Pensiun Dan Menjaga Tradisi

sapu uyun

Menikmati akhir pekan bersama keluarga sungguh menyenangkan. Anak-anak merasa senang karena seharian mereka bisa dekat dengan akang dan ibunya. Kami melewatkan akhir pekan biasanya dirumah saja atau sering pula di rumah mertua di Bogor sana. Kami jarang sekali berakhir pekan ke tempat wisata alasannya terutama karena masalah finansial. Terlebih lagi untuk memilih tempat wisata kami harus benar-benar memilih tempat yang mempunyai fasilitas yang memudahkan bagi kaum disabilitas. Berwisata dengan membawa Gilang yang harus memakai kursi roda bisa jadi berantakan jika di tempat tersebut tidak menyediakan fasilitas untuk pengunjung dengan kursi roda. Memang saat ini kami cuma bisa mimpi di negeri ini memiliki fasilitas umum untuk kaum disabilitas seperti yang akang lihat di negeri sakura (walaupun cuma lewat televisi). Jepang memang dikenal sebagai negara yang sangat memperhatikan kaum disabilitas.

Kembali ke masalah libur akhir pekan, saat gowes pagi tadi akang melihat sepasang suami istri yang sedang berolah-raga bersama. Mereka sepasang suami istri yang sudah tua dan tampaknya sedang menikmati masa pensiunnya. Terlintas dipikiran akang alangkah bahagianya jika akang dan istri ditakdirkan bisa menikmati masa pensiun seperti mereka. Bisa berolah-raga bersama diakhir pekan, bisa menyaksikan cucu-cucu tumbuh besar dan banyak hal menyenangkan lainnya. Walaupun dalam kenyataannya, ditempat akang bekerja banyak orang yang telah memasuki masa pensiun mengalami kualitas hidup yang buruk. Bolak-balik berobat menjadi hal yang tidak aneh dialami para pensiunan. Bahkan seseorang yang semasa aktif bekerja tak pernah sakit tetapi setelah memasuki masa pensiun menjadi sering sakit-sakitan.

Akang pun mulai membandingkan dengan kehidupan para orang tua di kampung akang dahulu. Seingat akang kebanyakan orang tua di kampung tidak mengenal istilah pensiun. Dimasa tua biasanya mereka sudah tidak mampu untuk mengolah sawah atau berkebun. Saat itulah kegiatan mereka mulai lebih banyak dirumah daripada di sawah atau di kebun. Namun walaupun tinggal di rumah tetapi mereka masih bisa melakukan banyak hal seperti membuat berbagai macam anyaman. Anyaman yang dibuat biasanya berbentuk alat rumah tangga seperti tempat nasi (sunda : boboko), semacam kipas untuk menanak nasi (sunda : hihid), tempat rumput dan lain-lain. Benda lainnya yang biasa dibuat seperti centong nasi, sapu ijuk, cangkir yang terbuat dari batok kelapa, dll.

Kakek akang sendiri seseorang yang pandai membuat sapu uyun yaitu sejenis sapu ijuk tetapi terbuat dari semacam rerumputan bernama uyun seperti gambar diatas. Sampai masa tuanya beliau masih saja membuat sapu yang biasanya diberikan kepada kerabat yang merantau keluar kota. Bahan-bahan yang diperlukan disediakan oleh paman-paman akang yang masih kuat untuk mencari daun uyun ke hutan. Kakek sendiri tinggal membuatnya dirumah tanpa perlu mencari sendiri bahan yang diperlukan. Sayangnya daun uyun semakin lama semakin sulit didapatkan terutama dimusim hujan. Sebelum dijadikan sapu, daun uyun harus dijemur hingga kering yang sulit dilakukan dimusim hujan. Kini kakek telah lama tiada, sehingga jika akang pulang kampung harus membeli sapu uyun dari orang lain. Orang yang biasanya juga telah berusia lanjut karena semakin kesini anak-anak muda sudah tidak mau memperlajari cara membuat sapu uyun ini. Hal ini mungkin dikarenakan semakin banyak sapu yang terbuat dari bahan sintetis yang lebih mudah didapatkan di pasar. Akang pun berpikir mungkin mulai saat ini akang harus belajar membuat sapu uyun sebagai pengisi kegiatan masa pensiun dan meneruskan tradisi yang telah dilakukan oleh kakek akang.

Sahabat blogger kira-kira kegiatan apa yang akan sahabat lakukan jika suatu saat nanti memasuki masa pensiun ?

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

16 Balasan ke Pensiun Dan Menjaga Tradisi

  1. Imron Rosyadi berkata:

    Kalo pensiun sih pinginnya menikmati masa tua (dg cara saya sendiri) dan mempersiapkan datangnya “waktu” itu tiba..🙂

  2. della berkata:

    Blom punya gambaran Kang, tapi yang pasti, kapan pun, di mana pun, mau ngapain pun, pengennya tetep sama Bapake anak-anak, ihiiiiyyy.. :”)
    Ooo.. itu namanya sapu uyun, ya. Mertuaku juga masih setia kok, pake sapu itu. Emang lebih enak, sih🙂

  3. 'Ne berkata:

    kalau udah pensiun akan tetap menulis hehe..

  4. lambangsarib berkata:

    Terimakasih telponnya siang ini, saya coba cari waktu untuk kopi darat pak, mungkin akan ajak adik saya —> http://mezzaluna85.wordpress.com/

  5. pursuingmydream berkata:

    Umumnya orang-orang di Eropa ketika masa pensiun, mereka jalan2 keliling dunia bersama pasangan, jadi ya menikmati mas tua lah , nah saya pengen juga begitu nantinya🙂.

  6. lambangsarib berkata:

    Saya kok tidak pingin pensiun yah ? Pingin bekerja sampai akhir hayat.

  7. nengwie berkata:

    Di tempat saya jg fasiitas sangat amat memadai kang untuk pengguna kursi roda, bahkan bus aja dimiringkan/direndahkan dan dikeluarkan semacam papan untuk naik, dan supir berkewajiban buat bantu.

    Pensiun nanti? InsyaAlloh upami dugi ka yuswa pensiun, hoyong aya di lembur di Indonesia, hoyong gaduh kebon, wios sakedik oge, kangge melak lalab2an, Cikur, kacang panjang, cabe beureum, cengek, Terong marukan, bonteng, supados tiasa icalan Karedok🙂

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s