Pancasila Masihkah Sakti?

“…mantra Pancasila kini tak ampuh lagi dihadapan mantra para koruptor dan maling…”
Pemberitaan peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati tanggal 1 Oktober tahun ini masih kalah gaung dengan pemberitaan maraknya kasus korupsi. Sungguh sesuatu yang tragis sesuatu yang dianggap sakti bisa dikalahkan oleh hal lain. Saat masih kecil akang adalah penyuka komik wiro sableng karangan Bastian Tito, nama-nama seperti Sinto Gendeng, kapak naga geni 212, pendekar Dewa Tidur, jurus sembilan langkah ajaib bukan hal yang asing bagi akang. Bayangan orang sakti di benak akang sungguh menakjubkan. Tak akan ada siapapun atau apapun yang mampu melawan orang yang mempunyai kesaktian tingkat tinggi. Sehingga dengan kesaktian yang dimiliki oleh orang yang baik (dalam hal ini pendekar yang berkode angka 2-1-2)maka akan tercipta kedamaian di muka bumi ini. Hal yang sama juga akang harapkan dari Pancasila, kesaktiannya bisa mewujudkan masyarakat yang adil makmur gemah ripah loh jinawi. Dengan kesaktiannya diharapkan bangsa kita dipimpin oleh orang-orang yang menganggap jabatan sebagai amanah dan bukannya sebagai kesempatan untuk mengeruk harta rakyat untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan golongannya. Para pelaksana pemerintahan menyadari tugasnya sebagai pelayan bagi masyarakat dan bukannya menjadikan masyarakat sebagai sapi perahan jika sedang membutuhkan layanan. Rakyat kecil menjadi rakyat yang pantang menyerah dan suka bekerja keras, saling menghargai dan bukannya mudah diadu-domba.
Tetapi harapan yang membumbung tinggi itu nampaknya benar-benar lepas ke langit tanpa bisa kita raih. Kesaktian Pancasila tidak bisa meluluhkan hati para pemimpin negeri yang suka lupa jika ada kesempatan untuk melakukan korupsi. Bahkan korupsi yang terjadi dilakukan dari mulai hulu hingga hilir, coba saja bayangkan suatu proyek pembangunan bisa di korupsi bahkan sejak proyeknya masih direncanakan di Badan Anggaran DPR (itu menurut media masa lho). Kesaktian Pancasila juga tidak bisa merubah kebudayaan para karyawan negara yang terkenal dengan kinerja-nya yang sangat rendah. Masuk kerja telat sudah biasa, saat istirahat menyempatkan diri keluar untuk sekedar belanja untuk keperluan makan sore dirumah sudah menjadi kegiatan rutin sehari-hari, mempersiapkan diri untuk pulang satu jam sebelum melakukan absen pulang karena kerjaan sudah selesai (atau memang ngga ada kerjaan). Bolos saat “hari kejepit nasional” nggak masalah karena dilakukan berjamaah jadi kalau dipecat semua pasti kantor jadi kolaps. Perjalanan dinas bodong juga lancar2 aja karena diketahui oleh pimpinan.
Padahal seingat akang bangsa ini keluar dari zaman Orba hanya 13 tahun yang lalu jadi yang mendominasi pemerintahan saat ini sebagian besar masih mengetahui dan merasakan apa itu Penataran P4. Yaa suatu ritual indoktrinasi yang sangat populer saat orde baru yang berlaku pada hampir seluruh lapisan masyarakat. Mengingat hal itu akang jadi sadar ternyata era pemerintahan Pak Harto telah berhasil memasung bukan hanya demokrasi tetapi juga hasrat melakukan KKN dikalangan penyelenggara pemerintahan saat itu. Buktinya saat era reformasi hasrat melakukan KKN malah tumbuh subur disemua tingkat pemerintahan dari pusat sampai daerah, dari eksekutif, legislatif dan yudikatif. Mantra-mantra sakti Pancasila kini tidak ampuh lagi menahan mantra-mantra dari mulut-mulut koruptor yang lihai bersilat lidah menghindari jerat hukum. Mungkin saat ini lebih pantas mengatakan Hari Kesakitan Pancasila.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s