Kampung Tanpa Kran Air

Membaca koran hari ini ternyata telah memberi sedikit ide bagi akang untuk mengisi lagi blog ini yang belakangan sedikit terlantar. Hari ini tanggal 22 maret diperingati sebagai Hari Air Sedunia setiap tahunnya, hal ini juga yang merubah judul tulisan yang tadinya hendak akang tulis. Seminggu yang lalu akang mendapat kabar dari kampung bahwa orang tua akang sakit keras sehingga akang terpaksa segera pulang. Dua hari dikampung menemani Bapak yang sedang sakit membuat akang tidak bisa “jalan2” keluar kampung. Namun ternyata hal tersebut malah memberikan pencerahan kepada akang yang seolah memutar balik waktu yang telah lalu setelah hampir 17 tahun meninggalkan kampung.

Jejak-jejak perjalanan semasa kecil begitu jelas tergambar di setiap sudut kampung yang memang tidak mengalami perubahan yang banyak sejak akang meninggalkannya. Semerbak bau tanah dan aroma hutan yang tercium dari rumah akang membuat kenangan2 saat kecil dulu kembali terbayang. Suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin terdengar riuh seraya merayakan kegembiraan bersama angin. Dinginnya air sungai yang mengalir membelah kampung mampu sejenak menghilangkan kepenatan sisa2 kehidupan ibu kota.

Kampung kami berada dilereng bukit yang hutannya masih bisa memberi sumber air yang cukup bagi semua penghuni kampung. Air untuk kebutuhan sehari-hari tidak memerlukan tenaga listrik samasekali karena kami hanya tinggal mengalirkannya ke rumah2 dengan pipa bambu atau paralon. Satu hal yang akan tersa aneh bagi kebanyakan orang perkotaan adalah di kampung kami bisa dikatakan tidak ada kran air yang digunakan di penampungan air. Air dari mata air tidak pernah berhenti mengalir dan ditampung pada penampungan besar yang digunakan oleh beberapa keluarga. Didalam rumah2 air yang mengalir ditampung dalam bak yang memiliki lubang pengeluaran air (disini biasanya dipasang kran air) tetapi selalu ada lubang air dibagian atas bak untuk membuang kelebihan air yang terus menerus mengalir. Hal ini membuat fungsi kran di bak sebenarnya tidak penting karena selalu saja air yang melebihi kapasitas bak air akan terbuang.

Sungai yang mengalir melewati kampung bahkan berjumlah 3 sungai yang bersatu membentuk muara kecil diujung kampung. Sungai2 inilah yang menjadi sumber pengairan untuk pertanian yang membentang disebelah hilir perkampungan. Kampung akang merupakan kampung pertama yang dilewati sungai2 tersebut sehingga airnya belum dikotori oleh sampah2 yang biasanya dihasilkan dari perkampungan. Saat akang kecil disungai tersebut hampir semua penduduk memenuhi hajatnya seperti mandi dan mencuci bahkan membersihkan ternak. Kemeriahan sungai disaat pagi dan sore hari begitu terasa karena saat itu masih jarang orang yang mempunyai kamar mandi atau kakus didalam rumah masing2. Kini pemandangan seperti itu sudah tidak ada lagi karena anak2 kecil lebih memilih berenang dikolam renang berbayar daripada mandi disungai dan orang2 pun hampir semua telah memiliki kamar mandi dirumah.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

13 Balasan ke Kampung Tanpa Kran Air

  1. Ping balik: Menjemput Hidup | Belajar Kehidupan

  2. ~Amela~ berkata:

    sekarang kran air udah jadi kebutuhan.. soalnya jumlah air bersih udah ga semelimpah dulu., jadi harus dihemat ya kang

  3. pedal2themetal berkata:

    Human loves Artificial thing.

    Mungkin inilah mengapa saya lebih menyukai motor dibanding kuda misalnya…

    Ah, kembali ke alam memang sulit ya…meski tidak mustahil untuk dilakukan🙂

  4. Asyim berkata:

    Jadi inget kampung halaman sendiri kang,tapi di daerah ku justru susah mendapat air bersih.kebanyakan bikin sumur bor pakai pipa besi sekitar 25 batang x 6 m,baru dapat air bersih kang.Sedangkan air sungai sudah tercemar kang.

  5. bensdoing berkata:

    kalau melihat bagaimana indahnya alam didesa ingin rasanya berlama-lama lagi disana…..penuh kedamaian, keramahtamahan, toleransi yang cukup tinggi dan berbagai hal yang mencirikan bagaimana rakyat pedesaan itu🙂

  6. yisha berkata:

    post keren kang…. 🙂

  7. Noer berkata:

    Tentu asik sekali masa kecil di tengah kehidupan desa yg masih bernuansa alami. Dulu keakraban masyarakat pastinya sangat kuat, karena kegiatan mandi bisa saling ngobrol. Belum dgn kegiatan-kegiatan lainnya…

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s