Mental Produktif

CIMG1967CIMG1968

A T B M … sodara …. A T B M
Alat Tenun Bukan Mesin … sodara
apa itu ?
Alat produksi

Banjir yang mengepung Jakarta beberapa hari terakhir ternyata berimbas pada pekerjaan akang sehari-hari. Jumlah pasien yang datang tidak seperti hari biasanya. Mungkin orang-orang yang masih bisa menunda kunjungannya berpikir dua kali untuk menembus kemacetan dan banjir. Padahal letak rumah sakit tempat akang bekerja berada di wilayah Jakarta Selatan yang banjirnya relatif tidak separah wilayah lainnya. Saat senggang pun dimanfaatkan oleh teman-teman untuk memantau berita banjir di televisi dan media lainnya. Nah sebagian lainnya mengisi waktu senggang dengan membuat kerajinan tangan berupa rajutan.

Ternyata rajutan yang dibuat tidak kalah bagus dengan yang dijual di toko-toko. Di tempat kerja akang memang ada seorang ibu yang pintar merajut, kepadanyalah teman yang lain belajar keterampilan tersebut. Mememperhatikan mereka, akang teringat kepada seorang guru pembimbing Pramuka saat SMP dahulu. Pak Rahmat, nama guru akang tersebut sering menyanyikan sepenggal lagu diatas (ini postingan kedua yang diawali dengan lirik lagu🙂 ). Pada awalnya akang dan teman-teman tidak mengerti mengapa Pak Rahmat sering menyanyikan lagu yang nggak enak tersebut. Kami pun akhirnya bertanya kepada beliau tentang apa makna dari lagu sederhana tersebut.

Pak Rahmat memberi jawaban bahwa lagu tersebut hanya sebagai pengingat bagi kami untuk selalu berpikir produktif. Bagi kami saat itu jawaban tersebut sangat membingungkan. Seusia kami waktu itu belajar adalah segala-galanya bagi kami. Nilai pelajaran yang baik adalah indikator keberhasilan. Kesan kami dari jawaban Pak Rahmat adalah bahwa kami harus menjadi seorang pengusaha. Padahal menurut kami satu-satunya jalan untuk menjadi pengusaha adalah belajar dengan sungguh2. Pak Rahmat tidak terlalu menyalahkan pikiran kami, namun dia juga menambahkan bahwa untuk menjadi produktif harus dimulai dari hal sederhana dulu.

rajut1 (2)rajut1 (1)

Sekian waktu berselang akang sendiri tidak pernah lupa dengan lagu tersebut. Lagu yang tidak enak didengar namun kata-katanya sangat gampang diingat. Pemahaman akang pun semakin bertambah tentang maksud Pak Rahmat dari lagunya. Pandangan beliau sangat jauh kedepan, mungkin keinginannya waktu itu adalah memberitahu bahwa lapangan pekerjaan akan semakin sulit. Sehingga hanya orang-orang terbaiklah yang bisa mendapatkan pekerjaan yang diidamkan. Mungkin beliau juga ingin mengatakan bahwa jika pun tidak bisa mendapatkan pekerjaan impian maka ciptakanlah pekerjaan untuk diri sendiri. Alat tenun bukan mesin mungkin hanya sebagai simbol dari pelestarian tradisi leluhur. Bisa juga berarti mandiri dari ketergantungan akan teknologi yang berasal dari bangsa lain. Dan tentu saja bisa berarti teknologi yang “hijau” atau ramah lingkungan. Hanya saja beliau sangat faham kekanak-kanakan kami saat itu yang akan sulit menerima keterangan seperti diatas.

Andai saja akang diberi kesempatan untuk bertemu beiau saat ini pasti akang akan merasa malu karena masih saja menjadi “kuli” bagi orang lain. Boro-boro jadi pengusaha yang bisa “memproduksi” sesuatu yang bisa dijual walaupun itu hanya selembar kain. Alat tenun bukan mesin itu ternyata tidak segampang dalam nyanyian. Kain yang bisa dijual pun mungkin tinggal impian.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

35 Balasan ke Mental Produktif

  1. merajut merajut tali kasih sayang😀

  2. Imron Rosyadi berkata:

    bekerja dengan baik itu juga produktif lho kang…
    menurut saya, produktif itu adalah memanfaatkan waktu dengan sesuatu yang positif..🙂

  3. Idah Ceris berkata:

    Ibu2nya kreatif juga ya, kang.
    Belajar rajutan itu butuh ketelitian dan kesabaran.

    Benar sekali, tapi sebagian besar dari warga kita banyak yang memilih jadi kuli ya, Kang. #termasuk saya. hihihihi
    Semoga besok2 bisa membuat usaha sendiri. ^_*
    Salamku untuk jagoan2 akang dirumah yaaaa.🙂

  4. chrismanaby berkata:

    Waaa, bagus, mau donkk dijarin cara bikinnya

  5. Alid Abdul berkata:

    pengusaha juga butuh pegawai kan? sama-sama dibutuhkan🙂

  6. Orin berkata:

    Iya ya kang, harusnya kita memproduksi sesuatu bukan ‘hanya’ menjadi kuli, ikutan malu ah sama akang hihihi

  7. ainulharits berkata:

    Menjadi pegawai juga tidak jelek, dan belum tentu menjadi pengusaha hartanya lebih berkah.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s