Pengemis Gajinya 18 Juta Sebulan


(Sumber gambar: news-bangladesh.com)

“…kalau pengemis pendapatannya 18 juta sebulan, lalu pendapatan tukang ojek berapa?…”
Pertanyaan tersebut sangat pantas diajukan dengan pikiran logika lurus. Pengemis dimanapun di dunia ini selalu berada di strata terbawah kelompok masyarakat. Pertanyaan tersebut juga pantas diajukan dinegara yang berjalan sesuai logika lurus. Lalu bagaimana jadinya pertanyaan tersebut diajukan dinegara Indonesia tercinta ini?. Hari kemarin akang membaca koran Warta Kota, betapa kaget akang membaca headline berjudul Pendapatan Ngemis 18 Juta Sebulan. Beragam komentar dari teman sekantor yang mencuat ada yang bilang “kalau begitu mending kita ngemis aja”, “kalau berita ini diketahui semua warga jangan2 mulai hari ini tak ada lagi yang mau memberi uang kepada pengemis” dan berbagai komentar lainnya menghiasi perbincangan di kantor hari kemarin. Memang skenario liar bisa saja terjadi, bisa jadi di Jakarta ini tak akan ada lagi tukang ojek yang mangkal untuk mengantar para penumpang yang membutuhkan jasanya karena semua tukang ojek beralih profesi menjadi pengemis. Efek lain dari berita tersebut adalah semakin banyaknya manusia yang ingin pindah ke ibu kota Jakarta, apalagi sekarang musim pasca lebaran dimana orang-orang yang pulang kampung seringkali membawa sanak saudaranya untuk mengadu nasib di Jakarta.
Entahlah fenomena yang sama terjadi di negara lain atau tidak akang tidak tahu. Yang pasti Indonesia kita ini memang banyak hal yang unik yang bisa diperbincangkan. Bagi pengemis yang pendapatannya sebesar 18 juta sebulan mungkin kata “MALU” tak akan pernah mampir dibenaknya. Tetapi memang tak heran sih, kalau akang atau kebanyakan diantara kita ditawari pekerjaan dengan jaminan gaji sebesar itu mungkin segala resiko akan akang hadapi termasuk membuang rasa malu.
Kisah yang jauh berbeda akang temui manakala membaca kisah para sahabat Rosululloh SAW. Seseorang yang sesulit apapun keadaan hidupnya tidak akan rela menengadahkan tangannya untuk meminta-minta. Seorang Andurrahman bin ‘Auf lebih meminta ditunjukkan jalan ke pasar daripada menerima begitu saja harta pemberian kawannya dari kaum Anshor. Nabi SAW pernah menyuruh seorang pemuda untuk mengumpulkan kayu bakar untuk dijual dan hasilnya digunakan untuk melamar seorang wanita. Mungkin saat itu hanya nyawa yang bisa menandingi harga sebuah rasa malu.
Ada cerita yang terkenal dikalangan bangsa Arab, seorang raja telah kehilangan putranya karena diculik oleh sekelompok penculik. Sang Raja kemudian membuat sayembara yang ditujukan kepada masyarakat luas. Jika pada hari itu putranya dikembalikan maka raja akan memberi imbalan 1000 dinar kepada siapa saja yang bisa mengembalikan putranya. Tetapi pada hari itu tak satupun orang yang bisa mengembalikan putranya. Keesokan harinya raja kembali membuat sayembara yang sama tetapi dengan imbalan 500 dinar, begitu juga keesokan harinya nilai imbalan semakin berkurang. Ketika sang raja ditanya mengapa nilai imbalan semakin hari semakin berkurang maka sang raja menjawab: “pada hari pertama putraku pasti tidak sudi memakan makanan yang diberikan oleh penculik sehingga kehormatannya masih suci, namun keesokan harinya pasti putraku merasa haus dan mau minum sedikit air yang diberikan, pada hari ketiga putraku pasti merasa lapar dan sedikit demi sedikit mau memakan makanan yang diberikan penculik sehingga kehormatannya semakin berkurang, begitulah aku menghargai kehormatan keluargaku”.
Semoga tulisan diatas bisa jadi pencerahan buat kita semua sehingga masih bisa menjaga kehormatan diri dan keluarga dengan mencari nafkah sekuat tenaga tanpa melupakan nilai halal-haramnya.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s