Satu Dari Seribu Cerita Telepon Umum Koin


Sumber gambar : mediaindonesia.com
Telepon umum koin sekarang hampir bisa dikatakan sudah ketinggalan jaman. Bayangkan saja selain jumlahnya sudah sangat jarang sekali begitu ketemu kita diharuskan mempersiapkan uang koin, tahu sendiri kan yang namanya uang koin di jaman sekarang sudah kurang laku. Keponakan akang lebih memilih satu lembar uang kertas dua ribu rupiah daripada 50 koin seratus rupiah-an. Padahal beribu kisah unik yang pernah dialami mungkin oleh ribuan orang di negeri ini dengan adanya telepon umum koin. Karena hal inilah akang ingin meninggalkan catatan kisah yang berkaitan dengan telepon umum koin sebelum telepon koin benar-benar hilang dari muka bumi Indonesia ini.
Pada akhir tahun 90-an akang yang orang kampung asli mulai bersekolah di kota kecil yang bernama kota Sumedang. Kota yang disebut oleh Doel Sumbang sebagai kota leutik campernik (maksudnya kecil tapi menarik) dimata akang pada waktu itu sangat terasa mencengangkan. Kendaraan yang lalu-lalang begitu ramai dan hari pun terasa lebih panjang karena kalau di kampung akang hari berakhir manakala terdengar kumandang suara adzan maghrib. Pada waktu itu gaya berpacaran anak sekolahan sangat berbeda dengan apa yang kita lihat di sinetron2 yang tayang striping di televisi2 saat ini. Tak ada acara malam mingguan dengan wakuncar ke rumah pacar apalagi buat seorang pelajar hal itu sama saja dengan mendatangi kandang macan karena pasti diusir oleh sang bokap-nya doi. Masih beruntung jika sang pacar punya telepon dirumahnya maka akan lain lagi cerita malam mingguan yang terjadi. Kisah akang dan beberapa teman jika malam minggu menjelang maka kami janjian untuk melancong ke “kota” tentu saja karena di kampung kami belum ada telepon umum. Di kota sekecil Sumedang bukan hal yang gampang mencari telepon umum koin yang jumlahnya memang agak terbatas sehingga diperlukan strategi untuk bisa mojok dengan doi lewat telepon berlama-lama. Kami menentukan target telepon umum yang akan kami gunakan masing2, biasanya yang menjadi sasaran adalah telepon umum yang berada didalam lingkungan sekolah atau perkantoran karena kalau memilih telepon umum yang ada dipinggir jalan dijamin nggak tenang karena banyak yang ngantri. Dengan menaiki roda dua yang kami naiki bertiga bahkan kadang ber-empat kami berangkat ke kota sumedang dengan penuh harapan acara mojok bisa berjalan lancar, dengan tak lupa uang receh dikantong sebagai amunisi berlangsungnya acara malam mingguan. Tetapi harapan yang melambung tinggi sering tidak berjalan sesuai rencana, banyak kendala yang kami temui seperti telepon umum yang sudah kita tandai ternyata sudah diduduki duluan oleh orang lain sehingga dengan terpaksa harus mencari telepon umum lain. Sudah menjadi peraturan tidak tertulis bahwa jika keduluan maka yang belakangan harus langsung menyingkir karena mustahil untuk menunggu orang yang sedang mojok di telepon umum sambil menelepon pacarnya. Kendala lain adalah jika sedang asik-asiknya ngobrol ditelepon tiba-tiba saja diusir satpam penjaga yang galaknya minta ampun tetapi kendala seperti ini biasanya mudah diatasi dengan sedikit sogokan (terpaksa biarpun tekor). Jika berhasil mendapatkan lapak untuk menelepon bukan berarti hambatan telah hilang, serangan nyamuk yang tak pernah tahu rasanya pacaran menjadi bumbu yang menjengkelkan disela-sela obrolan. Tentu saja semua hambatan itu akan hilang manakala mendengar suara doi diseberang sana dan obrolan pun bisa berlangsung berjam-jam sampai habis koin. Perasaanpun begitu senang sampai dirumah hingga tidur pulas biarpun kulit penuh bercak karena gigitan nyamuk.
Begitulah kisah usang yang mungkin takan terulang di masa yang akan datang karena perkembangan teknologi sangat mempengaruhi kebiasaan manusia. Dimulai dengan hadirnya telepon umum yang tidak memakai koin tetapi memakai kartu elektronik yang berisi pulsa yang sudah ditentukan sehingga kita tidak perlu repot-repot berbekal uang receh. Hingga saat ini hampir semua orang telah memiliki telepon genggam sehingga tak perlu ada perasaan takut terganggu saat menelepon seseorang. Kisah ini mungkin hanya satu kisah dari ribuan kisah yang dialami banyak orang yang pernah begitu terikat dengan benda yang bernama telepon umum koin. Tiap jaman punya kisah sendiri begitupun pelakunya yang terus berganti.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Satu Dari Seribu Cerita Telepon Umum Koin

  1. Andri Cieunteung berkata:

    Perjuangan cinta kang

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s