Nasionalisme Penuh Tanya

Dari tadi pagi akang ingin sekali membuat postingan tentang NASIONALISME, mengingat hari ini bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-66. Di dashboard wordpress pun yang menjadi top posting hari ini adalah postingan tentang Naskah Proklamasi. Akang sungguh kagum membacanya karena penulis mampu menyajikan tulisan yeng penuh idealisme dan yang paling menarik adalah judul yang mengundang kontroversi. Tentu saja sekarang akang bukan ingin membahas tentang blog tersebut disini.
Sampai malam hari keinginan untuk menulis tetap menggelora namun sayang beberapa kali akang membuka komputer tetap saja tidak ada ide yang muncul. Akhirnya akang hanya blogwalking saja mencari-cari tulisan orang lain yang bisa memberi ide segar. Benar saja, setelah melihat blog negeri bocah akang merasa tertantang untuk menulis karena blog yang begitu muda usianya tampak sangat menarik untuk diikuti. Saat melihat isinya terus terang akang merasa malu karena ternyata pemilik blog tersebut begitu produktif dalam hal menulis sementara akang yang mulai membuat akun blog hampir setahun lamanya begitu sulit untuk menghasilkan walau hanya sebuah tulisan.
Eeeeh koq akang jadi ngelantur nih tulisannya, kan awalnya mau menulis tentang nasionalisme bukan tentang ngeblog.
Semangat memperingati hari kemerdekaan tahun ini memang tidak begitu semarak, entah karena bersamaan dengan bulan romadhon atau memang rasa nasionalisme masyarakat yang kian menurun. Kalau mau “menyalahkan” bulan romadhon sebagai biang keladi redupnya semangat menyambut kemerdekaan akang pikir tidek benar. Sepengetahuan akang tanggal 17 Agustus dimasa 66 tahun lalu bertepatan dengan bulan romadhon sehingga ini menjadi sebuah fakta bahwa semangat romadhon justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lahirnya negara ini dengan Proklamasi-nya. Namun kalau mau menyalahkan masyarakat terutama kelas bawah adalah suatu sikap yang naif, tidak adanya bendera yang berkibar didepan rumah bukanlah tanda hilangnya nasionalisme dihati mereka. Mungkin nasionalisme bagi mereka akan hadir disaat harga sembako bisa dijangkau oleh kantong mereka, nasionalisme mereka tampak dengan keringat-keringat yang bercucur mengais remah-remah pembangunan tanpa harus merugikan orang lain. Nasionalisme mereka bukanlah pin merah putih yang terpasang gagah di baju safari hasil korupsi, bukan pula ritual pengibaran bendera yang dipenuhi peserta yang hadir karena takut ditegur atasan.
Akang sendiri tidak mengibarkan bendera merah putih di depan rumah karena memang entah kenapa sampai saat ini akang belum punya sehelai pun bendera merah putih. Kalau akang ditanya tentang nasionalisme maka jawaban akang adalah beribu pertanyaan. Nasionalisme akang terusik jika melihat slip gaji yang telah dipotong pajak, atau struk belanjaan yang mencantumkan ppn 10%,juga berita tentang koruptor yang mendapatkan potongan masa tahanan (bukannya potong tangan atau potong leher). Nasionalisme akang penuh tanya, dimana ada lembaga pemerintah yang menangani Anak Berkebutuhan Khusus dengan baik, mengapa tidak ada keringanan pajak untuk orang-orang yang mempunyai anggota keluarga berkebutuhan khusus atau cacat, apa yang telah dilakukan pemerintah untuk membantu orang-orang seperti akang, mengapa masih harus ada orang yang melakukan “penggalangan dana” jika tertimpa suatu penyakit aneh bin ajaib. Haruskah akang terus bertanya????????
Dirgahayu Indonesia……..M E R D E K A!!!!!!!

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan, Cerita Gilang dan tag , , . Tandai permalink.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s