Sisingaan : Seni Sebuah Perjuangan

Sumber gambar: kiranagroup.com

Kesenian gotong singa yang oleh masyarakat setempat disebut “sisingaan” adalah kesenian khas  masyarakat  Kabupaten Subang. Pengertian gotong singa pasti sudah langsung dimengerti yaitu mengandung arti kata kerja gotong (usung) dengan benda yang digotongnya berupa binatang singa. Adapun sisingaan adalah suatu kata yang mengandung arti menyerupai binatang singa (patung) yang diusung oleh para pemain dengan melakukan gerakan2 yang atraktif. Nama sisingaan sekarang sudah banyak sebutannya seperti Singa ungkleuk, Ondong-ondong dan Singa depok . Walaupun tidak diketahui pasti tetapi banyak para tokoh yang meyakini bahwa asal-usul permainan sisingaan ini bermula dari daerah Ciherang sekitar 5 km dari Kota Subang.

Dahulu patung singa terbuat dari bambu yang dianyam dibentuk sebagai badan singa dan dibungkus dengan kain sarung. Kepalanya terbuat dari kayu, matanya terbuat dari cermin dan rambutnya terbuat dari tangkai bunga kaso, dibagian bawahnya terdapat palang kayu atau bambu sebagai tempat pikulan. Pada awalnya patung singa ini dibuat hanya untuk sekali pakai tetapi pada zaman sekarang patung singa terbuat dari bahan plastik yang lebih ringan dan lebih kuat dan dibuat untuk waktu yang lama sehingga bisa dipakai berkali-kali.

Permainan sisingaan merupakan suatu campuran kesenian antara seni gerak dan seni suara. Pada setiap permainan terdapat dua usungan (dua singa) satu usungan terdiri dari empat orang. Pemain lainnya berbagi tugas sebagai penabuh gamelan (nayaga)yang dipimpin oleh seorang pemberi aba-aba yang sekaligus menjadi pimpinan kelompok. Atraksi sisingaan menampilkan gerakan2 atraktif yang terkadang mendebarkan yang dilakukan oleh para pengusung patung singa yang ditunggangi oleh anak kecil (biasanya anak yang dikhitan). Diiringi lagu-lagu yang dinamis tiap kelompok kesenian mempunyai gerakan2 khas dan berbeda dengan kelompok lain. Para pemain sering melakukan gerakan yang diambil dari gerakan pencak silat seperti ketuk tilu, igel ngayun golempang, mincing dan padungdung. Walaupun gerakan2 yang dilakukan cukup sulit tetapi pengunggang patung singa tidak terjatuh. Kekompakkan dan kebersamaan dalam melakukan atraksi ini sangat dibutuhkan agar dalam permainan tidak ada yang cedera.

Dibalik kesederhanaan seni sisingaan dan segala pernak-perniknya ternyata terdapat filosopi yang sarat dengan makna perjuangan.  Mungkin tidak banyak orang yang tahu mengapa binatang singa yang dipilih sebagai objek utama pertunjukkan bukannya kambing atau hewan lainnya dan mengapa jumlahnya selalu dua usungan. Pertanyaan lain juga muncul mengapa anak kecil yang menunggangi singa dan orang dewasa yang mengusung boneka singa.  Kesenian sisingaan sebagai kesenian yang timbul pada zaman penjajahan ternyata merupakan ekspresi perlawanan yang diungkapkan secara tidak langsung.

Menurut sejarah pada tahun1840 – 1864 daerah Ciherang merupakan kademangan yang subur. Secara politis daerah ini dikuasai oleh Belanda namun secara ekonomis yang menguasai tanah didaerah ini adalah Inggris melalui sebuah perusahaan yang disebut P8T Lands PT. Kekuasaan kedua bangsa ini bagi masyarakat Subang sama-sama mendatangkan penderitaan dan kemelaratan. Sebagai sebuah simbol perlawanan masyarakat, lahirlah sebuah kesenian yang menggunakan binatang singa sebagai objek utama karena singa juga dijadikan lambang oleh kedua kerajaan penjajah tersebut. Dua singa ditunggangi oleh anak kecil dan  diusung oleh orang dewasa, hal ini  memberikan gambaran generasi tua yang dijajah rela bahu membahu untuk terus berjuang dilambangkan dengan gerakan tari yang dinamis. Generasi tua harus bersatu dalam melakukan perlawanan sehingga gerak perjuangan menjadi terarah dan tidak tercerai-berai. Gerak tari sisingaan adalah simbol perjuangan yang pantang menyerah dan selalu mencari segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Anak penunggang patung singa merupakan simbol harapan dari generasi tua yang menginginkan agar generasi penerus mereka tidak terus menerus berada dalam penindasan bangsa penjajah. Generasi muda diharapkan bisa mengalahkan penjajah bahkan kalau perlu bisa menjadi bangsa yang bisa berdiri diatas bangsa penjajah. Selain bisa menguasai penjajah maka generasi muda tetap harus selalu mengingat perjuangan pendahulunya. Generasi muda juga dituntut untuk bisa belajar dari pengalaman bagaimana generasi tua bersatu dan bekerja sama menggapai tujuan bersama. Generasi tua yang rela dirinya menderita asalkan generasi penerus mereka bisa berjaya.

Sisingaan sunguh bukan hanya sekedar sebuah pentas seni yang memberikan kegembiraan sesaat. Sisingaan memiliki nilai-nilai filosofis yang tidak hanya berguna pada masa penjajahan dahulu tetapi juga harus diterapkan pada masa kini. Nilai kebersamaan, gotong – royong, rela berkorban, semangat, tunduk pada pimpinan adalah beberapa nilai moral yang harusnya kita dapatkan dari sebuah pertunjukkan seni sisingaan. Semoga kita bisa turut menjaga salah satu kekayaan budaya bangsa kita ini dan memahami nilai-nilai moral yang dipesankan oleh para pencipta kesenian ini.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

19 Balasan ke Sisingaan : Seni Sebuah Perjuangan

  1. Orin berkata:

    Abiii…aku suka deh fotonya..

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s