Sang Penantang Angin

Masih cerita tentang mudik Idul Qurban yang lalu. Akang sedikit kaget ketika melihat sepupu akang yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar sedang menenteng baling-baling bambu. Dalam pikiran akang biarpun di kampung tetapi anak-anak sekarang sudah jarang yang tertarik dengan permainan tradisional. Hadirnya game-game yang dimainkan dengan bermacam gadget menjadi permainan favorit dimana-mana termasuk di kampung-kampung.

Melihat hal demikian akang sedikit bersyukur ternyata masih ada tersisa permainan yang biasa akang mainkan dahulu bersama teman-teman. Baling-baling bambu memang sederhana dan tidak sulit untuk dibuat. Untuk memutarnya diperlukan hembusan angin yang cukup kuat. Jika tidak ada hembusan angin yang kuat maka kita harus berlari sambil mengacungkan baling-baling kedepan. Semakin kencang kita berlari maka putaran baling-baling juga akan semakin kencang. Bahkan jika putaran telah mencapai puncaknya kemudian baling-baling kita hentak ke depan lagi maka akan menimbulkan bunyi dengung yang nyaring. Hati pun dijamin akan membuncah karena gembira saat mendengar suara tersebut.


Selain baling-baling yang ditenteng terkadang baling dibuat dengan memakai tiang. Ukuran tiang akan disesuaikan dengan ukuran baling-baling, semakin besar baling-baling maka semakin besar pula tiang yang dibutuhkan. Anak-anak memasang baling-baling bertiang tersebut didepan rumah atau ditempat lain yang mereka suka.


Permainan ini akan lebih seru lagi jika dimainkan rame-rame. Dahulu akang sering berlomba balap lari dengan memainkan baling-baling. Selain lomba lari kami juga mengadu suara baling-baling siapa yang paling nyaring. Walaupun memainkan baling-baling harus sambil berlari-lari kami tetap merasa senang dan seolah lupa dengan rasa lelah.

Baling-baling bambu ternyata bukan hanya permainan anak-anak. Para pemuda bahkan orang dewasa pun masih terlihat antusias membuat baling-baling ini. Seperti foto baling-baling diatas yang terletak dipinggir kampung. Namun sayang sepertinya tiang baling-baling tersebut sudah tidak sanggup menahan tekanan angin yang terus menerus menerpanya. Semoga saja baling-baling yang tak pernah takut menantang angin ini masih tetap dimainkan oleh generasi nanti.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

25 Balasan ke Sang Penantang Angin

  1. misti_rious berkata:

    saya rinduuu dg suara kolecer yg menderu,bersaing dg deru angin…di belitung saya cb bkin tp ko gak menderu kayak di puncak ya? Ada yg tau gk gmna cara bkin nya?

    • abi_gilang berkata:

      Yang pasti tiangnya harus kuat tetapi lentur. Ketika angin berhembus dorongan angin pada baling2 yang berputar bisa membuat tiang melengking ke belakang sampai lengkingan maksimal maka tiang akan seketika melecut kedepan, nah suara menderu dihasilkan oleh lecutan tiang seperti ini.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s