Riding In The Rain

Setelah hampir tiga minggu Seli tidak diajak jalan-jalan ketempat yang jauh akhirnya hari ini Seli mengakhiri masa hibernasi. Tentu saja sebelum jalan-jalan Seli mendapat servis yang memuaskan dari Akang. Body dicuci hingga kinclong, rantai bersih serta dilumasi, baut-baut yang kurang kencang telah kembali diposisi yang seharusnya sehingga dijamin saat ditunggangi tak akan ada bunyi berdecit. Acara jalan-jalan hampir saja batal ketika melihat awan mendung memenuhi penampakan langit. Namun otot kaki yang lama tidak dipake gowes seolah meronta ingin segera beraksi. Apalagi Seli tampak siap tanding seolah ikut menyoraki sang otot yang gembira.
Sebenarnya tidak se-lebay itu motivasi akang untuk gowes siang tadi. Seli memang sedikit “dipaksa” untuk menemani akang menjemput Neng Mio yang lagi mudik ke rumah mertua. Rencananya saat pulang nanti Seli akan digendong Neng Mio pulang ke rumah. Untuk mengantisipasi awan mendung yang terus saja menggelayut di angkasa, akang pun tak lupa membawa ponco yang biasa dipakai naik motor. Walaupun ponco telah disiapkan tetap saja akang lebih senang gowes dalam keadaan kering daripada harus gowes saat hujan. Akang pun memacu Seli dengan kecepatan maksimal dan berharap sampai di rumah mertua sebelum hujan turun. Selama memacu Seli mata sekali-kali memandang langit sambil berdo’a agar hujan jangan segera turun.

Do’a akang sepertinya dikabulkan sehingga ponco yang dibawa masih tetap nangkring ditempat semula. Seli yang telah menunaikan tugasnya langsung akang lipat untuk kemudian digantikan tugasnya oleh Neng Mio. Tentunya berganti kendaraan berganti juga aksesoris yang dipakai, bergitu juga helm yang dipakai diganti dengan helm milik Neng Mio. Namun ada satu hal yang akang lupa, jika berdo’a jangan berdo’a yang nanggung. Saat berangkat do’a akang agar jangan dulu turun hujan sebelum akang sampai di rumah mertua. Saat kembali pulang ternyata hujan malah turun dengan derasnya. Alhasil akang pulang dengan basah kuyup dan sepanjang jalan terus memikirkan judul tulisan yang bakal akang posting di blog ini. “Riding In The Rain” sebagai pengganti judul yang terpikirkan saat berangkat sebelumnya yaitu “Gowes In The Rain”.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Goseli dan tag . Tandai permalink.

20 Balasan ke Riding In The Rain

  1. Lia berkata:

    Nyamannya matic, seli pun bisa tidur di Neng Mio. Betul juga Kang, kalo brdo’a harus lengkap.🙂

  2. kangyaannn berkata:

    jadi inget pulang ngembun tengah malam di guyur hujan gak bisa pacu si juvy, maklum kedinginan kang…. lucunya pas mulut gang masuk ke kampung nyungsep ke sawah haha…. apees tambah lagi sendal ilang sebelah haaa aya ya wae…..

  3. Larasati berkata:

    gak jelas kang foto seli nya…

  4. mintarsih28 berkata:

    menarik bi klo doa jangan nanggung

  5. Ely Meyer berkata:

    lihat motornya kok jd ngeri ya Kang

  6. yisha berkata:

    cie cie cie……akang asyik nih ama seli………… 😀

  7. bensdoing berkata:

    mntabs nich kang gowesnya… mnggu dpn klo cuaca bgus, gobar lgi kang..

  8. lambangsarib berkata:

    ketuker helm waktu gowes pernah nggak ? Hehehe….

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s