Yang Dibuang Sayang

Tiba-tiba saja pandangan mata ini tertuju pada sebuah koin yang terselip diantara berbagai barang di dalam laci. Uang koin pecahan sepuluh rupiah yang tertulis cetakan tahun 1979. Keisengan akang timbul dengan koin yang satu ini. Akang pun segera mengambil kertas hvs bekas yang masih tersisa sedikit ruang untuk diisi. Pensil akang dapatkan ditempat peralatan menulis milik istri. Sambil tersenyum sendiri akang meletakkan koin tersebut diatas meja. Pikiran akang langsung melayang ke masa 25-30 tahun yang lalu. Kertas hvs akang letakkan diatas koin tersebut dengan posisi koin berada diruang kosong yang hendak akang isi. Tangan akang mulai bergerak menggesek-gesek ujung pensil dengan tekanan tertentu persis diatas koin. Gesekkan yang sepertinya sembarangan perlahan-lahan memunculkan garis-garis, semakin lama garis-garis membentuk gambar. Senyum akang semakin lebar manakala gambar yang terbentuk hampir sempurna. Setelah puas dengan gambar yang terbentuk, koin tersebut akang balik dan melakukan hal yang serupa pada sisi koin yang lain. Dua bulatan dengan gambar utuh telah terbentuk. Sisi pertama bertuliskan “Bank Indonesia 1979” dan nilai nominal koin tersebut “10 rupiah”. Sisi yang lainnya bergambar celengan dengan tulisan “menabung untuk menunjang pembangunan”.

Mengapa gambar tersebut begitu terasa istimewa karena sejujurnya manggambar dengan cara menggesek pensil diatas uang koin adalah cara termudah untuk menggambar. Sejak masuk sekolah mungkin gambar tersebut adalah gambar terbaik yang pernah akang buat. Walaupun menggambar adalah kegiatan yang menyenangkan tetapi biasanya akang sering merasa kecewa diakhir kegiatan. Maklum saja karena menggambar merupakan salah satu keterampilan yang membutuhkan “bakat”. Sedangkan dalam hal menggambar akang merasa hanya memiliki sedikit bakat dibidang itu. Hal ini dibuktikan dengan komentar guru melukis yang mengomentari gambar kambing yang akang buat dengan komentar “ gambar kelinci kamu bagus lho…!”. Dengan menggambar koin seperti diatas akang yakin guru melukis akang tidak akan mengomentari gambar tersebut dengan mengatakan “ gambar bola-nya bagus lho…!”. Bagi sahabat yang punya pengalaman dengan gambar koin seperti diatas silahkan bernostalgia disini.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

42 Balasan ke Yang Dibuang Sayang

  1. rurimadani12 berkata:

    saya ketawa baca bagian ini kak : gambar kambing yang akang buat dengan komentar “ gambar kelinci kamu bagus lho…!”.😆
    masa segitu parahnya sih kaak ?😛

  2. giewahyudi berkata:

    Hhahaha, jadi keinget dulu waktu masih SD suka usek-usek gambar kayak gini waktu bosen di kelas. Dan yang paling sering adalah gambar gunungan wayang itu.

    • abi_gilang berkata:

      Soalnya uang koin 100 rupiah yang bergambar gunungan wayang waktu itu adalah uang koin dengan ukuran terbesar sehingga menjadi koin favorit untuk dijadikan gambar gesek.

  3. kezedot berkata:

    yang ada si pedagang pasang muka masam sambil kumat kamit nggak karuan…….hahahhahaa

  4. Asslaamu’alaikum wr.wb,
    Maaf baru sempat membalas kunjungan. Terima kasih sudah singgah ke blog saya.

    Dalam kesempatan yang ada (sibuk) hari ini, saya dengan hati yang tulus ikhlas ingin
    mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IEDUL ADHA 1433H.

    Semoga takbir yang bergema membawa seribu keberkatan bersama-sama erti pengorbanan sebenar.

    MAAF ZAHIR DAN BATIN.

    Salam Iedul Adha dari Sarikei, Sarawak.

  5. Ikakoentjoro berkata:

    Jadi inget jaman SD dulu. Beli nasi gudeg di sekolah pake uang koin itu🙂

  6. Wong Cilik berkata:

    jadi ingat masa kecil …🙂

  7. Idah Ceris berkata:

    hahhaahah. . .
    Aku dulu sering gambar pakai uang seratus rupiah, yang gambar gunung itu, kang.😀
    Bener2 mengingatkanku pada saat kecil dulu.

    Kirain itu yang gambar Akbar, ternyata akang ya?😆

  8. Orin berkata:

    Akaaaangg…aku suka jajan pake uang itu, kerupuk sambel, enaaak dehhh *nostalgia masa kecil*

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s