Anekdot Orang Kikir


Dalam tradisi bangsa Arab menjamu musafir atau tamu adalah suatu keutamaan yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Menelantarkan musafir yang berkunjung ke rumah merupakan sebuah aib yang sangat mencoreng nama keluarga dan menjatuhkan martabat jika diketahui oleh masyarakat sekitar. Jika suatu keluarga Arab didatangi musafir maka musafir tersebut akan dijamu dan dicukupi perbekalannya. Namun demikian tradisi disana juga melarang seorang musafir untuk bertamu lebih dari tiga hari karena jika melakukannya akan juga menjatuhkan martabat sang musafir  bahkan martabat kelompoknya. Tradisi demikian tidaklah berlaku pada kebanyakan penduduk kota Merv. Penduduk kota Merv terkenal memiliki sifat kikir yang tiada taranya. Dari sekian banyak kekonyolan penduduk Merv adalah cerita berikut ini.

Pada suatu saat ada orang Merv yang mengerjakan ibadah haji sekaligus sambil berdagang singgah di rumah salah seorang penduduk Irak. Sesuai tradisi penduduk Irak itu memberikan pengormatan terbaik kepada tamunya. Ia menjamu dan melengkapi bekal tamunya. Atas segala penghormatan ini orang Merv itu berkata, “Seandainya suatu saat aku melihatmu di Merv, pasti aku membalas segala budi baikmu saat ini. Apalagi kebaikanku selalu bertambah seiring dengan bertambahnya hari. Engkau harus bersyukur, karena Alloh telah berkenan menuntunku ke rumahmu ini.”

Beberapa tahun kemudian  orang Irak itu melakukan perjalanan dan mengharuskannya singgah di Merv. Ia berniat mendatangi rumah orang yang pernah ditolongnya dahulu. Niat ini dipaksakannya mengingat ia sudah kehabisan bekal dan berada di ambang penderitaan. Dengan tetap memakai surban, peci dan tas yang biasa dikenakan musafir, ia datang bertamu dengan sejuta impian bahwa orang Merv itu bersedia meberikan pertolongan, sebagaimana kesediaannya menolong orang Merv itu beberapa tahun silam. Begitu sampai ditujuan ia pun segera memberi salam dan memeluk orang yang pernah ditolongnya itu. Anehnya orang Merv itu tidak memberikan reaksi apapun, jangankan menyambut, melontarkan sepotong pertanyaan pun tidak.

“Sahabatku ini lupa kepadaku karena pandangannya terhalang tutup wajah yang kukenakan,” gumam orang Irak itu dalam hati. Ia pun melepaskan tutup kepalanya. Diluar dugaan, orang Merv itu malah semakin menunjukan sikap tidak kenal.

“Mungkin ia tidak ingat kepadaku karena surban yang ku kenakan,” Ia pun melepaskan surban yang dikenakannya dan kemudian memperkenalkan diri untuk yang kedua kalinya. Namun keadaannya tidak bertambah baik. Orang Merv itu malah semakin berlagak tidak mengenalnya.

“Oh aku tahu sekarang. Ia lupa padaku pasti karena peci yang kupakai.” Terakhir orang Irak itu melepaskan pecinya. Rasanya sekarang tak ada lagi atribut lain yang menghalangi orang Merv itu untuk berlagak tidak kenal. Akan tetapi kenyataannya, ia masih saja menunjukkan sikap serupa. Bahkan diluar dugaan, ia berkata, “Seandainya engkau keluar dari kulitmu pun, aku tetap tidak akan mengenalmu. Sekarang pergilah engkau dari hadapanku”

Sumber pustaka : Anekdot Orang-orang Kikir; penerbit : Pustaka Hidayah.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

13 Balasan ke Anekdot Orang Kikir

  1. Miftah berkata:

    Hancurkan sifat kikir !

  2. Elon sitorus berkata:

    Memang dimana saja orang yg kikir itu sifat nya sama dgn kikir, besipun dgn halus pasti di kikis habis. Tks

  3. bensdoing berkata:

    semoga kita dijauhkan dari sifat kikir ya Kang…🙂

  4. anislotus berkata:

    assemmm banget tuh orang! huh!…
    moga terhindar dari sifat kikir ya Kang…

  5. Orin berkata:

    Hmmm…ternyata ada ya yg sekikir itu Kang..,

  6. mintarsih28 berkata:

    orang kikir selalu berbicara seandainya….

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s