Jadilah Orang Tua ABK Yang Egois Dan Tidak Sabar

Di suatu kesempatan dalam sebuah seminar tentang cara mengasuh anak dengan kebutuhan khusus, seorang pembicara sempat mengatakan bahwa mungkin saja Tuhan memberi kita anak berkebutuhan khusus (ABK) bukan karena kita mempunyai keSABARan yang lebih tinggi dari orang tua lainnya. Kita mungkin bukan orang tua yang mempunyai rasa EGOIS lebih rendah dari orang tua lainnya. Akang dan kebanyakan peserta seminar seolah kaget mendengar pernyataan tersebut.  Selama ini kebanyakan orang mengatakan orang tua yang dikaruniai anak berkebutuhan khusus adalah orang2 yang mempunyai kesabaran lebih tinggi dari orang lain. Orang tua dari anak berkebutuhan khusus adalah orang2 yang mampu menahan ego dan selalu peduli dengan anak2nya. Sejujurnya pernyataan seperti itu sangat membantu akang untuk terus semangat dalam mengarungi hidup bersama seorang anak penyandang Cerebral Palsy terlepas orang yang mengatakannya bicara jujur atau hanya sekedar menghibur.

Pembicara tersebut sepertinya faham dengan pemikiran para peserta, dia kemudian menjelaskan bahwa pernyataannya memang layak di perdebatkan.  Dia hanya menjelaskan bahwa terkadang pikiran manusia memerlukan shock therapy agar mampu membuka ide lain yang mungkin lebih baik.  Menurutnya orang tua dari ABK  perlu keTIDAK-SABARan yang lebih karena dengannya orang tua ABK akan terus mengusahakan pengobatan agar anaknya segera bisa menyamai keadaan anak normal lainnya. Jika anaknya belum bisa jalan maka orang tua akan merasa tidak sabar ingin segera melihat anaknya bisa berjalan, begitupun yang belum bisa bicara maka orang tua akan merasa tidak sabar untuk melihat anaknya berbicara. Hidup bersama anak ABK seringkali menuntut perhatian penuh dalam arti 24 jam dalam satu hari bahkan hal selainnya bisa terabaikan. Dengan demikian sebagai orang tua ABK dituntut untuk sekali-kali melepaskan diri dari anaknya, hal ini hanya akan mampu dilakukan oleh orang tua yang  cukup punya rasa EGOIS.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya apakah perlu untuk sekali-kali melepaskan diri dari ABK kita? Pembicara menjelaskan hal ini sangat perlu mengingat  orang tua ABK juga harus membagi perhatian kepada selain anaknya, contoh kecil adalah perhatian kepada pasangan hidup (istri atau suami). Banyak kasus yang menimpa keluarga dengan salah satu anggota keluarganya adalah ABK, dimana orang tua yang tidak mampu menghadapi kenyataan tersebut memutuskan untuk berpisah dengan pasangan hidupnya. Perceraian orang tua ABK adalah bencana besar bagi kehidupan ABK dimasa selanjutnya, perhatian dari dua orang manusia saja terkadang tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan ABK maka kehilangan salah satunya adalah bencana diatas bencana. Pada kesempatan selanjutnya pembicara pun memberi saran agar para orang tua ABK untuk sekali waktu “keluar” dari kesehariannya anaknya, turutilah ke-egois-an masing2 dan sempatkanlah waktu untuk pergi berlibur HANYA berdua dengan pasangannya.

Berbekal saran tadi akang dan istri pernah mencoba untuk mengikutinya. Meninggalkan anak dengan pengasuh agar kami bisa berlibur berdua sepertinya bukan masalah besar bagi kami. Toh kita juga sering meninggalkan gilang jika sedang bekerja. Namun pikiran itu ternyata salah, ada perasaan bersalah yang menyakitkan manakala meninggalkan anak di rumah dengan pengasuh hanya untuk berlibur. Berbeda perasaannya saat meninggalkan anak untuk berangkat bekerja. Sebagai orang tua dari ABK sungguh perlu rasa egois yang kuat untuk melakukannya. Entahlah bagi orang tua yang mempunyai anak normal mungkin hal ini bukanlah masalah besar tapi bagi kami melakukan ini sedikit lebih “dianjurkan” demi kebaikan kami dan anak kami.  Setelah akang dan istri mencoba melakukannya ternyata apa yang dianjurkan pembicara dalam seminar tersebut terbukti benar. Perlu keTIDAK-SABARan dan keEGOISan dalam hidup bersama anak berkebutuhan khusus karena setelah mencoba sekali kami belum pernah melakukannya untuk yang kedua kali.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Gilang dan tag , , , , , . Tandai permalink.

8 Balasan ke Jadilah Orang Tua ABK Yang Egois Dan Tidak Sabar

  1. dicky eky berkata:

    mksh y kang crita ny
    alhamdulilah ngasi insiprasi bt kami berdua dalam mnejlankan fungsi sbgai orang tua dari ABK
    di tunggu info2 selanjutnya

  2. bensdoing berkata:

    berat sekali yach Kang…kalo meninggalkan anak2 yg msh kecil sementara kita berlibur berduaan….walaupun ada pembantu yang mengurus…🙂

  3. nandobase berkata:

    Perlu atau tidaknya Akang sekali-sekali meninggalkan Gilang untuk berlibur, saya tidak tahu dan tidak bisa memberikan masukan. Lakukanlah apa yang menurut Akang sebagai langkah terbaik. Hanya itu yang bisa saya katakan.

  4. Budi Nurhikmat berkata:

    Relax…dan menjauhkan masalah sementara boleh jadi solusi yang pas buat apapun masalahnya🙂

  5. Hijihawu berkata:

    Menjadi orangtua yang egois dan tidak sabar agar tetap semangat menyemangati anak? Sepertinya, saya belum sekuat itu….

  6. Ketymeong berkata:

    suka sekali tulisan ini…sangad menginspirasi…hikz…

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s