Peringatan Bagi Para Lajang, Cerita Bagi Suami Istri

Sumber gambar : kfk.kompas.com

“…setelah semua peristiwa yang menimpa mereka, akhirnya takdir pun mempersatukan mereka dalam ikatan perkawinan, dan mereka pun hidup bahagia selamanya.”

Penggalan kalimat diatas tentunya terasa akrab bagi para penyuka novel percintaan atau bahkan film – film di bioskop atau televisi. Sebuah cerita yang berujung “happy ending” biasanya lebih disukai oleh pembaca atau penonton. Bagi seseorang yang belum menikah, cerita tentang pernikahan yang indah yang terdapat dalam cerita novel mampu mengaduk-aduk perasaan. Bayangkan saja cerita tentang sepasang kekasih yang saling mencintai harus menghadapi berbagai rintangan bahkan sampai berdarah-darah sebelum menuju indahnya mahligai pernikahan.

Namun yang sangat akang sangsikan adalah jika pembaca novel atau penontonnya adalah orang yang telah menikah lalu merasakan hal yang sama. Tentu saja hal ini sangat subyektif, karena mungkin ada sebagian orang yang melalui jenjang pernikahan yang sesuai dengan cerita-cerita “happy ending” tersebut. Pada umumnya pasangan yang menikah akan merasa bahwa cerita- cerita dalam novel adalah benar-benar hanya sebuah cerita yang fiktif. Pernikahan tidak dirasakan sebagai ujung dari perjuangan panjang yang berdarah-darah. Tidak juga dirasakan sebagai akhir dari pembuktian kata-kata cinta yang mengalir deras sebelum menikah.

Sebelum melewatinya, pernikahan akan tampak bagai gunung emas yang begitu elok dan menggoda bagi yang memandangnya. Semua hasrat dan keinginan seolah akan terpuaskan manakala kita telah berhasil memilikinya. Berbagai upaya dilakukan dari mulai mempercantik dan mempertampan diri agar mudah mendapatkan pasangan yang akan membawa kita kepada sebuah pernikahan. Atau bisa juga berbagai janji diumbar untuk meyakinkan seseorang agar tak terlepas dari tangan kita. Namun manakala pernikahan telah terlaksana seolah semua fantasi tentang indahnya pernikahan lenyap begitu saja. Ada perasaan kaget manakala menyadari diri telah terikat dalam suatu ikatan pernikahan. Suatu ikatan yang tidak sembarangan nilainya karena merupakan perjanjian lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Menurut pendapat yang pernah akang baca hal ini disebabkan karena kita belum memahami perbedaan asmara dan cinta. Sebelum menikah mungkin kita hanya dimabuk asmara. Selalu ingin bersama kekasih setiap saat dimana pun berada. Pikiran tidak bisa lepas dari bayangannya, seakan-akan sambil apapun yang dilakukan selalu teringat “sidia”๐Ÿ™‚ . Sedangkan kata CINTA lebih mengandung unsur tanggung jawab daripada sekedar asmara. Gambaran orang yang dimabuk cinta bisa jadi seperti gambaran diatas dimana seorang laki-laki rela menerima pekerjaan penuh resiko diatas gedung tinggi demi cintanya kepada sang istri. Tidak seperti gambaran orang dimabuk asmara yang ada di sinetron2.


Sumber gambar : islamgate.org

Kebiasaan pasangan yang sebelum menikah bisa kita terima tanpa persoalan terkadang menjadi masalah besar saat telah menikah. Dahulu ada seorang kawan berkata bahwa ia mempunyai pacar yang punya kebiasaan selalu harus rapi dalam segala hal. Selain itu pacarnya juga galak (dia bilang sih berperangai tegas). Padahal yang akang tahu kawan akang ini orangnya tidak bisa rapi dalam segala hal. Dikamar kost segalanya berantakan, begitupun dengan penampilan yang ala preman. Akang pun berkata “kenapa kamu mau jadi pacarnya kalo tahu pacarmu galak?”. Dia beralasan bahwa dengan pacarnya yang sekarang dia merasa bisa belajar berubah menjadi orang yang lebih baik. Dia merasa nantinya akan menjadi orang yang lebih rapih dan tidak urakan. Begitulah bahasa orang yang dimabuk asmara membara๐Ÿ™‚ . Namun setelah menikah cerita pun berganti, kini kawan akang merasa bahwa istrinya terlalu mengatur dirinya dalam segala hal. Sekarang keluhannya melulu tentang istrinya yang galaknya minta ampun katanya. Hilang sudah cerita tentang ingin menjadi seorang yang lebih baik dan tidak urakan. Namun walaupun demikian mereka berdua tetap bersama karena cinta keduanya lebih besar dari sekedar asmara.

Tapi dalam hal ini akang tidak bermaksud menakut-nakuti anda yang belum menikah. Bagaimanapun menikah lebih indah daripada tidak menikah. Warna kisahnya lebih beragam, alur ceritanya lebih berliku, arus masalahnya lebih menggelora, asam manisnya lebih berasa (lebaydotcom):mrgreen: . Oleh karena itu ayo…ayo…menikahlah…jangan pernah ragu….!

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

23 Balasan ke Peringatan Bagi Para Lajang, Cerita Bagi Suami Istri

  1. Imron Rosyadi berkata:

    tolong doakan kang, 2013 sebelum lebaran, saya dah menikah.๐Ÿ™‚

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s