Memahami Perilaku Anak Cerebral Palsy

Sumber gambar : elliestumbo.blogspot.com
Salah satu kendala yang harus dihadapi oleh orang tua dari anak penyandang CP (Cerebral Palsy) dan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) lainnya adalah kesulitan dalam memahami keinginan anak. Secara fisik mereka memang tidak berdaya tetapi sesungguhnya secara mental mereka hampir sama dengan anak normal lainnya seperti perasaan ingin disayangi, cemburu, marah, dll. Bahkan dalam tahap tertentu anak CP dan ABK mempunyai perasaan yang lebih sensitif terhadap perlakuan yang diterima dirinya dari orang lain. Berbagai kejadian yang menjelaskan hal tersebut pernah akang alami bersama Gilang dan selanjutnya akang ingin berbagi pengalaman dengan para orang tua ABK lainnya dalam menghadapi hal tersebut.

Sebagai penyandang CP Gilang mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap orang-orang disekitarnya yaitu Mamah Gilang, Uwa (pengasuh) dan Akang sendiri. Hingga kelahiran Gilar maka Gilang sehari-hari hanya “mengenal” ketiga orang tersebut. Dalam mengenal seseorang, Gilang tidak cukup hanya menggunakan indera penglihatannya yang kurang baik tetapi melalui semua inderanya baik sentuhan, suara, pelukan, bau dll. Dengan cara seperti itulah Gilang berinteraksi dengan manusia lain di dunia ini sehingga akan butuh waktu yang panjang bagi Gilang dalam mengenal seseorang. Kehilangan ke-3 orang sekaligus dalam keseharian Gilang bisa menimbulkan trauma jiwa yang sangat sulit untuk dipulihkan.

Hal inilah yang dialami Gilang seminggu terakhir ini. Setelah Gilar sakit panas selama 4 hari dan tidak ada tanda-tanda suhu tubuhnya menurun kami memutuskan membawa Gilar ke rumah sakit dan ternyata dokter menyarankan agar Gilar dirawat. Tangal 28 desember Gilar masuk rawat ditunggui Mamah Gilang dan Uwa sementara Gilang dibawa ke rumah neneknya di Bogor. Akang sendiri dinas malam tiga hari berturut-turut dan selama itu tidak pulang karena bergantian menunggu Gilar dirawat. Selama tiga hari kami tinggal Gilang bersama neneknya tidak menunjukkan kemarahan atau mengamuk tetapi sering terlihat air matanya meleleh tanpa sebab. Menurut neneknya Gilang menjadi tidak bergairah seperti biasanya dan cenderung jadi pendiam. Mendengar hal tersebut kami berpikir kesedihan itu hanya akan berlangsung sementara saja selama Gilang kami tinggalkan.

Tiga hari Gilar dirawat dan baru kembali pada malam tahun baru, kami langsung menuju ke bogor untuk menemui Gilang di rumah neneknya. Saat mendengar suara kami Gilang ternyata tidak menyambut dengan gembira layaknya orang yang kangen kepada orang tuanya. Gilang malah menangis saat digendong, tangannya mencakar wajah dan berusaha mengigit bahu akang dengan giginya. Perlakuan yang sama juga diterima oleh Mamah Gilang yang berusaha meredakan kemarahan Gilang bahkan menjadi korban gigitan Gilang yang tidak sempat dihindarkan. Kemarahan Gilang reda setelah di gendong Uwa yang sempat juga menjadi sasaran cakaran Gilang.

Bersama Uwa Gilang kembali tenang namun tetap saja masih belum hilang kemarahannya kepada akang dan istri. Hal ini dapat kami pahami mengingat setelah kelahiran Gilar, istri akang terpecah perhatiannya untuk mengurus Gilar sehingga sebagian besar waktu yang dilewati Gilang adalah bersama Uwa. Seolah ingin melampiaskan dendam sejak malam itu Gilang samasekali tidak mau lepas dari gendongan Uwa. Jangankan untuk digendong orang lain, sekedar ditinggalkan ke kamar mandi saja Gilang marah dan menangis. Akang dan istri tidak bisa berbuat banyak selain hanya bisa sedikit-sedikit merayu Gilang dengan cara meminta maaf ke[adanya secara langsung. Kami biasa meminta maaf seperti kepada anak normal karena hal itu biasanya berhasil menghilangkan kemarahan Gilang. Kami percaya Gilang mengerti apa saja yang kami ucapkan dengan menggunakan “pendengaran jiwa”nya. Gilang bisa tiba-tiba berteriak marah jika saat pulang kerja akang tidak menegur atau menggendongnya apalagi jika akang malah menggendong Gilar.

Sampai tadi pagi Gilang masih belum mau ditegur akang sedangkan kepada mamahnya sikapnya sudah melunak dan mulai mau digendong. Akang sungguh menyesal meninggalkan Gilang selama tiga hari bersama orang yang menurut Gilang “orang asing”. Akang tidak belajar dari pengalaman sebelumnya saat Uwa sempat “mogok” dan meninggalkan Gilang selama 10 hari. Hanya saja waktu itu kesepian Gilang terobati dengan adanya akang bersama istri sehingga keguncangan hatinya tidak seperti kali ini. Kini satu lagi pelajaran yang akang dapatkan dari hidup bersama Gilang yaitu jangan sekali-kali memisahkan anak CP dan ABK dari orang terdekatnya dalam waktu yang cukup lama karena khawatir hal itu akan menyebabkan trauma jiwa.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Gilang dan tag , , , , . Tandai permalink.

33 Balasan ke Memahami Perilaku Anak Cerebral Palsy

  1. Renny Viana berkata:

    Assalamu’alaikum Akang…setahun y.l kita berbagi,Alhamdulillah Allah mengijinkan saya berbagi kembali,putra yang sangat saya Cintai LEVIN RIZKY VAGANZA kini makin menunjukkan perkembangan bagus,secara emosi dia makin bisa menunjukkan rasa sayang,cemburu bahkan marah. Apapun bentuk respon yg ditunjukkan,ini adalah KEMAJUAN. Kadang saya dijambak,ditarik,dicakar,hehe….Subhanallah…saya makin gembira,ini yg menyebabkan kita makin kencang berdzikir malam,air mata makin deras..why?…kita makin bersyukur dan makin sangat memohon sama Allah kesembuhan untuk anak kita tercinta. Ujian mengajari kita untuk IKHLAS dan MENSYUKURI PEMBERIAN ALLAH SWT.Kasih sayang tulus kita INSYA ALLAH memepercepat kemajuannya.

    • abi_gilang berkata:

      Itulah sebuah “hiburan” dari Alloh SWT bagi orang tua seperti kita. Dimata ortu2 lain hal ini tak akan memberi kegembiraan seperti apa yg kita rasakan. Dan semoga Mba Renny tetap semangat menjalaninya bersama Levin. Sejujurnya akang seringkali merasa “lelah” menghadapinya namun selalu saja ada sahabat2 lain yg mampu membangkitkan lagi semangat itu. Bisa dibaca pada tulisan terakhir di blog ini, puisi akang menggambarkan apa yg sedang dirasakan. Dan akang pun ingin tulisan2 akang tentang Gilang mampu mengobati hati2 ortu dari anak CP. Terima kasih atas sharingnya. Salam untuk ananda Levin.

  2. mama nadya berkata:

    Assalamualaikum …. subhanallah semoga Allah selalu memberikan kita kesabaran kesehatan dan umur panjang sehingga mempunyai kesempatan untuk merawat anak2 kita. Sy mempunyai anak usia 2,9 tahun dia belum berjalan tetapi sy optimis anak sy pasti bisa berjalan. Salam hangat untuk semuanya.

    • abi_gilang berkata:

      Optimis itu seolah “nyawa” untuk anak kita Mama Nadya. Karena jika kita putus asa maka kasihan anak kita. Semoga Ananda Nadya juga ikut ketularan raa “optimis” dari Mamahnya. Terima kasih sudah mampir disini. Salam untuk ananda Nadya.

  3. Renny Viana berkata:

    Assalamua’alaikum Akang…saya sangat bisa merasakan yang Akang alami karena saya juga punya anak CP barumur 5 tahun 4 bulan yang baru saja bis BERJALAN dan ini juga merupakan hadiah istimewa dari Allah setelah sempat dipisahkan dari saya karena sakit selama 3 minggu shg si kecil kami titipkan d budhenya sementara saudara yg lain merawat saya, ternyata si kecil bisa berjalan tanpa saya di sampingnya. Sungguh ini pengalaman luar biasa,apapun ujian yang kita terima dari Allah sungguh ini adalah kecintaan Allah pada kita. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih sabar. Amin.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s