Anak Simalakama

Bulan Ramadhan yang datang sekali dalam setahun selalu menjadi kesempatan untuk para orang tua mengajarkan anaknya berpuasa. Hal ini terutama dilakukan oleh para orang tua dengan anak yang masih kecil antara 5 sampai 9 tahun. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mengajarkan kebiasaan yang baik bagi anak-anaknya. Berbagai hambatan yang ada harus diatasi sedemikian rupa untuk mendidik anaknya. Kali ini yang ingin akang ceritakan adalah sulitnya mendidik anak yang lebih dari satu dengan beda usia beberapa tahun. Keseharian anak-anak yang bersaudara seringkali merupakan hari-hari yang gaduh dan ramai. Setiap saat selalu saja ada yang diperebutkan entah itu mainan atau apapun. Dalam menghadapi ini biasanya para orang tua meminta anak yang lebih besar untuk selalu mengalah. Setidaknya itulah yang akang alami dahulu jika berebut sesuatu dengan saudara. Jika berebut dengan adik maka akang yang harus mengalah dan cenderung disalahkan. Namun saat hal sama terjadi dengan kakak maka akang-lah yang lebih dimenangkan. Kini para orang tua sudah lebih cerdas dan menyadari bahwa meminta “sang kakak” untuk selalu mengalah bukanlah tindakan yang baik. Selain menyebabkan sang adik manja hal itu juga menyebabkan sang kakak tidak percaya diri.

Cerita lain yang akang dapat dari teman akang bisa jadi contohnya.
Dia mempunyai dua orang anak laki-laki berumur 8 thn dan 4 thn. Di bulan puasa ini dia mati-matian mengajarkan anak pertamanya untuk berpuasa. Perjuangan dimulai sejak membangunkan sahur yang selalu menguras kesabaran karena anaknya yang sulit bangun saat sahur. Jika pun berhasil melaksanakan sahur maka biasanya si anak akan sangat manja di siang hari. Semua keinginan diungkapkan dengan ancaman akan membatalkan puasanya jika tidak dituruti. Di usianya yang ke-8 ini anaknya sudah mengerti “posisi tawar” untuk mengancam orang tuanya yang sangat menginginkan anaknya tidak batal puasa.

Pada suatu hari mereka jalan-jalan dengan tidak lupa mengajak kedua anaknya. Sesampainya di pusat keramaian, sang adik yang tidak berpuasa ingin dibelikan makanan. Pada awalnya sang kakak tidak mempermasalahkan hal tersebut. Namun ketika melihat makanan yang dibeli ada didepan mata tiba-tiba saja sang kakak menginginkannya juga. Kedua orang tuanya tentu saja segera membujuk agar sang kakak menahan keinginannya. Walaupun dibujuk sedemikian rupa sang kakak tak bergeming bahkan mengancam jika tidak boleh membatalkan puasa maka adiknya juga tidak boleh memakan makanan tersebut. Padahal sang adik jelas-jelas terlihat lapar setelah ikut jalan-jalan. Ibunya berusaha mengurangi penderitaannya dengan memberi minuman. Sang kakak bertindak lebih jauh dengan menyandera makanan sang adik karena takut ibunya memberikannya secara diam-diam. Akhirnya kedua orang tuanya memutuskan untuk segera pulang. Sesampainya di rumah sang kakak diajak bermain oleh teman-temannya sehingga sang adik pun akhirnya bisa menikmati makanannya. Sementara sang kakak asyik bermain dan puasanya selesai hingga kumandang adzan maghrib.

Mendengar cerita itu akang malah mengingat kedua anak akang. Gilang yang menyandang Cerebral Palsy dan Gilar adiknya seringkali mempunyai kepentingan yang berbeda. Gilang dan Gilar seolah berada di dua kutub yang berbeda yang sangat sulit untuk disatukan. Jika mengikuti salahsatunya maka akan merugikan yang lainnya. Gilar yang berusia satu tahun dan mulai belajar jalan membutuhkan ruang yang luas untuk “mengeksplorasi” dunia ini. Sedangkan Gilang dengan keadaanya terbatas oleh ruang bahkan oleh raga-nya sendiri. Tidak mudah bagi akang dan istri mengatur waktu agar kebutuhan Gilar dan Gilang terpenuhi semua. Yang paling sering kerepotan adalah Si Uwa (pengasuh). Jika akang dan istri sedang bekerja maka dia harus pandai menyiasati keinginan Gilar dan Gilang. Gilar yang sedang senang menjelajahi lingkungan sekitar rumah memaksa Si Uwa untuk mengikutinya. Di saat yang sama Gilang tidak bisa ditinggalkan begitu saja di rumah.

Beberapa waktu yang lalu akang sekeluarga jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Sesampai disana Gilang langsung rewel karena suasana pusat perbelanjaan membuat dia tidak nyaman. Hiruk pikuk orang berbelanja dan suara disekitarnya adalah hal yang tidak disukai Gilang. Sehari-hari Gilang menyukai suasana yang sepi dan hanya ditemani oleh suara radio atau televisi. Akang pun meminta istri untuk mempercepat belanjanya. Tetapi disaat yang sama Gilar begitu menikmati suasana ramai dan lampu-lampu yang menarik perhatiannya. Gilar seolah menemukan dunia baru, semua benda yang terlihat ingin diraihnya. Jika keinginannya tidak dituruti maka dia segera saja merengek dan menangis. Satu hal yang paling disukai Gilar adalah naik turun eskalator. Melihat hal itu akang pun tidak tega untuk menghentikan kesenangan Gilar. Akhirnya akang mengalah dengan membiarkan Gilar menjelajah “dunia baru”-nya bersama istri, sedangkan akang membawa Gilang untuk menunggu di mobil sambil diperdengarkan radio.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Akbar, Cerita Gilang dan tag . Tandai permalink.

16 Balasan ke Anak Simalakama

  1. Emih Mustham berkata:

    Semua orang tua ingin berusaha adil, namun manusia itu sangat terbatas kemamuannya, dan hanya itu yang dapat diberikannya, semoga anak-anak mengerti

  2. herlin berkata:

    sy justru disarankan oleh dokter rehabilitasi medik anak sy Al, utk mempunyai anak lg, dlm hati sy ragu krn mengurus Al saja sy merasa krg maksimal, bgm kalau ada adik buat Al?! Sy takut ga bisa fokus dg kndisi Al yg CP jg Atropy Cerebri..
    Bgm mnrt akang??
    Slm sayang buat gilang-gilar..juga bunda’y yg super sabar

    • abi_gilang berkata:

      Saya dan istri bisa memahamai apa yang Mb Herlin rasakan karena kami pun pernah mengalami hal yang sama. Tetapi setelah Gilang mempunyai adik rasanya tidak ada yang berkurang perhatian kami kepada Gilang. Malah kami merasa mendapat banyak manfaat dengan mempunyai anak lagi. Secara mental kami lebih bersemangat menjalani hari2. Kami juga lebih memahami sikap Gilang jika berinteraksi dengan adiknya. Sejujurnya kami tidak berharap banyak dr perkembangan Gilang, ternyata Gilang memberi reaksi berbeda jika berinteraksi kepada adiknya dibanding kepada kami ibu-bapaknya. Dan Mba Herlin tahu sendiri bagi kita reaksi seperti itu saja sudah bisa memberi kebahagiaan yang besar. Selain itu kami jadi tahu bagaimana Gilang punya rasa cemburu kepada adiknya, bagaimana Gilang ingin bermain bersama adiknya, atau reaksi Gilang saat adiknya mengelus dirinya. Hal-hal seperti itu menurut kami memberi kebahagiaan juga bagi kami semua. Jika kita terus berpikir takut “mengabaikan” anak istimewa kita maka sepanjang waktu kita akan terus dihantui perasaan itu. Jika Mb Herlin ingin sharing lebih banyak dengan istri saya atau saya sendiri bisa lewat e-mail aja ( gilang_abi06@yahoo.com).

  3. Citra W. Hapsari berkata:

    semoga selalu diberi kekuatan extra untuk anak2 luar biasa itu…🙂

  4. srierizky berkata:

    Orang tua yang bijaksana..
    Mudah-mudahan dengan mengajarkan kebaikan kepada anak sejak dini menjadi ladang amal kebaikan yang berbuah nanti di masa depan dan akhirat..
    Salam kenal🙂

  5. della berkata:

    Emang harus kreatif kalau punya anak, Kang. Apalagi kalau anaknya lebih dari satu gitu🙂
    Yang penting tetap semangat🙂

  6. yisha berkata:

    akang,……….. salam sayang yisha ke gilang dan gilar yaaaaaa…………

  7. sweetyvinz berkata:

    berbeda individu beda pula kesenangannya ya kang😀

  8. baca tulisan ini teringat masa kecil.😀 saya sering merasa di nomor duakan dan merasa bahwa adik saya lebih di utamakan:mrgreen: hahahahahaha

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s