam medis dari RS Hermina langsung diserahkan kepada dokter jaga. Para perawat segera memeriksa kondisimu saat kau telah berada di dalam ruangan, hal ini dilakukan mengingat begitu besar resiko perjalan yang telah kau tempuh, ya sebuah perjalanan yang tidak banyak orang mengalaminya apalagi sesusiamu. Tidak banyak tindakan yang dilakukan di IGD karena kau segera dipindahkan ke ruangan ICU Anak, akhirnya ventilator ambulan diganti dengan ventilator standar yang terdapat diruangan ICU, kau pun dimasukkan kedalam inkubator dan semua peralatan yang tadinya darurat telah diganti dengan alat permanen sehingga perjalanan penuh resiko itupun telah berakhir.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Gilang dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Surat Dari Ayah (part III)

  1. nandobase berkata:

    Tidak ada maksud dari saya untuk menyakiti anda dan rekan-rekan lain yang memiliki pengalaman seperti anda.
    Saya mohon maaf…….

    • ndiel2 berkata:

      Waduh kayaknya ada miskomunikasi nih..! Enggak mas komentar saya di blognya hanya ungkapan keinginan terpendam aja, kapan saya bisa cerita anak sendiri seperti itu. Saya samasekali ga marah malah seneng mas-nya mo mampir ke blog saya. Makasih.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s