Zirameila (dalam paragraf)


Sumber gambar : beling.net

Jeda membawaku ke dermaga ini. Tempat dimana kita pernah singgah bersama disini. Saat itu perahuku masih terikat sauh dermaga. Masih ingatkah kau saat aku selalu mengajakmu menyiapkan perbekalannya. Entah untuk bekal apa, entah untuk menuju kemana. Tanda – tanda yang berserakan pada peta itu sebagian adalah tanda yang kau coretkan. Terkadang coretan itu bertumpuk ditempat yang sama, atau seringkali kau memaksaku menandai tempat yang kau inginkan. Seakan kita hendak mendatanginya bersama. Padahal kau selalu bercerita tentang perahu yang samasekali tidak seperti perahuku. Perahu yang selalu kau tanyakan “kapan layarnya ingin kau bentang?” . Sebuah petanyaan yang selalu lenyap bersama jeritan camar diantara gemuruh ombak. Aku pun tak pernah bisa menjawabnya saat berkutat dengan layar yang tak pernah terkembang, atau bekal yang tak pernah cukup. Namun masih saja aku tak bisa menyelesaikan semua tanpa bantuanmu. Mungkin juga kubuat perahu ini karena kita singgah bersama di dermaga ini. Tidak! Mungkin perahu ini terbuat karena semua memang seharusnya. Perahu yang terbuat karena sebuah peta atau perahu yang telah menemukan mercusuar tujuan. Kau yang hadir disini mungkin telah mempunyai peta. Kau juga telah memilih mercusuar mana yang kau tuju. Atau kau hendak berlayar dengan perahumu sendiri. Sungguh sebelumnya aku tak sempat memikirkannya. Hingga suatu ketika kau datangi perahu dia.

Aku terhentak dan bergegas. Segera membentang layar. Memburu peta dan kembali membuat beberapa tanda. Terburu-buru melepas sauh dermaga. Terhuyung menambah bekal. Kembali aku meminta bantuanmu seperti biasa. Kau pun datang dengan sekali lagi membawa tanya “apakah kita akan berlayar kali ini?”. Tanyamu kali ini tidak seperti biasa sedangkan aku tetap bisu seperti biasa. Tanya itu kembali hilang dibalik layar yang kusut. Dibawah peta yang kita pernah tandai bersama. Dibalik bekal yang tak pernah cukup. Dibawa suara burung camar mengitari debur ombak. Semua karena petaku tanpa mercusuar, tali sauh perahuku tak sanggup kulepaskan dan aku adalah nahkoda yang tak pernah puas dengan bekalnya.

Kini coretanmu memenuhi petanya, melingkari mercusuar yang jadi tujuannya. Perahunya yang kini berlayar bersama nahkoda yang sanggup melepas sauh sebelumku. Mampu mengembangkan layar didepanku. Meninggalkanku didermaga ini. Bersama peta tanpa tanda. Bersama perahu tanpa layar. Bersama jerit camar dibalik ombak. Dipantai tanpa mercusuar. Didermaga ini bersama jeda.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Puisi dan tag . Tandai permalink.

22 Balasan ke Zirameila (dalam paragraf)

  1. nadiaananda berkata:

    Sangat menginspirasi sekali.. Menulislah Selagi Kita Masih Bisa Berkarya..🙂 Semangat..

  2. nadiaananda berkata:

    Semangat.. Semangat untuk indonesia dan para blogger semuanya.. Ayo kita menulis dan berbagi..🙂

  3. nadiaananda berkata:

    Pass banget nih om kita harus saling berbagi.. Ada yang mau Gorengan?? Ni ane punya’ ni… hehehe.. Biar semangat!!

  4. jaka berkata:

    Salam Kenal Untuk Semuanya Yaa…🙂

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s