Masjid-masjid Di Kehidupanku (Bagian Pertama)

Sepanjang apapun perjalanan seseorang pasti berasal dari satu langkah pertama dan sejauh apapun bepergian pasti berasal dari satu titik pemberangkatan. Begitu juga banyaknya ilmu seseorang pasti berasal dari seseorang lain yang mengajarkannya karena tak mungkin seorang manusia mengetahui segala hal tanpa bantuan manusia lainnya. Pepatah mengatakan “mengajari anak bagai mengukir diatas batu sedangkan mengajari orang tua seperti mengukir diatas air”, sungguh suatu pepatah yang tepat dalam perjalanan hidup manusia. Masa kanak-kanak adalah masa paling baik dalam perkembangan otak manusia, hal ini juga berkaitan erat dengan penyerapan segala informasi yang terekam didalam otak. Kesulitan mengajari anak seringkali timbul karena belum fahamnya anak-anak tentang sebuah tata nilai, tetapi jika sudah berhasil mengajarkan sesuatu kedalam pikirannya maka hal tersebut akan bertahan lama.

Dalam hal keagamaan pun demikian, segala nilai yang terlihat dalam perilaku seseorang merupakan cerminan nilai-nilai yang dia dapatkan saat masih kecil. Akang sendiri merasa beruntung bisa melewatkan masa kecil disebuah lingkungan yang cukup mementingkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Disebuah masjid yang sederhana bernama Masjid Nurul Jannah, disanalah akang mulai balajar huruf demi huruf, ayat demi ayat dari kitab suci dan berbagai wejangan dari seorang guru ngaji. Di masjid ini juga anak-anak kampung melewatkan waktu dari mulai adzan maghrib hingga jam 8 malam setiap harinya. Saat itu kami tidak mengenal adanya sekolah agama siang hari sepulang sekolah biasa seperti yang lumrah dilakukan anak-anak sekarang. Kegiatan kami sepulang sekolah saat itu hanya bermain bersama teman melakukan apapun yang menurut kami menyenangkan hingga waktu maghrib menjelang.

Kegiatan mengaji dilakukan setelah selesai sholat maghrib tetapi biasanya anak-anak sudah berdatangan ke masjid setengah jam sebelum kumandang adzan. Sudah menjadi peraturan tidak tertulis bagi siapa saja yang paling dulu datang ke masjid maka akan mendapat giliran pertama diajari oleh Pak Ustadz. Untuk menandainya kami menyimpan peralatan mengaji kami didalam sebuah antrian seperti kitab, kain sarung atau tutunjuk (seperti tusuk sate terbuat dari bambu, digunakan saat mengaji untuk menunjuk huruf-huruf sebagai pengganti jari). Masjid kami terletak di pinggir jalan sehingga jalan itu menjadi arena bermain bagi anak-anak selama menunggu adzan berkumandang. Anak laki-laki biasa bermain silat-silatan dengan kain sarung yang ditutupkan keseluruh kepala dan hanya menyisakan sedikit lubang penglihatan meniru-niru karakter ninja, sedangkan anak-anak perempuan terkadang bermain lompat tali yang terbuat dari rangkaian karet gelang.

Belajar mengaji saat itu belum menggunakan metode-metode moderen seperti metode Iqro yang biasa digunakan anak-anak sekarang. Pelajaran mengaji dimulai dengan pengenalan huruf Hija’iyah dilanjutkan dengan belajar mengeja huruf ber-harkat. Bagi kebanyakan anak-anak sekarang mungkin agak asing dengan mengeja huruf menggunakan harkat fathah (merujuk vokal “A”), kasroh (merujuk vokal “I”) dan dhomah (merujuk vokal “U”). Akang pun belajar mengeja dengan cara yang sama hanya saja ada perbedaan yaitu dalam istilah harkat dimana fathah diganti jabar, kasroh diganti jé-ér dan dhomah diganti pé-és sehingga untuk mengeja ba – bi – bu adalah ” be jabar ba, be jé-ér bi, be pé-és bu. Pelajaran membaca Al qur’an akan dianggap tamat setelah khatam hingga 30 juz, dan jika seorang anak telah khatam 30 juz biasanya sering mengadakan syukuran dengan memasak tumpeng nasi kuning yang dibagikan kepada kawan-kawan se-pengajian.

Itulah cerita akang tentang masjid yang pertama kali menjadi tempat persinggahan dalam hidup akang. Mudah-mudahan di postingan selanjutnya akang bisa menceritakan masjid-masjid berikutnya yang sangat mempengaruhi perjalanan hidup akang karena bagi akang masjid adalah tempat belajar kehidupan yang seharusnya tidak pernah kita tinggalkan.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Masjid-masjid Di Kehidupanku (Bagian Pertama)

  1. Ping balik: Masjid – masjid Di Kehidupanku (Bagian Ketiga) | Belajar Kehidupan

  2. RDD berkata:

    Alhamdulillah Rumahku kumpul dgn masjid, jd sholat nya g telat kecuali klo dalam perjalanan…
    semoga kita semua menjadi ummat yang ta’at kpd perintah Alloh dan menjauhi larangan nya. amin. salam persaudara’an dari ( Blogger cangkring baru )

  3. bensdoing berkata:

    ditempatku yang lebih dekat adalah mushola tapi lumayan juga kalo sore hingga malam hari suka dipergunakan untuk anak-anak belajar mengaji🙂

  4. Citra Taslim berkata:

    jadi inget momen khataman saya pas baca tulisan ini kang. ^_^

    • abi_gilang berkata:

      Bagi-bagi donk ceritanya!!!

      • Citra Taslim berkata:

        Saya ga pernah dipaksa sholat. tapi selalu dipaksa ngaji. saya ga pernah dipukul karna ga sholat tapi dipukul kalo ga ngaji waktu kecil.
        Saya sering nangis sesegukan kalo ngaji ga bener karna dimarahin.
        Tapi saya akhirnya paham kenapa saya diharuskan ngaji yang benar dulu, baru diajarkan sholat.
        untuk sholat saya melihat ayah sebagai patokan. beliau selalu mengutamakan sholat baru urusan lain. mengajak kami berjamaah dan setelah itu mengaji bersama.
        saya masih punya seorang adik kecil, saat ayah meninggal 5 tahun lalu. Dipesan untuk diajarkan mengaji yang baik.
        Khataman selalu jadi momen spesial, syukuran bersama keluarga dan sepupu2. kemudian makan bersama. saya dulu cuma tau kalau ada yang khatam Qur’an berarti makan2. padahal itu agar yang lain juga termotivasi untuk cepat khatam Qur’an.

        Sekarang saya merasakan manfaatnya. saya di didik harus bisa mengaji, tidak sebagus seorang tilawah. tapi itulah titipan ayah untuk saya ketika beliau tiada.

      • abi_gilang berkata:

        InsyaAlloh do’a dari anak yang sholeh untuk orang tuanya termasuk salah satu amalan yang tidak pernah terputus oleh kematian.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s