Belajar Hidup Di Pasar Tradisional


Tadi pagi akang mengantar istri belanja sedikit keperluan ke pasar tradisional ciseeng. Akang sekeluarga memang sudah mudik ke rumah mertua di ciseeng, walaupun dekat dari sawangan tetap saja akang sekeluarga sudah tidak betah tinggal di komplek karena kebanyakan penghuni komplek sudah mudik. Pada hari-hari biasa pasar buka pada hari selasa, kamis, sabtu dan minggu, namun seminggu menjelang lebaran ini setiap hari pasar buka. Suasana pasar cukup ramai pagi ini, orang-orang yang datang terlihat berwajah sumringah, anak-anak kecil begitu mudah dibujuk untuk tidak membatalkan puasanya karena mereka tahu akan dibelikan baju baru untuk lebaran. Pasar ciseeng termasuk pasar kecil komunal dimana orang yang datang berasal dari daerah sekitar, kebanyakan saling mengetahui satu sama lain sehingga seuasana dipasar menjadi lebih “cair”. Aktifias jual beli dipenuhi tawar menawar harga diselingi obrolan ngalor-ngidul diantara mereka. Jalanan pasar yang becek dan udara cukup pengap tidak menghilangkan minat mereka untuk berbelanja segala keperluan.
Akang tahu bahwa kebanyakan dari pembeli bukanlah masyarakat dari golongan kaya namun keceriaan mereka jelas terlihat menyambut lebaran ini. Kios baju-baju anak adalah salah satu kios yang paling banyak dikerumuni pembeli. Ternyata hal tersebut disebabkan karena keterbatasan uang. Banyak orang tua yang rela tidak membeli baju lebaran asalkan anak mereka bisa membelinya walaupun hanya satu stel kaos dan celana yang harganya tidak lebih dari 50 ribu. Diluar pasar bapak-bapak yang mengantarkan menunggu diatas motornya masing-masing. Kebanyakan tidak mau menyimpan motornya ditempat parkir yang telah disediakan, mungkin bagi mereka uang seribu masih lebih baik dibelikan untuk hal lain.
Satu hal yang akang cukup kagum dengan suasana di sini adalah tidak terlihatnya kaum lelaki yang terlihat merokok atau makan di tempat jualan makanan. Akang sangat yakin diantara sekian banyak orang terutama laki-laki ada yang tidak berpuasa namun mereka yang tidak berpuasa tetap mempunyai rasa malu untuk tidak mengumbar “dosa” mereka didepan orang banyak. Jadilah suasana menyambut lebaran benar-benar terasa dengan tidak terlihatnya orang-orang yang batal puasa.
Gambaran diatas jelas berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan keadaan di mal-mal yang ada dikota besar. Saat berbelanja keperluan dapur baik berupa sayuran atau buah-buahan tidak terdengar orang melakukan tawar menawar. Keramaian di dalam supermaket atau swalayan pada kenyataannya lebih “sepi” daripada sebuah ruangan tempat ujian akhir nasional. Dingin yang berasal dari AC menambah kebekuan wajah-wajah pembeli yang terpaku pada gadget-nya masing2. Tak jauh dibagian depan swalayan banyak orang-orang yang merokok dan makan dengan tanpa malu-malu, jelaslah tidak ada perbedaan bulan puasa dan bulan lainnya disana. Pada akhirnya kemeriahan suasana menyambut lebaran hanya menggantung pada hiasan warna-warni yang membentuk tulisan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. Entah batin siapa yang berucap karena orang-orang sepertinya telah kehilangan batin-nya. Sementara di kampung-kampung nun jauh disana, walaupun lebaran tanpa kemewahan LAHIR masih banyak ditemui lebaran yang penuh kekayaan BATIN.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Belajar Hidup Di Pasar Tradisional

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s