Jalan Panjang Menuju Rumah

Menunggu pasien ICU adalah bukan hal yang menyenangkan karena setiap waktu kita akan selalu dihantui rasa was-was memikirkan orang yang sedang ditunggui, hal ini dirasakan juga olehku. Ruangan tunggu berada diseberang koridor ruang perawatan dan terhalangi oleh pintu yang selalu terkunci sehingga tidak sembarangan orang bisa lalu lalang ke ruang perawatan ICU tanpa meminta ijin terlebih dahulu kepada petugas. Diruangan tunggu tersebut terdapat kamar mandi untuk keperluan semua penunggu, loker tempat menyimpan barang-barang. Pada ruangan yang luasnya tak lebih dari tiga puluh meter persegi itulah para penunggu menginap dengan beralaskan karpet-karpet yang beraneka macam ada juga yang hanya menggunakan alas tikar biasa, mereka membagi tempat dengan penunggu lainnya dengan batas tikar masing-masing.

Pada salah satu pojok dinding ruang tunggu menempel telepon yang diperuntukkan bagi penunggu, melalui telepon itulah biasanya petugas ICU memanggil penunggu pasien jika ada suatu keperluan. Jika terdengar suara telepon berdering maka salah seorang penunggu akan mengangkat telepon tersebut sementara penunggu yang lainnya memusatkan perhatian kepadanya karena takut merekalah yang akan dipanggil untuk masuk keruangan perawatan. Jika salah seorang telah dipanggil masuk keruangan perawatan biasanya penunggu yang lain kembali meneruskan kegiatan masing-masing, ada yang kembali tidur ataupun kembali menerusakan bacaan yang sedang dibacanya. Seringkali orang yang dipanggil untuk masuk keruangan perawatan kembali datang dengan menangis sambil menelepon keluarganya yang lain dan mengabarkan bahwa pasien yang sedang dirawat telah meninggal dunia. Mendengar itu hati makin berdebar mambayangkan dirimu yang sedang menjalani perawatan. Begitulah seterusnya jika ada suara telepon berdering maka aku semakin cemas dan takut jangan-jangan telepon itu memanggilku dan memberitahu bahwa kau sudah meninggal. Karena begitu menakutkannya dering telepon tersebut sempat aku mempunyai julukan “lebay” untuk telepon tersebut yaitu telepon genta kematian.

Ternyata apa yang aku khawatirkan tidak menjadi kenyataan, dari hari ke hari keadaanmu menunjukan perbaikan. Setelah sebelas hari akhirnya aku bisa mendengarkan tangisanmu walaupun hanya terdengar seperti suara anak kucing yang kelaparan. Tapi tetap saja aku merasa gembira mendengarmu menangis karena tangisan itulah yang aku harap-harapkan terdengar dari mulutmu, seperti umumnya seorang bapak yang akan merasa senang mendengar tangisan pertama anaknya. Secara bertahap penggunaan ventilator dikurangi untuk melatih sistem pernafasanmu sendiri yang bekerja, juga karena ternyata semakin hari fungsi pernafasanmu juga semakin baik.

Pada hari kedua puluh kau dipindahkan keruang perawatan anak, hal ini membuatku sedikit lega karena akhirnya aku terbebas dari suasana diruang perawatan ICU yang sedikit menakutkan. Tentu saja tak ada lagi kecemasan saat mendengar suara telepon berdering di ruangan tunggu juga tak ada lagi suara ventilator yang nyaring mengiris hati. Hal lain yang membuatku lega adalah karena ibumu yang menunggu sejak seminggu kau masuk di ICU tidak lagi harus tidur dengan kadaan yang berdesak-desakan di ruang tunggu itu, diruangan perawatan anak sedikit lebih leluasa karena satu ruangan dihuni oleh dua orang pasien dan kami juga dapat menunggumu disamping tempat tidurmu suatu hal yang tidak bisa dilakukan di ICU. Disini perawatanmu lebih fokus kepada pemulihan, setelah hampir tiga minggu di ruangan ICU ditambah seminggu di ruangan perawatan anak akhirnya dokter pun mengijinkan kau pulang. Itulah jalan panjang-mu sesaat setelah lahir Nak!

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Gilang. Tandai permalink.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s