Berebut Rezeki Tutut

Jika akhir-akhir ini anda pernah menyusuri kota Bogor terutama sekitar Perumahan Yasmin tepatnya jalan Ring Road, maka anda akan menemukan deretan pedagang tutut disepanjang jalan. Entahlah kalau di kota lain yang pasti kemunculan para pedagang tutut di Bogor ini baru mulai sekitar 2 atau 3 bulan yang lalu. Tutut punya sebutan berbeda disetiap tempat, ada yang menyebut siput, ciput, keong dll. Bagi akang sendiri yang dibesarkan di kampung, makan tutut tidaklah asing karena makanan seperti itulah yang sering akang cari jika sedang bermain di pesawahan. Saat pertama kali melihat pedagang tutut, istri akang menyuruh akang untuk mencoba membeli tutut tersebut namun jawaban akang ” Apa anehnya makan tutut? “. Namun lama-lama pedagang tutut makin banyak dan akang pun akhirnya penasaran untuk sekedar mencicipi tutut tersebut. “Itung-itung mengenang masa lalu” begitu pikir akang saat pertama mencoba. Dengan harga hanya 3 ribu rupiah per porsi kita bisa memilih berbagai macam rasa yang ada seperti tutut bumbu padang, bumbu Cianjuran dll (padahal menurut akang sih nggak ada bedanya).

Ternyata kesan pertama makan tutut benar-benar membikin akang keterusan untuk membeli lagi dan lagi. Makan tutut memang cukup sulit namun mengasyikkan. Ada dua cara menikmati tutut, pertama dengan cara menghisap sekaligus dari pangkal cangkangnya, namun cara ini hanya bisa dilakukan jika ujung cangkang tutut sudah dilubangi. Bagi yang belum terbiasa makan tutut dengan cara ini seringkali tersedak saat menghisap dagingnya. Cara kedua adalah dengan menggunakan alat yaitu tusuk gigi atau sejenis jarum, dengan tusuk gigi kita tinggal menusuk daging tutut kemudian ditarik dari cangkangnya.

Kini jika setiap ada kesempatan ke Bogor akang pasti menyempatkan diri membeli tutut untuk dimakan bersama keluarga di rumah. Istri akang pun seakan punya alasan untuk meledek akang, ” ingat yah kalo orang kampung nggak boleh makan tutut, kan nggak aneh!!!!”. Akang pun hanya bisa tersenyum mendengar ledekan istri sambil menikmati tutut. Konon katanya makan tutut sangat baik untuk pemain terompet karena bisa menguatkan otot pipi dan paru-paru tentu saja jika memakannya menggunakan cara dihisap.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

41 Balasan ke Berebut Rezeki Tutut

  1. outboundmalang berkata:

    ane kirain tutut itu nama orang gan, ternyata nama makanan kuliner di tempat ane blm ada ne gan yg kyk gini pengen nyoba neh gmn rasa’a….

  2. odisumantri berkata:

    oh tutut mas, dulu ditempat sewaktu saya kecil. orang tua saya sering mencarikan tutut disawah, sekarang sawahnya sudah penuh dengan rumah dan penduduk.

    ada keinginan untuk merasakannya lagi.
    nice blog.

  3. Ping balik: Blogger Award Kedua | Draft Corner

  4. della berkata:

    Oh, aku juga suka itu! Jajanan masa kecil. Tapi sekarang udah enggak ada yang jualan. Apa mesti ke Bogor dulu ya buat nostalgia?šŸ˜€

  5. Noer berkata:

    Bangi dong kang.
    Tutut termasuk jajanan waktu sekolah sd. Jadi kepengen nih, sayang di sini gak ada…

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s