Masjid-masjid Di Kehidupanku (Bagian Kedua)

Sumber gambar : lomba.kompasiana.com

Perkenalan akang dengan masjid ini tidaklah merupakan cerita yang istimewa bahkan mungkin ini cerita seperti ini adalah cerita kebanyakan mahasiswa2 yang mencari ilmu di Bandung pada pertengahan tahun 90an. Fenomena munculnya seorang da’i yang membawakan dakwah dengan cara yang khas bernama Abdullah Gymnastiar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Aa Gym begitu menggema di seantero bandung raya. Keikut-sertaan akang pertama kali ke masjid Daarut Tauhid adalah murni ikut-ikutan teman2 yang aktif di rohis kampus. Pertama kali ikut pengajian ini akang merasa sedikit aneh karena yang disebut kegiatan pengajiannya sangat berbeda dengan kebiasaan akang mengaji dikampung. Dikampung yang namanya pengajian dipimpin seorang ustadz dimulai dengan ceramah monolog diakhiri dengan do’a kemudian bubar jalan. Tidak pernah akang mendengar yang namanya acara muhasabah apalagi sampai menangis tersedu-sedu seperti yang akang ikuti di masjid DT ini. Di masjid DT ini akang merasa takjub saat melihat kedisiplinan para jema’atnya dimana alas kaki yang jumlahnya ratusan disimpan dengan rapi, sangat beda dengan kebiasaan dikampung yang seringkali saat pulang sandal yang digunakan tertukar dengan jema’at lain.

Memang tidak salah masjid ini disebut sebagai bengkel akhlaq karena baru pertama kali akang ikut pengajian ini langsung berkesan kuat dan menumbuhkan semangat yang tinggi dihati. Setelah sekian lama akang boleh disebut sebagai orang yang jauh dari masjid karena sekian lama akang hanya menjadikan masjid sebagai tempat sholat saja dan tak lebih dari itu. Pada usia memasuki SMA akang dianggap telah mampu membaca Al Qur’an dengan lancar (walaupun dengan tajwid yang seadanya) sehingga kegiatan mengaji yang biasa akang lakukan sejak kecil dianggap telah selesai. Ustadz menyuruh akang untuk melanjutkan belajar kitab kuning di masjid lain dengan guru yang berbeda. Namun akang yang mulai menginjak usia remaja tidak mengikuti saran tersebut dan malah senang bermain dengan teman-teman yang nggak jelas kegiatannya. Selama SMA pun akang bukan siswa yang rajin berorganisasi seperti kerohanian Islam dan sejenisnya.

Kepindahan akang ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan ternyata membawa perubahan juga kepada semangat akang untuk menambah wawasan keagamaan. Lokasi kampus akang yang berada jauh dari pusat kota Bandung menjadikan kegiatan kuliah lebih fokus. Selain hal tersebut kegiatan kemahasiswaan terutama kerohanian Islam di kampus berjalan cukup baik sehingga para mahasiswa yang memang sedang mempunyai ghiroh (semangat) yang tinggi mempunyai sarana yang pas untuk menyalurkan semangatnya. Berbagai kegiatan yang akang ikuti dikampus dan diluar kampus akhirnya membuka kembali kesadaran akang bahwa yang namanya belajar ilmu agama itu tidak ada akhirnya hingga akhir hayat.

Sejak mengikuti kajian di masjid DT maka istilah2 seperti Qolbun Salim, “dzikir – fikir – ikhtiar” dan berbagai jargon yang biasa digunakan Aa Gym banyak menghiasi catatan2 akang. Buku buku karangan Aa Gym pun ulai mengisi koleksi buku akang selain aksesoris2 lain seperti gantungan kunci hingga stiker2 yang berbau DT. Walaupun masjid DT adalah masjid yang akang datangi hanya 1 atau 2 kali dalam seminggu namun harus akang akui dari masjid inilah akang mendapat suatu semangat yang dapat merubah perjalanan hidup akang dimasa yang akan datang. Sejak mengikuti pengajian disinilah akang mendapatkan kembali kesadaran dan semangat untuk selalu belajar dan belajar terutama ilmu2 agama karena bukankah mencari ilmu itu adalah kewajiban tiap insan dari mulai dilahirkan hingga masuk liang lahat.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

16 Balasan ke Masjid-masjid Di Kehidupanku (Bagian Kedua)

  1. Ping balik: Masjid – masjid Di Kehidupanku (Bagian Ketiga) | Belajar Kehidupan

  2. Bibi Titi Teliti berkata:

    Saya yang orang Bandung asli malahan belum pernah kesana nih Kang…*jadi malu*…
    eh…jadi akang baru pindah ke Bandung nih…
    mudah mudahan betah yaaaaa🙂

  3. onesetia82 berkata:

    dulu saya sempat waktu keluar SMA mau menimba ilmu di DT …
    tapi ga jadi kang …😦

  4. raden ikhwan berkata:

    jadi pengen kesana

  5. Mila berkata:

    jadi ingin mengunjungi DT🙂

  6. bensdoing berkata:

    waktu sya masih kuliah di Bandung…kosan sya gag jauh letaknya dari pesantren DT…🙂

  7. wah keren
    saya juga sampai berlangganan sms tauhidnya Aagym, kapan2 ketemu yuk di DT pas malam jumat biasanya ada pengajian kan🙂

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s