Pengalaman Pertama ber-Kursi Roda

Blogwalking di blog-nya mbak Una ternyata seru juga, soalnya banyak cerita2 lucu partisipan GA-nya yang punya blog. Akang pun nggak ingin ketinggalan menceritakan pengalaman pertama yang pernah dialami. Jika mayoritas partisipan menceritakan pengalaman yang lucu dan mengundang tawa maka akang ingin berbagi cerita yang berbeda ( kan seru kalo bervariasi..!) . Lagi pula mbak Una nggak bilang harus lucu juga tuh pokoknya yang penting berkesan, soal kesannya mo senang atau sedih yaa terserah penulis he he he (iya kan mbak Una???). Setelah membaca cerita ini akang yakin pembaca tak akan tertawa terpingkal-pingkal atau senyum-senyum sendirian, hanya saja akang berharap pembaca dapat mengambil hikmah dari pengalaman ini.

Pengalaman ini bermula ketika akang mendapatkan sebuah kursi roda gratis untuk putra akang yang bisa di bilang cacat bernama Gilang. Gilang dilahirkan dengan perkembangan otak yang tidak sempurna sehingga ukuran otaknya kecil (mikrosefali). Tumbuh kembang Gilang otomatis delay semua dan sampai saat ini berusia 5 tahun dia belum bisa duduk sendiri apalagi berjalan. Sebelumnya akang banyak mengalami kesulitan jika mengajak Gilang bepergian keluar rumah karena harus menggendong Gilang. Harapan akang untuk memiliki sebuah kursi roda terkendala oleh biaya yang mahal karena jenis kursi roda yang spesifik dan jarang ditemui di toko. Setelah browsing di internet akhirnya akang bisa mendapatkan sebuah kursi roda gratis yang difasilitasi oleh sebuah LSM yang khusus membantu orang-orang yang senasib dengan Gilang.
Mendapat sebuah kursi roda memang sangat membantu mengurangi kesulitan yang akang hadapi selama ini jika hendak mengajak Gilang jalan-jalan, tetapi ternyata kesulitan yang dihadapi masih banyak. Di negeri Indonesia tercinta ini yang namanya fasilitas umum merupakan urusan kesekian-ratus yang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Jangankan kita bicara fasilitas untuk orang disable/cacat, fasilitas untuk orang normal saja begitu terlantar. Satu contoh saja yang ingin akang kemukakan yaitu jalan trotoar yang seringkali tidak nyaman untuk digunakan para pejalan kaki karena berubah menjadi pasar kakilima.
Pertama kali akang mengajak Gilang jalan-jalan ke sebuah mall yang ada di jalan margonda Depok bersama istri dan pengasuh. Akang tidak menurunkan Gilang di lobi karena terus terang akang belum sanggup untuk mendapatkan perhatian dari banyak orang jika melihat Gilang diatas kursi roda. Bukannya merasa malu untuk diperhatikan tetapi dengan memakai kursi roda ini teror mental yang dirasakan begitu berat. Kami pun turun di tempat parkir yang berada dilantai dua, mulailah “ritual” jalan-jalan dimulai. Kesulitan pertama muncul didepan lift, lantai parkir lebih rendah dari area lift sehingga kursi roda mesti diangkat. Gilang mulai terlihat tidak nyaman di tempat parkir yang pencahayaannya kurang, kegelisahannya bertambah manakala memasuki lift yang sempit yang hanya bisa memuat kami berempat. Keluar dari lift keadaan membaik, cahaya yang terang mampu menenangkan Gilang selain itu udara yang keluar dari pendingin udara terasa sejuk dikulit. Keadaan ini memaksa akang untuk tidak lagi memakai lift untuk naik turun lantai, beruntung di mall tersebut selain lift dan tangga berjalan terdapat juga travelator. Namun dalam keadaan berdesakan perjuangan menggunakannya tetap saja sangat sulit. Menyusuri lorong-lorong tempat belanja menuntut kesabaran yang tinggi, seringkali ada bagian kursi roda yang tersangkut pada barang dagangan yang dipamerkan pedagang yang suka seenaknya menyimpan barang memenuhi koridor untuk pejalan kaki.
Ketenangan Gilang tidak berlangsung lama saat kami berkeliling di dalam mall, suara hiruk pikuk orang yang saat itu memenuhi mall begitu mengganggu bagi Gilang. Belum lagi perasaan akang yang tetap merasa diteror oleh pandangan orang-orang yang memperhatikan Gilang bahkan yang sembunyi-sembunyi sekalipun. Ada juga yang terang-terangan bertanya kepada akang sambil memperlihatkan rasa iba kepada Gilang yang justru hal ini menyebabkan teror itu begitu terasa berat. Ada satu hal lain yang membuat Gilang menarik perhatian orang, Gilang dikaruniai rambut yang tebal dan hitam dan nampak menggemaskan sehingga menggoda orang terutama ibu-ibu untuk berkomentar dan ujung-ujungnya bertanya tentang Gilang. Bukannya akang tidak senang melayani pertanyaan mereka tetapi pertanyaannya pasti berujung dengan “terkuaknya” keadaan Gilang yang cacat. Hal ini pula yang terkadang membuat penanya menjadi kikuk dan tampak seperti menyesal telah membuat akang bercerita tentang Gilang. Memang bukan kali pertama akang membawa Gilang ke mall tetapi dengan keberadaan kursi roda ini membuat akang semakin merasa tidak nyaman. Hal yang sama sepertinya juga dirasakan Gilang, duduk di kursi roda membuatnya lebih susah untuk ditenangkan karena kami biasa mendekap Gilang jika sedang menangis. Akang pun menyerah, niat untuk memberikan kesenangan kepada Gilang dengan jalan-jalan menggunakan kursi roda di mall sepertinya malah menjadi teror baru untuknya. Akhirnya kembali ke rumah menjadi pilihan terbaik saat itu, mungkin karena ini pengalaman pertama bagi akang dan semoga di kemudian hari hal seperti ini tidak terjadi lagi.

Tulisan ini diikut-sertakan pada kontes Giveaway : Pengalaman Pertama, yang digagas oleh Mbak Una.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Gilang dan tag , . Tandai permalink.

16 Balasan ke Pengalaman Pertama ber-Kursi Roda

  1. Toko Kursi Roda berkata:

    Maaf jika mengganggu, sekalian nitip lapak ya, siapa tau ada rekan yang mau membeli kursi roda.
    Kami toko alat kesehatan yang menjual kursi roda murah harganya.
    langsung lihat daftar harga kursi roda di : Jual Kursi Roda

    Gesunde Medical
    Kursi Roda
    Toko Kursi Roda Murah

  2. HALAMAN PUTIH berkata:

    Sesuatu yang kita lakukan untuk pertama kali selalu membutuhkan penyesuaian atau adaptasi. Kalau sudah beberapa waktu pasti akan terbiasa.

  3. Nia Angga berkata:

    subhanallah..
    salut ama abi, gilang, dan istri yang sangat tabah..
    maafkan jika selama ini saya pribadi masih suka melihat dengan iba dengan mereka yang kurang beruntung secara fisik, tapi mereka menjadi pengingat saya untuk selalu bersyukur kepada Allah, apapun yang terjadi…
    semoga kelak gilang menjadi orang hebat karena telah dibesarkan oleh orang tua hebat ya..
    peluk sayang buat gilang..

  4. kaiser777 berkata:

    nice share sob🙂

  5. Sayyidah 'Ali berkata:

    subhanallah,, terharu sekali membacanya..

    Kalau sering dilakukan, insya Allah akan terbiasa..
    salut banget buat akang..🙂

  6. cikupapu berkata:

    BRAVO untuk Gilang!!!!!!

  7. hadir…
    menyimak pengalamannya..!
    Tetap semangat..!

    btw…klo tdk keberatan
    mari berinteraksi dan berbagi di
    http://dumalana.com/
    pasti seru…!

    __salam hangat mas Abi_gilang___

  8. Una berkata:

    Maaf baru sempat online jadi baru baca.
    Alhamdulillah Gilang dapat kursi roda. Semoga Gilang sekarang sudah tidak apa-apa sejak kejadian di mall.

    Terimakasihhh, segera kucatat yaaa🙂

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s