Berbohong

bohong

“Lagi nunggu siapa Pak ?”
“Oo lagi nunggu istri nih”
“Sudah punya anak berapa Pak?”
“Alhamdulillah udah dua, laki-laki semua”
“Berapa tahun usianya?”
“Yang pertama enam setengah tahun, yang kedua satu setengah tahun”
“Udah sekolah donk, sekolah dimana? kelas berapa?………dst”
“?????”

Sepenggal obrolan diatas adalah obrolan biasa yang bisa terjadi dimanapun. Sebuah obrolan yang bisa jadi hanya merupakan pengisi waktu menunggu daripada bengong tidak karuan. Bisa juga sebagai usaha mencairkan suasana diantara dua orang yang kebetulan berada disuatu tempat. Apalagi dalam budaya timur yang terkenal dengan budaya ramah-tamah, maka mengobrol bisa jadi merupakan upaya untuk menunjukkan keramahan. Postingan kali ini akang bukan bermaksud untuk membahas tentang kebiasaan mengobrol namun seringkali akang dihadapkan dengan sebuah dilema dalam sebuah obrolan seperti diatas.Dilema muncul tatkala lawan bicara akang menanyakan tentang anak.

Sahabat pembaca sudah banyak yang tahu bahwa akang mempunyai anak seorang penyandang Cerebral Palsy. Seorang anak yang belum bisa sekolah bahkan belum bisa duduk sendiri. Oleh karena itu saat ada orang yang menanyakan tentang anak akang akan menghadapi kebingungan apakah harus bercerita seadanya atau haruskah akang berbohong. Sahabat mungkin bertanya “Lho kenapa harus berbohong?”.

Bagi akang bercerita tentang Gilang selalu saja akan menguras emosi. Sehingga jika obrolan yang berlangsung adalah obrolan yang hanya merupakan “basa-basi” bersama seseorang yang baru dikenal maka akang tidak akan bercerita tentang keadaan anak yang sebenarnya. Akang tidak ingin suasana obrolan yang santai tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang serius hanya karena seseorang yang berusaha menunjukkan sikap ber-empati (kasian) dengan cerita akang. Bisa juga obrolan tentang Gilang hanya mampir sesaat dibenak lawan bicara untuk kemudian dilupakan keesokan harinya.

Bahkan dengan seorang teman yang sudah lama tidak bertemu pun seringkali akang tidak bercerita tentang anak-anak. Namun entahlah memang “menanyakan anak” seolah menjadi topik wajib jika bertemu dengan teman lama. Tidak pernah akang alami jika dua orang teman lama yang berjumpa kemudian tiba-tiba menanyakan “ kamu sudah punya mobil berapa banyak ? “. Jika teman tersebut tetap keukeuh membahas topik tentang anak maka akang selalu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dengan hal lain. Namun seringkali juga akang bertemu dengan teman yang memang benar-benar bertemu tidak dalam keadaan terburu-buru maka akang bisa bercerita tentang keadaan sebenarnya.

Berbohong dalam obrolan tentang Gilang tentu saja bukan berarti akang mengarang cerita bahwa Gilang telah sekolah di kelas dua dengan nilai rapot yang bagus sehingga membanggakan kedua orang tuanya. Jika pertanyaannya “anak pertama sudah sekolah Pak?” akang pasti menjawab “sudah” karena akang anggap terapi yang dilakukan seminggu dua kali adalah “sekolah”nya Gilang. Akang beranggapan tidak bercerita yang sebenarnya tidaklah berarti harus berbohong.

Begitulah sahabat, salah satu keadaan yang biasa akang hadapi sehari-hari sebagai bagian dari kehidupan akang bersama Gilang. Pernahkah sahabat dihadapkan dengan suatu keadaan yang memaksa sahabat untuk “tidak bercerita sebenarnya” atau berbohong?

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Gilang dan tag , . Tandai permalink.

37 Balasan ke Berbohong

  1. andhien berkata:

    keadaan itu juga sering bgt saya alami kang… saya jg punya anak ABK …. tidak hanya orang dewasa saja yang bertanya tentang keadaan anak saya… bahkan anak seusianya pun bertanya… kok belum bisa jalan…? kok jalannya gitu…? kebetulan anak sy sudah jalan tp msh takut dilepas.. ya di gandeng gitu dg agak tertatih tatih…
    Kadang juga bohong kalau memang orang tersebut tidak perlu tahu…dan belum pernah lihat si anak. Kalau yang tanya orang yang dekat atau mungkin orang tersebut respek ya dikasih tahu g papa.. siapa tahu dia punya saran… biasanya si pengobatan alternatif seperti pijet, terapi dll.
    Kadang juga terpersit rasa – selalu disalahkan dalam setiap keadaan… seperti apabila waktu pertemuan kelurga/masyarakat… mereka sering membanggakan anaknya sendiri – sendiri… membanding bandingkan…. mereka kadang kurang memehami keadaan kita yang sudah pontang – panting merawatnya…. eh malah mereka bilang kok bisa anaknya begini…?? waktu kecil itu harus diginikan/ digitukan…. bla bla bla…. Mereka si enak nggak pernah mengalaminya sendiri… Setelah terjebak dalam situasi seperti itu yang namanya manusia kadang ya sakit hati… apalagi waktu pikiran dan badan lagi capek… mau marah nt dikira nggak sopan dikasih masukan malah gitu.. Yang g enaknya kan kadang bahasanya itu lho g enak di dengar oleh telinga…. astagfirullah… ujian kesabaran nih….

    • abi_gilang berkata:

      Begitulah Alloh mengajari kita hidup bersama ABK, liku-liku yang tidak semua orang mengalaminya. Salut akang ucapkan Mba Andhien mampu menghadapinya. Banyak akang mendengar cerita orang tua yang tidak kuat menghadapi hidup bersama ABK. Semoga kita selalu diberikan kekuatan ya Mba.

      • andhien berkata:

        Amiin…. ya Robbal alamiin… yach gimana lagi ya akang sudah jatahnya…… Hanya Kekuasaan Allah… sifat kasih sayangNya…. Maha PenyembuhNya yang selalu menjadi semangat untuk selalu berikhtiar…. Apabila semua pintu di dunia ini ituk kesembuhan anak kita sudah tertutup yakin lah dengan kekuasaan Allah dengan “kun fayakun” dan lakhaula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim…. tidak ada satupun yang dapat menghalangi jika Allah sudah berkehendak…. termasuk kesembuhan dan kenormalan Anak anak kita…. Semoga Allah menunjukkan ke besaraannya dengan memberikan kesembuhan pada anak kita…. Sehingga setiap tarikan nafas kita akan selalu bersyukur… atas nikmatnya… atas terlepasnya belenggu yang mengikat kuat jiwa dan raga, hati dan pikiran….. Semoga…amiin…. sesengguhnya Allah berserta dengan orang – orang yang sabar……… Semoga kita bisa saling memberi support/semangat dalam menjalani hidup ini bersama anak anak yang mengantarkan kita ke surga…..
        Akang bisa buat blog/komunitas khusus keluarga anak CP / ABK, supaya kita bisa sharing.. segala masalah kita dll? – trims-

      • abi_gilang berkata:

        Maunya begitu Mba tapi masalahnya punya satu blog/website aja nggak keurus. Tapi tetep koq akang akan berusaha untuk mewujudkannya.

  2. pursuingmydream berkata:

    Kalau di sini kita berhak ko akang untuk menolak menjawab pertanyaan yang sekiranya kita tidak ingin mengatakannya. Biasanya langsung to the point. “saya tidak ingin membahas hal tsb.”😀.

  3. mintarsih28 berkata:

    kadang membuka obrolan dimulai dg nanya siapa kita secara umum. ttp kalau akhirnya tertarik berlanjut ya kita ngobrol ttg diri kita, keluarga kita.

    ttpi itu hak kita mau cerita atau tidak kembalikan ke hati kita. klo hati kita gak sreg lebih baik mengalihkan pembicaraan yg lain.

  4. Wong Cilik berkata:

    pernah mengalami juga Kang, saat tak ingin bercerita tentang sesuatu, haduh sulit sekali mencari jawaban yang pas. Menurut saya itu namanya jujur tapi tidak terbuka. Mengatakan yang sebenarnya, tetapi tidak semuanya bisa diceritakan kan …

  5. Orin berkata:

    Iya kang, tidak mengatakan yg sebenarnya bukan berbohong dalam hal ini mah, apalagi kalo basa basi kan emang defaultnya ga betul2 kepengen tau ya..

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s