Sekilas Tentang Kuda Renggong

Sumber gambar : voiceofbandung.com
Liburan sekolah yang baru saja usai banyak dimanfaatkan oleh banyak orang tua untuk mengadakan sunatan / khitanan anak mereka dengan alasan sedang libur sekolah. Klinik khitan dan tukang sunat yang mempunyai banyak sebutan seperti bengkong, paraji sunat, mantri sunat dll mendapat order yang cukup tinggi disaat liburan seperti ini. Ditempat asal akang yaitu Sumedang, salah satu pihak yang mendapat banyak order disaat seperti ini adalah grup kesenian Kuda Renggong yaitu salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Sumedang sendiri.

Kuda renggong mulai dikenal pada masa pemerintahan Pangeran Arya Surya Atmadja (1882-1919) menjadi bupati Sumedang. Kata renggong dalam bahasa sunda berarti gerakan tari berirama dengan ayunan langkah kaki yang diikuti oleh gerakan kepala dan leher yang tetap. Kata ini juga merupakan metatesis dari Ronggeng yang berarti pertunjukkan tari yang dilakukan oleh perempuan di halaman rumah saat bulan bersinar.

Tokoh penting dalam permulaan kesenian kuda renggong ini bernama Sipan bin Midin yang lahir pada tahun 1870 di dusun Cikurubuk, kecamatan Buah Dua, kabupaten Sumedang. Sejak kecil Sipan suka mengamati tingkah laku kuda dan membedakan langkah kaki kuda menjadi 4 macam,yaitu :
A. Adean adalah gerak lari kuda melintang seperti gerak lari kepinggir seperti ayam yang sedang berahi.
B. Torolong adalah gerak lari kuda dengan langkah kaki pendek-pendek dan cepat.
C. Derap / jogrog adalah langkah kaki kuda biasa yang artinya tidak lari namun gerakannya cepat.
D. Congklang adalah gerak lari cepat seperti gerakan kuda pacu dimana kaki kanan dan kiri kuda bergerak serempak kearah depan.

Sipan melatih kuda dengan cara kendali kuda dipegang oleh dua orang di kiri kanan, seorang mencambuk dari belakang sehingga kuda meronta namun tertahan tali kendali. Latihan tersebut biasanya berlangsung selama 3 bulan dengan iringan musik. Dengan demikian kuda menjadi terbiasa setiap mendengar pengiring ia akan bergerak-gerak menari. Kuda hasil pelatihan Sipan menjadi terkenal dan banyak dicari orang yang kemudian dikenal dengan sebutan kuda renggong.

Kesenian kuda renggong akhirnya menjadi kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Sumedang. Saat ini hampir di setiap kecamatan mempunyai perkumpulan permainan kuda renggong. Selain digunakan pada acara khitanan kuda renggong juga sering dipakai untuk menyambut para pejabat yang turun ke daerah, juga digunakan pada perayaan hari jadi Kabupaten dan setiap hari Kemerdekaan. Dengan banyaknya perkumpulan kuda renggong maka sering diadakan festival untuk memilih mana kuda renggong terbaik atau perkumpulan terbaik. Semakin sering kuda renggong memenangi suatu festival maka otomatis harga jualnya akan melambung tinggi.

Jalannya pertunjukkan permainan kuda renggong terdiri atas beberapa adegan “perkelahian” antara manusia (pesilat) dengan kuda, antara lain :
1. Kuda berdiri diatas kedua kaki belakang, kaki depan kedua-duanya bergerak seperti posisi akan mencakar diiringi lagu kidung.
2. Anak pesilat diinjak perutnya oleh kuda.
3. Anak pesilat dengan posisi terlentang diinjak kepala bagian jidatnya oleh kedua kaki depan kuda.
4. Leher anak pesilat ada diantara kedua kaki depan kuda dalam posisi terlentang kemudian berguling-guling.
5. Anak pesilat bermain silat diatas punggung kuda, juga berdiri diatas kedua kaki belakang kemudian kuda berputar-putar.
Atraksi ini akan berlangsung sekitar satu jam kemudian anak sunat / khitan dinaikkan keatas kuda untuk kemudian diarak keliling kampung lengkap dengan pengiring yang memainkan musik juga pengiring yang bertugas menari-nari didepan kuda selama arak-arakan berlangsung. Selama arak-arakan inilah kuda memamerkan keahliannya menari sambil berjalan dengan mengikuti iringan musik. Musik pengiring kuda renggong didominasi oleh suara terompet diselingi suara juru sinden. Alat pengiring lainnya mirip dengan perangkat gamelan hanya lebih sedikit jumlahnya. Pada awalnya lagu-lagu yang diperdengarkan seperti Kembang Gading, Kembang Beureum, Manuk Dadali, Adem Ayem, Daun Puspa, Solempang Koneng yang berirama cepat mirip musik dangdut tetapi seiring waktu lagu-lagu tersebut mulai ditinggalkan dan beralih dengan lagu-lagu populer yang biasa kita dengar ditelevisi saat ini. Hanya lagu Kembang Gadung dan Kembang Beureum yang masih selalu dipakai karena lagu tersebut dianggap sebagai kidung persembahan untuk para leluhur.

Pertunjukkan kuda renggong ini biasanya dilakukan sehari sebelum khitanan dilaksanakan. Anak yang saat di sunat dirayakan dengan pertunjukkan kuda renggong ini biasanya mempunyai kenangan dan kebanggan tersendiri diantara anak lainnya. Kenangan yang bisa terbawa hingga dewasa dan tidak bisa dilupakan. Akang sendiri saat disunat tidak dirayakan dengan pertunjukkan kuda renggong mungkin karena orang tua sedang tidak mempunyai uang untuk mengundangnya. Akang adalah anak ketiga dari lima bersaudara yang semuanya laki-laki, dari kelima anak yang mengadakan pertunjukan kuda renggong saat dikhitan adalah anak pertama, kedua dan terakhir sehingga walaupun saat dikhitan akang tidak naik kuda renggong tetapi bisa nebeng saat kakak dan adik disunat.

Sumber pustaka : Permainan rakyat jawa barat, oleh: Drs.Sunatra S.H. MS, Drs Endang Hermawan, Asep Wahyu, FS. BA

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

16 Balasan ke Sekilas Tentang Kuda Renggong

  1. Kalo tidak salah dulu sy pernah lihat tentang kuda renggong di televisi, Kang🙂

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s