Pagi Yang Tak Asing

lupa

Hari akang dimulai dengan dibangunkan oleh deru suara motor tetangga depan rumah yang selalu berangkat kerja jam empat pagi. Setelah ritual subuh di masjid berakhir, pulang ke rumah disambut dengan kesibukan pagi masing2 penghuni rumah. Pengasuh menyiapkan sarapan pagi sedangkan istri akang mencoba me”nina-bobo”kan lagi Gilang dan Akbar dengan mengaji. Karena jika Akbar dan gilang telah bangun maka kerepotan kami akan bertambah. Akbar dan gilang masing2 minta diperhatikan dan tak ada yang mau mengalah. Di pagi hari akang seolah berlomba dengan detik-detik mengingat jarak perjalanan ke tempat kerja cukup jauh. Sebagai perantau di Jakarta tentunya akang sudah faham tentang kemacetan jalan yang setiap hari harus dihadapi. Waktu yang targetkan targetkan untuk berangkat dari rumah adalah jam enam pagi dan tak boleh lewat. Waktu dua jam sejak bangun tidur hingga berangkat kerja terasa kurang memadai sehingga target waktu berangkat seringkali tinggal keinginan belaka.

Satu “penyakit” yang sulit hilang dari kebiasaan akang adalah LUPA. Entah itu lupa menyimpan kunci motor kemarin sore, lupa mengeringkan jas hujan yang basah, lupa mengisi bensin yang mepet sedangkan antrian di spbu di pagi hari bisa membuat stres. Istri akang yang cerewet dan baik hati tak pernah bosan menceramahi akang tentang “TIME MANAGEMENT”. “Makanya persiapkan segala sesuatu itu malam sebelumnya” ceramah yang biasa akang dengar dan biasa pula akang lupakan.:mrgreen:

ponsel saja

Ketinggalan suatu barang saat berangkat kerja menjadi hal yang tak asing buat akang.😆 Namun bukan berarti akang akan segera putar balik ke rumah saat mengingatnya ditengah perjalanan. Pertimbangan jenis benda dan jarak tentunya menjadi pertimbangan untuk memutuskan kembali ke rumah atau tidak. Jika ketinggalan jas hujan maka akang akan kembali ke rumah jika jarak dari rumah belum melebihi tiga kilometer. Akhir-akhir ini musim hujan mulai melanda sehingga jas hujan adalah benda yang “haram” ketinggalan jika bepergian naik motor. Tapi hal ini tak berlaku untuk telepon genggam, akang tak akan kembali walau jarak dari rumah baru seratus meter. Ketinggalan telepon genggam atau ponsel bagi akang tidak berarti banyak. Akang adalah pengguna ponsel yang hanya menggunakan ponsel untuk menelepon dan pesan singkat saja (karena ponsel yang tak mendukung).

Nah sahabat blogger sendiri jika bepergian terus ketinggalan ponsel, maka pada batas jarak berapakah anda akan kembali lagi ke rumah untuk mengambil ponsel????

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

27 Balasan ke Pagi Yang Tak Asing

  1. della berkata:

    Ktinggalan HP mah nggak akan balik lagi, hehehe..
    Nggak penting-penting amat sih😉

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s