Masjid – masjid Di Kehidupanku (Bagian Ketiga)

Sumber gambar : ppib.yiscalazhar.org
Setelah cerita masjid pertama dan masjid kedua kini akang melanjutkan cerita tentang masjid – masjid yang sempat menjadi tempat yang sangat mempengaruhi perjalanan hidup akang. Masjid Al Azhar yang terletak di jalan Sisingamangaraja Kebayoran Baru Jakarta Selatan adalah masjid yang juga bisa dikatakan menjadi tempat akang mencari ilmu. Selepas kuliah di Bandung akang sempat menjadi PEJABAT tapi sayang artinya PEnganggur JAwa BAraT bukan orang yang mempunyai kedudukan di pemerintahan🙂. Selama kurang lebih 4 bulan akang mondar mandir mencari pekerjaan sesuai dengan ijazah yang akang miliki, belasan lamaran akang buat walaupun dari semua lamaran itu akang hanya mendapatkan panggilan dari 4 – 5 perusahaan dengan hasil nihil. Sampai akhirnya akang diterima bekerja di RSUD Sukabumi yang resminya bernama Rumah Sakit R Syamsudin, tetapi entah mengapa rumah sakit tersebut lebih dikenal masyarakat Sukabumi dengan sebutan Rumah Sakit Bunut. Enam bulan kemudian akang mengabdikan diri disana sampai akhirnya akang diterima bekerja di sebuah rumah sakit swasta yang berlokasi di Kebayoran Baru Jakarta.

Walaupun pada awalnya bekerja di Jakarta tidak menjadi pilihan akang namun akang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di Jakarta. Pada hari – hari libur bekerja akang berusaha mengisinya dengan mencari kegiatan yang tidak membuat akang bosan di tempat kost yang letaknya tidak jauh dari tempat akang bekerja. Masjid Agung Al Azhar menjadi pilihan akang mengisi waktu saat libur bekerja mengingat letaknya yang dekat hanya butuh waktu waktu 15 menit berjalan kaki. Pada mulanya kegiatan yang akang ikuti di masjid ini hanya ceramah umum pada hari minggu pagi dengan topik yang berbeda setiap pekannya. Selang berapa waktu kemudian akang mengetahui bahwa di sana juga terdapat kegiatan untuk remaja masjid yang bernama YISC kepanjangan dari Youth Islamic Study Club. Akang kemudian bergabung dengan YISC setelah mendaftar dan melengkapi semua persyaratan administrasi.

Pada tahun pertama keikut-sertaan akang di YISC kegiatan utamanya adalah kajian setiap hari minggu. Sesi pertama di sebut Kajian Islam Intensif dimana seluruh peserta terbagi kedalam beberapa kelas yang dibedakan berdasarkan usia. Kegiatan ini berlangsung selama 2 jam menggunakan ruangan kelas SMA Al Azhar yang letaknya masih di dalam komplek masjid. Materi yang disampaikan terdiri dari kajian aqidah, tafsir, hadits dan lain-lain. Dalam kelas ini yang menjadi pengajar adalah anggota senior dari YISC atau orang luar yang diundang khusus. Pembagian kelas berdasarkan usia ternyata dimaksudkan agar penyampaian materi menjadi lebih mudah karena “bahasa” seorang mahasiswa akan berbeda dengan “bahasa” seorang yang sudah bekerja. Selesai kajian ini ada waktu untuk istirahat sebentar sebelum para peserta kemudian mengikuti kegiatan bimbingan belajar Al Qur’an. Dalam kegiatan ini peserta dikelompokkan bukan berdasarkan usia tetapi berdasarkan kemampuan membaca Al Qur’an. Peserta yang membaca qur’an-nya belum lancar tajwidnya akan masuk kelas Tajwid sedangkan yang sudah bagus tajwidnya masuk kelas tahsin atau kelas terjemahan. Tes baca qur’an diawasi oleh anggota senior saat pertama kali masuk menjadi anggota YISC.

Selama setahun menjadi anggota YISC banyak kegiatan lainnya yang akang ikuti baik yang berupa kajian2 atau kegiatan sosial kemasyarakatan. Berkegiatan di masjid yang akang sebut “masjid kota” sungguh jauh berbeda dengan gambaran akang tentang sebuah masjid saat kecil dahulu sehingga dalam kurun waktu tersebut akang seolah terkena “syndrom ngaji kota”. Disini yang namanya ngaji tidak selalu memakai kain sarung dengan kopiah hitam, tempat ngaji pun seringnya diadakan didalam ruangan kelas dengan pengajar yang menggunakan power point dalam menyampaikan materinya. Para peserta ngaji duduk dikursi yang biasa digunakan oleh mahasiswa. Kajian berlangsung dalam jadwal yang “ketat” dimana dalam satu sesi kajian penyampaian materi 45 menit kemudian untuk tanya jawab 15 menit.  Seringkali kajian yang akang ikuti berisi materi yang menurut pendapat pribadi akang terlalu berat seperti filsafat bahkan cenderung berfaham liberal. Hal ini membuat akang bingung terutama jika menyangkut suatu hal yang akang telah yakini sejak kecil. Untuk menghilangkan kebingungan tersebut terpaksa akang harus bertanya kepada banyak pihak yang dianggap lebih tahu. Dikampung dulu tidak pernah ada orang yang berani mempertanyakan apa yang dikatakan oleh guru ngajinya, kata gurunya harus membaca qunut maka semua memakai qunut, kata gurunya baca usholli maka semua akan mengikuti. Tidak ada orang yang bertanya dasar hadits yang mengharuskan baca qunut atau yang melarangnya. Pokoknya yang namanya berangkat ngaji maka langkah kita menuju tempat ngaji sudah mendapatkan pahala dari Alloh jadi tidak perlu banyak bertanya kepada guru ngaji apalagi mendebat pendapatnya. Dan hal terakhir yang sangat mencolok perbedaan ngaji di kampung dan di kota adalah ngaji di kota segalanya bayar, ikut kelas ini bayar ikut kelas itu bayar sedangkan di kampung semuanya gratis.

Pada tahun kedua akang memutuskan untuk tidak melanjutkan menjadi anggota YISC tetapi akang melanjutkan belajar ngaji kepada salah seorang guru ngaji bernama Ustadz Mukhtar yang juga adalah salah satu imam di masjid Al Azhar. Perkenalan akang dimulai saat akang disarankan oleh salah seorang pengajar  kelas tahsin untuk melanjutkan belajar ngaji kepadanya.  Ustadz Mukhtar mengajar tahsin qur’an yang mengikuti qiro’at Hafsh yaitu salah satu qiro’at qur’an yang umum diikuti oleh kebanyakan umat muslim di Indonesia. Sejujurnya saat itu akang baru tahu kalau cara membaca al Qur’an itu ternyata ada tujuh macam yang disebut Qiro’at Sab’ah. Ustadz Mukhtar sendiri belajar dari seorang guru yang mempunyai ijazah (semacam lisensi) resmi yang diakui oleh perguruan tinggi Al Azhar Mesir. Oleh beliau pula akang diajarkan untuk bisa selektif dalam menerima semua ilmu yang dipelajari dilingkungan Al Azhar karena menurutnya seringkali disana dijadikan tempat oleh orang2 yang ingin menyebarkan faham yang tidak sejalan dengan aqidah Islam yang benar.

 
Dari masjid inilah akang diajarkan untuk menyadari bahwa jangan pernah ada rasa puas dalam menuntut ilmu agama. Disini akang mendapat pelajaran untuk bisa menghadapi perbedaan pendapat yang tidak sesuai dengan kita bahkan pendapat yang bertolak belakang sekalipun. Akang dituntut untuk selalu mempelajari alasan seseorang yang mempunyai pendapat berbeda dengan kita. Disini akang mendapat kebebasan dalam mengikuti banyak kegiatan karena setelah lepas dari embel2 mahasiswa tidak lagi dibebani oleh pelajaran kuliah. Namun ada satu hal yang belum akang dapatkan disini walaupun bukan tujuan utama yaitu pendamping hidup🙂 , tidak seperti kawan seperjuangan akang yang banyak mendapat pasangan hidup disini. Dan dari semua yang akang dapatkan disini akang jadikan sebagai bekal akang untuk hidup akang nanti didalam masyarakat sesungguhnya.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

14 Balasan ke Masjid – masjid Di Kehidupanku (Bagian Ketiga)

  1. alqurank berkata:

    Bagus baget….
    Anda juga bisa lihat di sini
    Alquran terjemah dengan tajwid blok warna alquranku

    Thx

  2. yisha berkata:

    wah, akang akrab dengan masjid. pantas saja, TUHAN ngasih gilang ke akang………
    salut! 😆

    • abi_gilang berkata:

      Semoga itu jadi do’a buat akang, yang pasti muslim harus akrab dengan masjid tapi sedikit yang mau me-review seperti akang padahal banyak orang lain yang lebih intens memakmurkan masjid.

  3. al fatih berkata:

    kapan2 pengen mampir ah, keseringan cuma lewat doang😀😀 kali aja kita ketemmu Kang.. ^^

  4. sakura suri berkata:

    wah..
    asik kang, pasti unforgettable ya..
    semoga silaturahmi selalu terjaga sama anggota YISC lainnya..🙂

  5. Noer berkata:

    pada semua orang kita bisa berguru, hanya masalahnya kita harus mampu memilah-milahnya ya kang…

  6. bensdoing berkata:

    sya yang lama di Jkt belum pernah masuk ke mesjid Al-Azhar …kalo ngeliwatin memang sering🙂
    sukses ya Kang !

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s