Sayyida Nafisa

Jika anda seorang muslim yang tinggal di Indonesia kemudian ada seseorang bertanya tentang sebuah nama “Imam Syafi’i” maka akang yakin anda paling tidak pernah mendengarnya. Sebagai seorang Imam yang  menjadi pendiri salah satu mazhab terbesar di Indonesia ini maka popularitasnya tidak terbantahkan. Akan tetapi ceritanya akan bertolak belakang jika anda ditanya tentang sebuah nama “Sayyida Nafisa”, mungkin anda baru pertama kali mendengar nama itu, atau bisa juga itu adalah nama salah seorang teman sekelas keponakan anda di PAUD. Akang punya keyakinan seorang pengikut mazhab Imam Syafi’i pun belum tentu mengenal dengan baik nama ini.

Sayyida Nafisa adalah salah satu mutiara yang dimiliki Islam pada zamannya, wanita yang satu ini adalah seorang ulama wanita yang popularitasnya tenggelam dibalik kharisma murid-murid yang belajar darinya. Lahir di Madinah pada tahun 145 Hijriah dia adalah keturunan langsung Nabi Muhammad SAW melalui Imam Hasan. Putera pasangan Ali dan Fatimah itu memiliki seorang anak bernama Zaid, Zaid mempunyai anak bernama Hasan Al Anwar yang merupakan ayah Nafisa. Nafisa kecil biasa dibawa ayahnya bermunajat didekat makam datuknya Muhammad SAW. Tumbuh dilingkungan Madinah yang sarat dengan keilmuan menjadikan Nafisa telah hafal Alquran sejak kecil dan mengerti hukum Islam sejak belia.

Nafisa tumbuh menjadi perempuan yang sangat zuhud dan alim sehingga disukai penduduk Madinah. Ia kemudian dijuluki beberapa gelar antara lain Nafisat Al Ilm wal Ma’rifat, Nafisat Tahira (wanita suci), Nafisat Al Abida (Nafisa ahli ibadah), Nafisat Al Darayn, Sayyidat Ahlul Fatwa, Sayyidat Al Karamat dan Umm Al Awaajiz. Kesemua gelar itu merujuk pada kehidupan dan keulamaannya. Dia mempunyai dua anak bernama Al Qasim dan Ummu Kaltsum buah pernikahannya dengan Ishaq Mu’taman yang juga merupakan keturunan langsung Imam Al Husain. Jika musim haji tiba dia tidak mau berangkat ke Mekkah dengan berkendara unta, “aku malu pada kakekku Muhammad bila pergi ke Makkah berkendara” begitu dia memberi alasan.

Saat usia 44 tahun Sayyida Nafisa hijrah ke Mesir, kedatangannya disambut dengan baik oleh oleh masyarakat mesir. Dia kemudian tinggal di kediaman Jamaluddin Abdullah Al Jassas, rekannya yang orang Mesir. Tiap saat rumah itu selalu dikerumuni orang yang hendak belajar, meminta do’a, ber-tabarruk dll. Merasa tak enak hati dengan pemilik rumah, Sayyida Nafisa memutuskan untuk pindah ke kediaman salah seorang temannya namun keadaan tetap sama seperti semula. Pada akhirnya Sayyida Nafisa merasa kehilangan waktu untuk khusyuk berdo’a dan berdua saja dengan Sang Pencipta. Dia menyerah dan memutuskan untuk kembali ke Madinah Al Munawwarah. Keputusannya ini jelas mengecewakan rakyat Mesir, mereka memohon salah satu keturunan Nabi itu tidak meninggalkan mereka. Saayida Nafisa pun tidak bisa menolak dan akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal di Mesir.

Sebagai rasa terima kasih, gubernur Mesir menghadiahkan sebuah rumah ditempat lain yang cukup luas untuk menampung banyak orang. Waktu berkunjung diatur pada hari2 tertentu sehingga Sayyida Nafisa mempunyai waktu luang untuk beribadah sendiri dan mengajar. Di rumah baru ini Sayyida Nafisa mengajar hukum Islam, Alquran dan hadits. Salah satu muridnya yang kemudian sangat terkenal adalah Imam Syafi’i yang datang lima tahun setelah Nafisa tiba di Kairo. Karena kecerdasannya Imam Syafi’i memimpin shalat di markas Sayyida Nafisa. Gurunya itu akan menjadi makmum dan berdiri di belakang. Pada suatu saat Imam Syafi’i sakit dan mengirim utusan untuk menemui Sayyida Nafisa. “Saudara sepupumu ini tengah berbaring sakit. Do’a-kan aku agar segera sembuh.” Begitu pesan yang dititipkan Imam Syafi’i buat gurunya. Sayyida Nafisa pun berpesan “Mudah-mudahan Allah akan bertemu dengannya. Sebuah pertemuan yang teramat baik”. Pesan tersebut dimaknai Imam Syafi’i sebagai pertanda bahwa saat kematiannya telah dekat. Ia lantas mengirimkan lagi utusan yang menyampaikan permohonan terakhir agar Sayyida Nafisa berkenan menshalatkan jenazahnya setelah ia meninggal. Sayyida Nafisa menshalatkan jenazah Imam Syafi’i di rumahnya tempat mereka biasa mengaji bersama.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di islam dan tag , . Tandai permalink.

15 Balasan ke Sayyida Nafisa

  1. zainal berkata:

    Izin tukar link, link Belajar Kehidupan sdh tpasang di blog ane,Kang..

  2. zainal berkata:

    Assalamu alaikum. .
    Akang benar. .saya baru mendengarnya,beruntung saya singgah ke mari. .Semakin menambah wawasan saya. .Terima kasih Kang.

  3. oma berkata:

    Seingat saya, ketika itu hanya laki-laki yang terekspos karena perempuan belum mempunyai kedudukan yang sejajar (budaya patriakal dan syariat Islam sering dijadikan dasar terhadap ketidakseimbangan kedudukan tersebut). Perempuan hanya diperbolehkan mengajari perempuan. Apakah orang-orang yang belajar ke Sayyida Nafisa hanya perempuan saja atau laki-laki juga?

  4. m anriyan berkata:

    salam kenal, slam persaudaraan
    saya abi nafisa, alhamdulillah menamai putri saya yg pertama dengan nama beliau, semoga kemulyaannya bisa mendekati beliau

  5. yisha berkata:

    wah akang benar, aku baru ini mendengar namanya. makasih kang udah ngenalin……… 🙂

  6. onesetia82 berkata:

    sumpah kang baru denger seorang ulama wanita Sayyida Nafisa …
    sangat keterlaluan ya saya kang … ?
    ternyata beliau selain cerdas beliau juga seorang wanita yg tangguh dalam menjalankan syariat Islam …
    semoga Allah SWT selalu memberkahi beliau kang …🙂

  7. Citra Taslim berkata:

    Subhanallah…
    teriakasih sudah share cerita ini kang.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s