Makna Mudik Bagi Seorang Anak Kampung

“…tak akan ada jawaban yang sama dari setiap orang tentang makna mudik…”
Mudik telah menjadi rutinitas akang setiap lebaran, walaupun sering kali baru bisa mudik seminggu setelah lebaran usai. Seperti kebanyakan orang di negeri ini yang biasa melakukan ritual perjalanan mudik di hari raya Idul Fitri setiap tahunnya. Entah sejak kapan fenomena mudik menjelang lebaran di negeri ini berlangsung yang pasti pada saat ini mudik bisa merepotkan presiden, menteri-menteri, DPR dll. Urusan transportasi setiap tahun selalu menghadapi masalah yang sama seakan kementerian perhubungan tidak pernah mempunyai solusi yang jitu untuk mengatasinya. Begitu pun menteri-menteri bidang perekonomian dibuat kelimpungan mengurusi pasokan bahan bakar yang sering mendadak hilang di pasaran. Para pengusaha sangat kerepotan menyiapkan THR bagi karyawannya yang tak akan segan melakukan demo jika THR telat dibagikan saat menjelang mudik. Bahkan banyak ibu rumah tangga yang harus rela menggadaikan barang berharga yang dimilikinya hanya untuk sekedar mencukupi ongkos untuk mudik. Begitulah seolah mudik lebaran menjadi hajatan seluruh penduduk negeri ini. Semua kemampuan yang ada diupayakan untuk bisa melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman. Perumpamaan mudik seolah perjalanan ikan-ikan salmon menuju tempat pembiakan di hulu sungai yang harus ditempuh dengan melawan arus dan hadangan beruang lapar yang setiap saat bisa mengancam jiwa. Bukankah tidak sedikit pemudik yang harus meregang nyawa selama melakukan perjalanan mudik baik didarat atau pun dilaut.
Alasan kebanyakan orang melakukan perjalanan mudik tentu saja agar bisa bersilaturahim dengan keluarga yang ada di kampung halaman. Bagi akang sendiri mudik bisa berarti banyak. Bagi Gilar (anak akang ke-2) yang baru berusia 2.5 bulan mudik tahun ini adalah mudik yang pertama. Kepulangannya ke kampung halaman akang seolah pertemuan darah dan udara. Bagaimanapun darah yang mengalir padanya adalah berasal dari akang yang saat kecil tinggal di kampung. Air yang diminum, udara yang dihirup dan makanan yang dimakan oleh akang berasal dari hasil bumi yang berada di kampung. Tidak lengkap rasanya jika darah yang mengalir dalam tubuh Gilar belum bertemu dengan udara yang sama yang dahulu akang hirup di kampung saat kecil. Begitulah arti mudik (versi lebay) yang akang rasakan tahun ini.
Makna lain yang dapat akang rasakan dari kebiasaan mudik adalah mengingatkan kembali tentang asal muasal keberadaan diri. Sejauh apapun akang meninggalkan kampung tetap saja akang adalah orang kampung yang dahulu biasa menjemur padi di pinggir jalan. Tetap saja akang adalah orang yang dahulu biasa bermain dipinggiran hutan yang kemana-mana selalu membawa sebilah pisau untuk sekedar mengupas buah-buahan atau membuat mainan. Beragam makna yang berbeda tentang mudik membuat akang bisa mengerti atau memahami kenapa kebanyakan pendatang di kota-kota besar selalu menjadikan mudik sebagai suatu ritual yang harus dilakukan setiap lebaran.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s