Kabar Dari Tanah Trans

“…Nini tos ngantunkeun nembe tabuh satengah sapuluh (nenek telah meninggal barusan jam setengah sepuluh…”
Berita yang diterima tanggal 22 oktober pukul 22.00 itu sangat mengagetkan bagi akang, baru dua hari yang lalu kami menerima kabar dari keluarga di singkut (jambi) tentang nini yang sakit parah dan terus memanggil-manggil ayah akang. Sebagai anak paling besar ayah adalah sosok yang sangat diinginkan kehadirannya oleh nini namun apa daya sebelum ayah berangkat menemuinya nini telah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa. Keterlambatan ayah berangkat ke jambi karena masalah kesehatan yang akhir-akhir ini mengganggunya sehingga sebelum berangkat ayah memeriksakan diri ke dokter untuk sekalian mempersiapkan bekal obat-obatan. Bagi keluarga akang menggunakan kapal udara bukanlah suatu pilihan karena biaya yang begitu tinggi sehingga pilihannya adalah menggunakan bis lintas sumatera.
Tidak banyak memori yang tersimpan dikepala akang tentang sosok nini karena beliau mulai meninggalkan kampung halaman sejak tahun 1980 atau saat akang berusia 3 tahunan. Nini berangkat ke singkut mengikuti aki pada saat pemerintah Orde Baru saat itu sedang gencar melaksanakan program transmigrasi yaitu upaya memindahkan penduduk dari daerah yang populasinya padat ke daerah yang masih jarang penduduknya. Dimasa orde baru suatu program yang telah dicanangkan pemerintah sepertinya selalu terlaksana tanpa direcokin oleh berita penyelewengan anggaran, dugaan korupsi dll. Entah karena memang benar2 tidak ada yang namanya korupsi atau karena tidak ada media yang berani menyuarakannya. Program transmigrasi digadang-gadang bisa menyelesaikan salah satu problem kependudukan di Indonesia yaitu penyebaran jumlah penduduk yang tidak merata. Penduduk di pulau Jawa khususnya di iming-imingi berjuta harapan bahwa kehidupan di tanah harapan bakal jauh lebih baik. Berita yang gegap gempita tentang luasnya lahan di luar pulau Jawa yang menanti untuk diolah seolah menghipnotis banyak penduduk untuk segera mengikuti program tersebut. Terlebih-lebih bagi penduduk yang miskin janji-janji tersebut bagaikan berasal dari pulau surga. Pemerintah juga memberikan jaminan hidup selama 2 tahun bagi setiap jiwa yang berupa bahan pokok dan lauk pauk karena pada tahun ke 3 pasti tanah olahan sudah bisa memberikan makan bagi penghuninya. Penduduk Jawa pun akhirnya banyak yang boyongan mengejar impian di tanah transmigrasi, dan salahsatu diantara ribuan penduduk tersebut adalah keluarga aki dan nini akang .
Singkat cerita sampailah aki di tanah trans, namun semua impian yang menghiasi mimpi selama perjalanan tiba-tiba dihadapkan pada pekatnya rimba sumatera yang ganas, tanah olahan yang begitu sulit untuk ditembus sekedar golok dan parang. Pada masa-masa awal yang dirasakan kebanyakan pendatang mereka seolah-olah mengalami jaman tanam paksa saat penjajahan Belanda dan Jepang. Pohon sawit yang menjadi tanaman wajib ternyata tidak cocok ditanam ditanah tersebut. Setelah hampir 5 tahun menaklukan tanaman sawit akhirnya penduduk menyerah dan beralih untuk menanam pohon karet. Tidak sedikit yang menyerah dan kembali ke kampung halaman dengan perasaan takut ditangkap, karena konon katanya jika sebelum 2 tahun berani meninggalkan tanah transmigrasi bakal dimintai denda sebagai ganti rugi.
30 tahun berlalu, aki dan nini masih juga bertahan di tanah trans walaupun dengan nasib yang tidak jauh berbeda dengan saat di kampung halaman. Empat generasi telah bertahan disana hingga nini enggan untuk kembali tinggal di Jawa saat pulang lebaran 2 tahun yang lalu.
(Sekedar catatan dari sang incu)

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s