Hilangnya Langit Malam

Sumber gambar : geofffox.com

Tiba-tiba saja listrik padam, padahal pada malam hari itu kami sekeluarga sedang asik menonton televisi didalam rumah. Kami pun kalang kabut mencari penerangan cadangan. Beruntung sebuah lampu darurat telah kami sediakan sejak kelahiran Gilar. Serta merta kegiatan menonton pun langsung terhenti berganti dengan ngobrol ngalor-ngidul. Namun kali ini pemadaman listrik berlangsung cukup lama. Seolah ada yang mengomando, orang2 di komplek mulai keluar rumah dan berkumpul diteras rumah salah satu tetangga. Anak – anak kecil sepertinya malah tampak terkesan dengan mati listrik kali ini, hal ini karena bulan sedang terang benderang. Anak-anak berlarian menikmati sinar bulan malam itu, para orang tua pun membiarkan saja keadaan itu karena didalam rumah pun keadaan gelap. Padahal jika sedang tidak ada pemadaman listrik sudah pasti anak-anak akan dilarang berlarian diluar rumah apalagi saat malam hari. Aaah ternyata suatu keadaan yang menyusahkan kita terkadang menjadi keasyikan tersendiri bagi anak-anak.

Pikiran akang langsung melayang ke masa lalu saat-saat di kampung. Saat kampung akang belum dialiri listrik PLN, malam-malam saat terang bulan adalah saat yang ditunggu-tunggu. Di malam bulan purnama kami biasa bermain dijalan desa, berlarian atau permainan lainnya.
“bulantok…bulantok…”
“aya bulan sagede batok…:

Sepenggal syair anak kampung menyambut bulan purnama yang berarti ” ada bulan sebesar batok (kelapa)”. Para orang tua ikut berkumpul sambil mengawasi anak-anaknya. Orang tua sering bercerita tentang Nini Anteh dan kucingnya. Konon menurut cerita, Nini Anteh dan kucingnya pergi ke bulan dengan menanam tanaman yang tumbuh tinggi hingga mencapai bulan. Kemudian mereka menaiki tanaman itu dan sekarang mereka berdua berada di bulan sana. Kami pun saat itu percaya bahwa sebentuk gambar yang terdapat pada bulan tersebut adalah Nini Anteh dan Kucingnya.

Ikatan yang terjadi antara kami dengan langit malam sungguh kuat pada saat itu. Kegelapan yang menyelimuti kampung membuat keindahan langit malam menjadi hiburan tersendiri buat kami. Keasyikan menonton layar dari kotak bergambar yang disebut televisi sungguh suatu hiburan yang mahal saat itu. Hanya ada tiga keluarga yang mempunyai televisi dikampung kami dan itu pun menggunakan tenaga aki. Maka hanya acara tertentu saja kami menonton televisi bersama seperti tinju Elias Pical atau Liem Swie King yang sedang memperebutkan piala Thomas. Selebihnya hiburan kami saat malam hanya suara jagkrik atau suara kodok disawah dekat perkampungan. Memandangi langit malam selalu saja membangkitkan lamunan kami tentang segala hal. Membayangkan suatu saat kami bisa membuat kapal terbang yang bisa pergi ke bulan bahkan menjelajah bintang senantiasa menghiasi khayalan kami. Kedipan bintang-bintang seolah putri jelita yang menggoda siapa saja yang memandangnya untuk mendatanginya.

Horee…..!!!!! listriknya udah nyala!!!!
Teriakan anak-anak cukup untuk menjemput akang dari lamunan tentang masa lalu. Anak-anak pun langsung disuruh para orang tua untuk kembali kedalam rumah masing2. Mereka kembali menikmati benderangnya bumi yang sesaat gulita karena listrik padam. Keindahan langit malam pun menghilang dibalik layar-layar televisi yang menyala kembali. Anak2 kini memang sudah tidak memperhatikan lagi kapan saat bulan purnama, kapan saat tidak ada bulan. Sekarang setiap malam selalu benderang dengan atau tanpa sinar bulan. Keindahan langit malam pun kini luput dari perhatian anak-anak. Ah..mungkin juga kita!!!!

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Hilangnya Langit Malam

  1. Ely Meyer berkata:

    saya paling suka lihat langit malam, menghitung bintang, memandangi bulan, memotretnya berkali kali, maklum masih tinggal di kampung

    • abi_gilang berkata:

      Selamat bersenang-senang karena akan sangat sulit menemukan kebahagiaan serupa jika sudah tinggal di perkotaan dan disibukkan dengan segala macam pekerjaan.

  2. bensdoing berkata:

    sya sekarang kalo malam2 mau ambil sesuatu di toko….suka menyempatkan sebentar lihat langit pada saat itu Kang….🙂

  3. Orin berkata:

    Akaaaang, jadi sono ih, waktu kecil jg suka bgt nyanyi bulan tok, trus didongengin si nini Anteh hohohoho

  4. Noer berkata:

    Kunjungan siang-siang sobat, untuk mbaca tulisannya. Sukses selalu ya …

  5. Hijihawu berkata:

    Sudah lama tidak ngajak anak-anak melihat keindahan langit malam. Kesentil saya Kang.🙂

  6. yisha berkata:

    setuju! hiksssssssssssss…….

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s