Dengan Silaturahim Kami Bertahan


Dalam bahasa Arab kata “hati” disebut qalbun yang berarti sesuatu yang bolak-balik. Begitu pula perasaan hati yang dialami oleh para orang tua dari anak-anak penyandang Cerebral Palsy juga sering mengalami perasaan yang naik-turun dalam menghadapi segala permasalahan yang menimpa anak-anaknya. Kami tahu bahwa kami harus mempunyai kesabaran yang lebih untuk bertahan tetapi kadangkala kami harus mengalami masa-masa sulit dimana kami merasa terperangkap dalam kepasrahan dan putus asa. Hal seperti itulah yang dialami oleh Mama Sultan (salah seorang orang tua dari anak penyandang Cerebral Palsy).
Dua hari yang lalu Mama Sultan menelepon jam 21.30 saat Istri Akang sudah tidur, ketika telepon diangkat dari seberang terdengar suara Mama Sultan menanyakan Istri akang. Akang pun membangunkannya karena merasa ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Mama Sultan. Istri akang kemudian menerima telepon tersebut dan melakukan pembicaraan dengan Mama Sultan. Menurut Istri akang Mama Sultan sedang galau memikirkan nasib Sultan yang dianggap sangat lambat perkembangan dari terapi yang dijalaninya. Dia juga merasa sedih memikirkan keinginannya untuk memasukkan Sultan ke sekolah walaupun tidak yakin sekolah apa yang diinginkannya. Sambil tak lupa menanyakan kabar pencapaian terapi yang juga dilakukan oleh Gilang. Mendengar hal itu akang dan istri memutuskan untuk berusaha segera menemuinya karena kami tahu bagaimana perasaan jika sedang galau memikirkan nasib anak kami dimasa yang akan datang. Kami pun berencana mengajak Gilang agar sedikit mengurangi beban pikiran Mama Sultan dengan harapan dia menyadari bahwa ada juga orang yang sedang menjalani perjuangan seperti yang dilakukannya.
Jadwal terapi Gilang hari ini jam 09.45 tetapi kami berangkat satu jam lebih awal dari biasanya karena berniat mengunjungi rumah Sultan yang kebetulan berada dekat dengan Rumah Sakit tempat Gilang biasa melakukan terapi. Begitu sampai dirumah Mama Sultan terlihat begitu terharu melihat kedatangan kami bertiga dan segera mempersilahkan kami ke dalam rumah. Hampir setahun lebih kami tidak berjumpa Sultan sejak Mama Sultan memindahkan tempat terapi Sultan. Sultan terlihat lebih gemuk dan mempunyai perkembangan yang lebih baik dari Gilang, hal ini tampak ketika dia memberi tanda kepada ibunya saat dia ingin kencing, seketika Mama Sultan pun segera membawanya kekamar mandi. Kemampuan bicara Sultan tidak lebih baik karena hanya bisa memanggil “Mama” dan “Papa” dan beberapa kata lain yang tidak jelas artinya.
Perbincangan berlangsung dengan saling menceritakan pengalaman selama tidak bertemu seperti saat Sultan mengalami kejang ketika suhu tubuhnya yang sangat tinggi dan hal ini sangat membuat Mama Sultan khawatir. Menurutnya itu adalah pengalaman pertama kali bagi Sultan mengalami kejang sejak didiagnosa menyandang Cerebral Palsy. Mama Sultan menceritakan kesulitannya yang dihadapi jika mengajak Sultan jalan-jalan. Tubuh Sultan makin lama semakin besar dan berat sehingga Mama Sultan sudah tidak kuat jika harus menggendongnya lama-lama dan kini mengidamkan sebuah kursi roda. Kami pun menyarankannya untuk mengikuti jejak kami yang mandapatkan sebuah kursi roda gratis dan hingga sekarang masih dipakai oleh Gilang. Mendengar hal tersebut Mama Sultan begitu antusias untuk segera mendapatkannya dan berjanji untuk segera menghubungi kami jika hendak mendatangi tempat kursi roda tersebut.
Topik lain yang jadi perbincangan adalah keinginan Mama Sultan untuk mempunyai anak lagi tetapi keinginan ini bertentangan dengan keraguan dan ketakutan mengalami hal yang terjadi pada Sultan. Dalam hal ini kami juga memberi sedikit sugesti dan motivasi untuk segera menambah anak, kami juga pernah merasakan apa yang dirasakan Mama Sultan. Kami berkaca kepada pengalaman sendiri yang sering-sering bertanya kepada orang tua seperti kami yang mempunyai lagi anak setelah anak yang pertama mengalami Cerebral Palsy. Untuk hal ini nampaknya Mama Sultan masih berat untuk segera mewujudkan keinginannya. Perbincangan selama satu jam terasa begitu cepat bagi kami sampai waktunya Gilang harus melakukan terapi ditempat seperti biasanya. Akhirnya kami pun pamit dan mengigatkan Mama Sultan untuk jangan segan-segan menghubungi kami jika ingin sharing atau ada masalah apapun yang dihadapi oleh Sultan. Bukan kami merasa lebih bisa mengatasi atau berniat menggurui tetapi bagi kami perasaan kebersamaan dalam menghadapi tantangan ini akan membuat segalanya lebih mudah.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

22 Balasan ke Dengan Silaturahim Kami Bertahan

  1. Ping balik: Ulang Tahun Sultan | Belajar Kehidupan

  2. ibnufajarisme berkata:

    satu kata: inspiring ^^

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s