Yang Tertinggal Dari Reformasi 1998


…terkadang perjalanan takdir berlari menuju kearah yang tak terduga…..
Menjelang lebaran nanti acara beres-beres rumah menjadi kegiatan rutin di rumah akang. Walaupun akang seorang perantau dan jarang sekali ber-lebaran dirumah tetapi akang ingin saat lebaran rumah terlihat bersih dan rapih. Saat itulah akang melihat tumpukan foto-foto yang berantakan, sambil dirapihkan akang melihat-lihat foto-foto tersebut, pada mulanya hanya melihat sekilas sambil tersenyum sendiri melihat foto-foto tersebut. Tanpa terasa pikiran akang mulai melesat menembus batas waktu, melayang beredar diantara dimensi waktu yang terkubur kesibukan hari-hari, acara beres-beres pun akhirnya terhenti dengan sendirinya.
Ditangan akang kini hadir sebuah foto tugu batu di komplek Gedung Pemprov Jawa Barat yang lebih dikenal dengan sebutan Gedung Sate. Tahun 1998 adalah tahun yang tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa ini sebagai tahun berakhirnya satu era pemerintahan yang disebut Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden RI kedua yaitu SOEHARTO. Saat itulah gerakan mahasiswa untuk menjatuhkan Presiden Soeharto sedang berlangsung.
Sebagai seorang mahasiswa tentu saja akang tidak mau ketinggalan berpartisipasi dalam gerakan mahasiswa seantero negeri ini dalam memperjuangkan keadilan bagi rakyat. Walaupun partisipasi akang hanya sebagai demonstran atau partisipan tetap saja akang punya keinginan didalam hati jika suatu saat akang ditanya oleh anak cucu tentang reformasi tahun 1998 akang bisa bercerita dengan penuh kebanggaan dan bisa “narsis dot com” he he. Berbekal kamera foto untuk urusan dokumentasi hampir setiap hari akang dan rekan mahasiswa lain mendatangi gedung sate pada saat itu. Masih teringat semangat akang dalam menghujat tokoh nomor satu di Indonesia pada waktu itu, seolah segala bentuk korupsi-kolusi-nepotisme yang terjadi saat itu bersumber darinya. Kekuasaan sang tokoh pun berakhir pada 21 mei 1998 dengan menghadirkan banyak tragedi dan membawa banyak korban jiwa dan materi yang cukup besar. Walau hingga akhir hayatnya sang tokoh tidak pernah tersentuh sedikitpun oleh proses hukum yang banyak dituduhkan kepadanya.
Dimensi waktu melompat ke 27 januari 2008
Hari ini akang bertugas seperti biasa, minggu-minggu terakhir ini akang dan rekan satu unit bahkan seluruh pekerja di RSPP bekerja dengan penuh tekanan, hal ini disebabkan karena tokoh Orba nomor satu sedang dirawat di RSPP. Walaupun beberapa kali tokoh yang biasa disebut dengan Pak Harto ini dirawat di RSPP entah kenapa banyak diantara kami yang bertugas mempunyai firasat bahwa kali ini mungkin yang terakhir. Sebagai salah seorang petugas laboratorium klinik akang bertugas memeriksa kondisi klinis Pak Harto melalui pemeriksaan laboratorium.
Dari sejak pagi hari akang menerima sampel darah Pak Harto untuk kemudian segera diperiksa dan sebagian pemeriksaan dilakukan di tempat lain. Dalam tuntutan yang begitu tinggi agar akang dan rekan bisa memberikan hasil secepat-cepatnya namun tanpa mengurangi keakurat-an pemeriksaan berkali-kali dering telepon berbunyi untuk menanyakan hasil pemeriksaan. Setelah hasil pemeriksaan akang dapat dari alat masih ada prosedur yang harus dilalui yaitu konsultasi hasil laboratorium kepada dokter lab atasan akang. Hasil yang telah mendapat kontrol beberapa lapis tersebut langsung akang laporkan kepada petugas di ruangan perawatan Pak Harto. Pada hari itu hasil pemeriksaan laboratorium Pak Harto sangat buruk padahal sehari sebelumnya sempat menunjukan perbaikan sehingga tidak ada dokter lab yang stand by di tempat karena hari itu hari libur. Jam 11 siang hasil pemeriksaan hematologi menunjukan hasil yang menghawatirkan sehingga dokter lab datang untuk melakukan pemeriksaan preparat apus. Tidak lama kemudian datang lagi sampel darah yang kali ini untuk pemeriksaan Analisa Gas Darah, sama seperti hasil hematologi hasil analisa gas darah pun menghawatirkan. Pada saat itulah sekitar jam 13:05 akang melaporkan hasil keruangan perawatan Pak Harto diterima oleh Mbak Latifah yang bertugas disana, dengan suara yang sedikit parau Mbak Latifah mengabarkan bahwa Pak Harto telah meninggal.
Akang langsung kaget mendengar berita tersebut walaupun telah punya firasat akan kejadian ini. Ada sedikit rasa lega karena terbayang tekanan kerja yang berat selama beberapa minggu belakangan ini telah berakhir, namun tetap saja hal ini tidak menghilangkan rasa kesedihan akang. Setelah beberapa minggu terakhir akang terlibat dalam usaha pemulihan Pak Harto dalam bidang pemeriksaan laboratorium untuk memudahkan para dokter mengambil keputusan terbaik untuk mengobati Pak Harto ternyata berakhir dengan kematian Pak Harto. Pikiran akang langsung teringat kembali pada masa reformasi tahun 1998,saat akang menghujat habis-habisan Pak Harto dengan mengatas-namakan reformasi. Namun perjalanan takdir telah membawa akang untuk terlibat walaupun tidak secara langsung dalam saat-saat kepergian Pak Harto.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s