Sahabat Sampai Malam Pertama

Masih terinspirasi dari banyaknya undangan pernikahan yang akang hadiri beberapa minggu terakhir akang jadi teringat pengalaman pribadi waktu nikah. Di tempat asal akang disebuah dusun kecil di Sumedang, akang mempunyai sahabat main dari kecil (kayaknya dari bayi deh soalnya usianya sama tuh, udah gitu tetanggaan lagi, udah gitu masih ada hubungan sodara lagi..!). Sebagai anak kampung kami juga mempunyai mimpi2 ingin menjelajah dunia sejauh mungkin. Menginjak usia remaja kami mulai terpisah oleh jarak dan waktu, walaupun “dunia sejauh mungkin” yang akang jelajahi masih satu presiden, satu wapres, satu menkumham (pokoknya satu kabinet deh..!), cuma beda gubernur, beda bupati dan yang pasti beda lurah. Dalam keterpisahan waktu tersebut kami sering kehilangan berita satu sama lain, tetapi untuk urusan pernikahan kami telah saling berjanji untuk sebisa mungkin memberitahukan. Entah siapa yang memulainya dan mempunyai ide, setiap ada diantara teman kami yang menikah maka teman yang lain akan berusaha untuk sebisa mungkin memberi kejutan kepada calon pengantin. Tapi jangan disangka kalau kejutan yang diberikan berupa kunci mobil atau kunci rumah (walaupun cuma kuncinya doang), karena kejutan yang kami maksud adalah acara “NGERJAIN” calon pengantin dengan berbagai cara.
Akang masih ingat seorang teman yang biasa di panggil Si Mantri (karena dia seorang perawat) yang menanggung malu saat melaksanakan pelaminan karena ketiduran pada hari pernikahannya. Ceritanya bermula saat dua hari sebelum hari pernikahan kami berjanji untuk membuat dia nggak tidur selama mungkin, selama dua malam sebelumnya selalu saja ada sebagian dari kami yang menemaninya kemanapun. Malam hari kami ajak begadang dengan berbagai acara yang dibikin-bikin mulai dari main catur, main kartu dll. Setiap kali terlihat dia mengantuk maka serta merta teman yang lain mangganggunya hingga dia tak bisa tidur. Bahkan kami berlaku curang saat bermain gapleh / domino jika yang kalah maka hukumannya diguyur air dikepalanya, kami pun bekerja sama untuk selalu membuat dia kalah. Nah saat malam hari sebelum pernikahan, kami menghentikan aksi kami dengan mengajaknya kumpul di tempat yang ditentukan, karena rasa ngantuk dan lelah maka dia tertidur ditempat tersebut, kami pun sepakat untuk tidak membangunkannya keesokan harinya. Saat keluarganya mencari-cari kamipun pura-pura tidak mengetahui keberadaannya dan pura-pura juga mencarinya, namun setelah satu jam terlambat kamipun membangunkannya. Alhasil selama acara pelaminan mata simantri terlihat bengkak karena kekurangan tidur.
Pembalasan tiba di hari pernikahan akang. Akang yang melangsungkan pernikahan di Bogor (maksudnya pelosok Bogor) merasa yakin tidak akan kena aksi balas dendam karena jarak yang jauh dari Sumedang. Lagipula sudah cukup lama akang tidak bertemu sahabat2 kecil akang. Keyakinan akang bertambah manakala simantri memberikan jawaban yang kurang meyakinkan akan kehadirannya di hari pernikahan akang. Dia beralasan sedang sibuk dan karena jarak yang cukup jauh dia hanya memberi jawaban bahwa keputusan hadir atau tidaknya baru bisa disampaikan pada hari-H.
Tibalah hari pernikahan akang, acara berjalan dengan lancar walaupun terganggu guyuran hujan (konon katanya itu terjadi karena akang sebelum ke pelaminan mandi dulu) padahal menurut mitos jika pengantin mandi maka bakal terjadi hujan (emang ada-ada saja tuh mitos..!). Ponsel akang tiba2 bergetar ternyata simantri dan sahabat akang lainnya memberitahu bahwa mereka akan datang ke Bogor, namun yang akang agak curiga saat itu jarum jam menunjukan waktu jam 2 siang. Akang pikir itu terlalu sore karena perjalanan normal Sumedang-Bogor 4 sampai 5 jam, mungkin ini hanya cara mereka saja membikin bingung begitu pikir akang. Walaupun agak cemas tetap saja akang berusaha untuk tidak memikirkan apa yang sedang direncanakan mereka lagipula saat itu tamu undangan masih banyak berdatangan. Acara pelaminan dijadwakan sampai jam 9 malam diteruskan dengan pengajian sampai jam 11 malam (begitu kebiasaan disana), sebelumnya akang sudah mempersiapkan mental untuk duduk dipelaminan seharian penuh hingga malam hari. Pesan singkat dari simantri datang lagi menjelang maghrib, kali ini dengan kabar yang mengejutkan sekaligus menggembirakan karena ternyata mobil mereka mengalami mogok di Puncak dan nampaknya tidak jadi menghadiri pesta pernikahan akang. Plong sudah rasanya telah terbebas dari kekhawatiran pembalasan dendam di hari pernikahan. Acara pun selesai hingga jam 11 malam, dengan rasa letih dan penasaran (untuk yang udah nikah pasti tahu rasa “penasaran”nya) akang bersiap ke kamar pengantin yang ditempatkan di rumah yang berbeda dengan tempat hajatan.
Sebagai pasangan suami-istri yang telah sah akang dan istri berada dalam satu kamar pengantin yang didambakan selama ini. 5 menit berlalu tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dengan suara yang penuh ragu memanggil-manggil akang, saat keluar seorang kerabat telah berdiri didepan pintu dan mengabarkan bahwa ada tamu yang baru saja datang dari Sumedang. Aaargh….kepala akang mulai berdenyut saat melihat jam yang menunjukkan waktu jam setengah dua belas malam, langsung terbayang wajah-wajah sahabat akang yang menjadi bayangan buruk sejak siang tadi. Saat akang temui mereka terlihat senyuman penuh kemenangan diwajah-wajah mereka seolah pasukan Pandawa telah memenangkan perang Baratayudha. Kami berbincang sambil sesekali tertawa keras dan berisik. Keluarga mertua banyak yang kaget melihat kedatangan teman akang disaat yang sangat..sangat..sangat tidak tepat, mungkin disangka akang berteman dengan orang-orang yang tidak mempunyai adab dan sopan santun. Tampaknya sahabat-sahabat akang bukan tidak menyadari apa yang dipikirkan orang-orang tetapi mereka malah terlihat sangat menikmati tatapan keheranan keluarga mertua akang. Istri akang nampaknya menyadari apa yang sedang terjadi dan berusaha memberi tahu kepada keluarganya tentang apa yang terjadi bahwa akang sedang “dikerjain” temannya. Acara 3 NG NGobrol NGalor-NGidul pun berlangsung hingga adzan subuh tiba. Kata-kata ledekan dan tertawa yang sangat mengganggu menghiasi malam pertama akang, bahkan sampai saat sholat subuh berjama’ah pun masih saja ada terdengar suara cekikikan teman akang. Pagi harinya mereka pun pamit dan tak lupa menghabiskan dulu sarapan yang disediakan, dengan wajah-wajah tanpa dosa mereka pamit sambil memasang senyuman “Indonesia Raya” hingga tak terlihat dikejauhan.
Sejak saat itu akang sangat jarang bertemu dengan mereka tetapi jika kebetulan bertemu maka yang biasa kami lakukan hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal mengingat kejadian-kejadian seputar pernikahan.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

12 Balasan ke Sahabat Sampai Malam Pertama

  1. Desudjia (DSK) berkata:

    seru ceritanya kang he…🙂

  2. hesty berkata:

    wkwkwkwkwk kocakk… asik euy punya sahabat2 seperti itu,, ada aja waktu dan ide buat ngerjain…. wkwkwkwkw😆

  3. kabutpikir berkata:

    Kreatip… sungguh sahabat yang benar2 “mengerti”….Six Tumb Up!!!
    hehehehhe

  4. niefha berkata:

    ~jyaaah…
    untungnya istri akang pengertian ya. Jadi, langsung paham kalo suaminya lagi dikerjain sama sahabat-sahabatnya..😀

  5. onesetia82 berkata:

    malam pertama ga akan tergantikan sama malam kedua, ketiga, keempat . . . de..es..te..🙄

  6. bensdoing berkata:

    asyiiikk….jadi ceritanya malam pertamanya “berjamaah” sama sahabat2 ya….:-D
    kenapa cuma sehari ya…..:mrgreen:

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s