Puisi Seorang Teman

Puisi ini akang muat setelah mendapat ijin dari si empunya puisi yang adalah teman sebangku saat menempuh SMU dulu, makasih bos atas ijinnya!!!
KARYA : TONI LESMANA
Kasmaran

  1. ini bukan pertemuan atau perjamuan. tak ada lapar dan haus luput. huruf-huruf mengisi gelas dan kata-kata menggelepar di atas piring. tak ada rokok, kekasih. hanya sebuah nama terus kuhisap dan kuhembuskan. kau sering bertanya tentang nama tersebut. kukatakan aku menemukannya di sebuah persimpangan. tentunya kuharap itu namamu. “aku tak memiliki nama!” bisikmu sambil melukis bunga di bekas lukaku.

    ini bukan apa-apa. ini hanya hari pertama. kali pertama kau kecup kembali bibirku. hey, tak ada hasrat dan nafsu susut. kekasih, lantas apa yang membuatku kini gemetar dan ingin mengalir di setiap lekuk waktu. dari subuh menuju magrib. birahi deras di urat-urat, tulang dan dagingku. bukan api, kekasih.aku merasuk menuju pintu yang pelan-pelan kau buka, kau tersenyum, aku melihat rindu.

    ini bukan pertemuan atau perjamuan. bukan apa-apa. hanya persetubuhan. “ada perburuan di dalamnya!” kau menghambur menabuh tambur dalam debur.

  2. senyummu sekarang lain. atau aku memang aku tak pernah mengenalmu. lain sekali. rindumu juga lain. barangkali aku memang tak pernah memelukmu. selama ini aku ternyata hanya memimpikanmu. atau menggambarmu dari kabar daun-daun di kebun belakang, dari coretan ranting yang selalu kukira surat cinta padahal kecemburuan. baru kali ini benar-benar kukecup bibirmu. dan kurasakan mabuk. selama ini aku hanya pura-pura mabuk dan tersungkur.

    kau memang lain. tak kutemukan dimana-mana. hari ini kunyatakan cinta, setelah kuteguk cintamu tentunya.

  3. kunyatakan cinta karena aku benar-benar mencintaimu. namun aku belum tahu cara mencintaimu. “sebulan saja tak cukup, kau akan mabuk pada seluruh hidupmu!” begitu katamu. bukan. kali ini udara yang berkata. malah aku merasa akulah yang mengucapkannya setiap kali kau usap wajahku. bukan. tangankulah yang mengusap wajahmu. cinta memang dipenuhi suara-suara. suaraku dan suaramu. siang dan malam. pelan-pelan terus kueja nama. itu namamu. bukan. itu namamu, bisikmu halus. cinta memang memabukkan dan membingungkan.
  4. Magrib telah lewat. sejak senja kau mengajakku bertualang memburu subuh. ini malam pertama.” ini perjalanan sesungguhnya,” lagi-lagi suara itu, “siang kau menyatakan cinta dan malam kau merayakan cinta.”


Mabuk

  1. memandangmu pagi hari, di antara kicau burung dan kepak sayap, diam-diam kau mengirim kata-kata. selintas tatapmu itu meledak dalam dada. sebuah jalan nampak terbuka. memanjang ke arah matahari. laut berlompatan di udara. bunga-bunga membakar diri. pohon-pohon melontar ombak dari setiap daun. dan matamu itu terdapat dimana-mana. tatapmu itu berlayar ke seluruh urat. darah dan gairah. berpacu dalam tubuh. o, kuasailah tubuhku. merasuklah terus. pagi masih bening. kicau burung dan kepak sayap masih segar. diam-diam kau masih mengirim kata, dan aku terhuyung menangkap yang selintas.
  2. tak ada yang cukup sebelum tersungkur, mencium hidup dan maut dalam sekecup bibir. bibirmu. dalam bibirmu terkandung matahari dan hujan. musim menyulingnya menjelma minuman keras paling abadi. tak habis direguk malah lebur sang pemabuk menjadi nyanyian yang menyiram bumi dan tarian yang memanggil langit. ah, sekecup bibir dan pemabuk menanggalkan segalanya, tubuh dan kesadaran, ia hanya ingin menjadi mabuk.

Cemburu

  1. senja lagi. belum lama aku kasmaran. puluhan jam yang likat. lekas sekali aku larut dan telanjang. lekas pula kau menghapus bekas dan sembunyi dari birahi. tak jauh kau bermain, namun kering kurasakan seluruh uratku. kucari bayangmu di dinding-dinding kota, jalanan dan kemacetan, gang-gang yang seringkali melumat namamu dari mulutku. begitu cepat kau menghilang. ada jejak lambaianmu di lampu merah, jejak elusanmu di kepala para pengamen, juga bisikanmu di telinga pengemis tua. aku cemburu! teriakku. tapi kembali kudengar suaramu mengulang suaraku. bergema dan mengugurkan beragam kenangan tentang aku yang masih saja menggilai curiga.
  2. aku memanggilmu dari dalam kamar sambil membakar seluruh buku keangkuhan. sebentar lagi magrib. aku begitu kehilanganmu.

Rindu

  1. subuh menyanyikan sebuah lagu. luruh. benarkah kau bernyanyi. bernyanyi untukku.
  2. ini seperti mimpi. tak kusangka lagu itu mengikuti diamku sepanjang hari. bersembunyi dalam detik dan menyelinap pada detak. kadang menempel di dinding, kadang merasuk di jantung. antara dinding dan jantung aku melihat sayap yang lahir mungil. barangkali lagu itu memang menyiram sayap itu. menjadi dua. empat.enam. delapan. semakin mengepak semakin banyak dan membesar. pada setiap sayap terpahat kata-kata di tulang-tulang bulu yang gemerlap itu. kata-kata itu seperti tenaga yang mengikuti irama lagu. mengerakkan sayap. sayap-sayap yang tak terhitung. sayap-sayap yang pelan mengarah ke arah punggungku. tapi punggungku tak cukup menampung sayap-sayap. berlarilah aku ke gunung. ke laut. pada pohonan dan satwa. tak ada punggung yang sanggup menampung sayap yang digerakkan lagu dan kata-kata itu. yang mengembang, yang mengepak antara detik dan detak. “Bukalah dadamu.” sayap-sayap saling berteriak. mereka tak meminta tubuh. mereka tak terbendung memasuki seluruh pintu dalam tubuh.
  3. ini bukan mimpi. aku terbangun. lagi-lagi senja menawarkan perjalanan baru. tanpa menunggu jawaban melukis seluruh sayap dengan mata emasnya. segalanya resap. senja pun bernyanyi. mengulang nyanyian subuh. benarkah kau yang bernyanyi. bernyanyi untukku.

Rahasia

  1. “aku tak pernah kehilanganmu!” angin tiba-tiba mengalun. ketika malam singgah dan mendung beringsut. aku seperti disergap kembali. bergetar dan tak dapat berdiri. dunia seperti menampakkan wajah yang lain. sungguhkah kau tak pernah kehilanganku, aku benar-benar milikmu. angin hanya sekejap mengirim gempa. kembali dingin dan hanya hembus.
  2. tapi angin seperti menyiram sesuatu yang selalu mekar dan layu.

Debar

  1. seperti rasa sakit yang tiba-tiba menyerang. panas dan keringat. begitu pula debar menyergap. tak ada tempat untuk berlindung atau sembunyi. tiba-tiba saja menguasai dada. suara bedug, petasan, dan bom yang meledak. seperti rasa sakit yang sekejap merambah dunia.
  2. setelah kenikmatan segera kecemasan membangun jembatan-jembatan menuju daerah yang remang. menuju rumah di belakang bayang. menuju pintu, menuju lubang kunci. lubang kunci kesunyian.
  3. di teras rumah. kenapa begitu banyak yang mengintai dari setiap gang yang hening. seorang kakek tua menunggu di sebuah pintu. seorang pemuda lewat dengan tergesa. ah, seperti itukah maut. ada yang menunggu. ada yang menjemput. mereka memandangku. tajam. matamu.

Perjalanan

  1. meninggalkan sebuah kota. adalah tumbuhnya kehampaan. ini musim yang panas. siang menegaskannya di jalanan. pada bendera yang dijajakan sepanjang trotoar, parfum yang disemprotkan seorang pemuda di ketiaknya, kemacetan yang nampak jelas di setiap kepala orang-orang. aku tersesat dan tak mampu mengingat di tempat mana mesti ku cari angkutan. ah,bendera memang terjaja dimana-mana. seperti petasan. ya. seperti petasan. bendera dan petasan memenuhi kepalaku. berkibar dan meledak. seperti dirimu yang kubaca jauh di luar diriku. kau seperti barang obral yang diteriakan di jalan raya, di lapangan sepakbola, di depan kantor pemerintah, di dalam sebuah diskotik yang hancur, juga pada pertempuran di halaman rumahmu. kau pun berkibaran, dikibarkan siang malam dengan kemarahan. dan meledak dimana-mana.

    meninggalkan sebuah kota. bukan meninggalkanmu. tapi mengenal lebih banyak lagi wajahmu dalam kehidupan. dalam perjalanan yang tak pernah kutahu dimana berakhirnya. nama kota kini hanya samar saja. aku begitu menikmati tersesat. semakin tersesat semakin jelita wajahmu dimana-mana.

  2. terminal seperti hendak terbakar. barangkali memang nama-nama kota telah terbakar. dibakar puasa. aku berteduh dan menunggu, sambil kugambar garis wajahmu di garis tanganku yang berkeringat. di bangku menggambar garis wajahmu dari garis seluruh wajah penghuni terminal. garis-garis letih yang menyimpan api. api yang segera saja membakar diriku. api yang terus membakar diriku.membakar terminal. membakar nama-nama kota. membakar perjalanan. membakar jarak.

    “ada yang kutitipkan di kota ini!” bisikku. ada yang kutitipkan, seperti pada kata. seperti pada cintamu.

Jarak

  1. dalam debar terdapat perjalanan, terdapat jarak. jalan lurus. tikungan-tikungan. kota-kota bertabrakan. bukit-bukit berlari. segalanya seperti tumpah. menjelma jejak yang kelak diziarahi, seperti mencari bekas ciuman kekasih. jarak selalu menciptakan hal yang tak terduga, layaknya gairah dari sebuah rakaat ke rakaat yang lain.dan tikungan-tikungan selalu gaduh oleh maut.

  2. apa yang berkelebat di rumah-rumah. mengintip di tiang listrik. bahkan pada kaca spion. kilometer terus menghitung kenangan. namun dalam dada jarak tak pernah dapat diukur oleh kemurungan ataupun keriangan. ini adalah jembatan antara awal dan akhir. jarak adalah sajak yang harus ditempuh menujumu. barangkali itu sebab dunia diciptakan.
  3. aku melihat sepasang alis menari di langit. dan seekor burung tersesat di antaranya.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Puisi dan tag . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Puisi Seorang Teman

  1. yesika berkata:

    cari yg lbih bgus lgi

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s