Romantisme Dinas Malam

Sebagai seorang pekerja apalagi yang berhubungan dengan pelayanan publik maka kerja shift biasanya menjadi suatu keharusan. Begitupun akang yang bekerja disebuah rumah sakit yang tentu saja tidak mengenal kata libur dalam melayani pasien yang sedang dirawat. Salah satu hal yang paling terasa berat dalam kerja shift adalah dinas malam, nggak tahu kenapa perasaan malas langsung hinggap jika hendak berangkat bekerja pada malam hari. Apalagi bulan desember ini mulai memasuki musim penghujan dimana hujan turun tidak mengikuti aturan resep, bisa datang pagi hari, siang hari juga malam hari bahkan bisa sepanjang hari. Seperti malam ini saat berangkat dari rumah sudah hujan, terkadang sepanjang jalan sering melamun andai saja akang seorang direktur pasti nggak kenal tuh yang namanya dines malam.
Pada dua bulan terakhir menjalani pekerjaan seperti seorang guru yang berangkat pagi pulang sore. Kegiatan sehari-hari pun terlaksana dengan pola yang baik seperti nge-blog (penting itu he he), cuci motor, tilawah, tidur, dll. Dengan demikian pola sirkadian tubuh menjadi teratur, tidur dimulai antara jam 20.00 – 21.00 (maklum televisi dikuasai pembantu dengan “sinetronnya”), jika bangun subuh selalu tepat jam 04.00 tanpa alarm dan terbangun dengan kepala yang tidak pusing. Perjalanan pagi diatas roda dua tidak dilalui dengan rasa kantuk yang sering datang tanpa permisi. Setiap akhir pekan bisa menyalurkan hobi gowes dengan bertemu banyak gowes-er di jalan.
Cerita berbeda bakal terjadi manakala sudah memasuki masa bekerja dengan jadwal shift. Pada awal masa adaptasi “jam tubuh” seringkali kepala terasa pusing karena pola tidur yang berubah. Perubahan yang paling mencolok terjadi saat dinas malam tentu saja hal ini karena saat mata merasa lelah dan ngantuk justru dituntut untuk selalu konsentrasi dalam bekerja. Padahal konsentrasi tinggi sangat dibutuhkan untuk menghindari kesalahan saat bekerja yang akan menyebabkan kerugian bagi pasien. Disela kesibukan bekerja hal paling sering akang lakukan adalah “berselancar” di dunia maya tentunya seperti saat ini.
Selamat bekerja bagi para pekerja malam

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , . Tandai permalink.

13 Balasan ke Romantisme Dinas Malam

  1. Irfan Handi berkata:

    Semoga selalu konsentrasi dengan pekerjaannya mas.
    Jaga kondisi badan dengan memanfaatkan waktu siang untuk beristirahat.
    Tetap semangat Sahabat…

  2. oma berkata:

    Menurut saya, waktu terbaik untuk bekerja adalah tengah malam. Dimana suasana sepi, hanya ada saya dan Tuhan. Tidak ada gangguan yang lain. Ilham pun sepertinya lebih rajin bermain.

  3. rianaadzkya berkata:

    Kangeeeen shift maalaam..
    Heheheh…*pengen cepat2 lulus, insya اَللّهُ lanjut kerja* aamiiiin😉

  4. Ahmad Alkadri berkata:

    Saya belum bekerja, jadi belum pernah merasakan bagaimana rasanya. Tapi, dua kata saja untuk bang Abi: “Tetap Semangat!”😄

  5. saya juga sering bekerja di tengah malam karena saya seorang penulis, hehe….
    selamat bekerja Saudaraku, semoga sukses selalu.

  6. Budi Nurhikmat berkata:

    Saya pernah mengalami hal itu abi…sift malam…memang ada suka dukanya, tapi buat saya banyak sukanya…..ketika orang lain bangun pagi2..harus kerja, saya malah asik dengan bantal ….hehehehe😀

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s