Sang Demang Dan Oknum

demang

Konon disebuah kerajaan hiduplah manusia bernama Oknum.Tak ada yang tahu dimana ia dilahirkan. Tak juga ada yang tahu siapa kedua orang tua Oknum. Bahkan banyak yang berseloroh kalau Oknum adalah anak haram dari hasil hubungan yang tidak direstui. Ketika hal tersebut ditanyakan kepada Oknum dia hanya menggeleng tak mengerti. Menurutnya dirinya mengalami amnesia sejak kecil hingga tak pernah tahu asal muasal kehadirannya di dunia ini. Namun demikian Oknum adalah sosok yang disukai oleh banyak orang terutama pejabat kerajaan. Dari mulai prajurit penarik upeti hingga hulubalang penjaga istana Raja.

Satu kebiasaan aneh yang dilakukan Oknum adalah dia tak pernah terlihat berkeliaran di siang hari dimana semua orang sibuk dengan pekerjaannya. Entah dimana dia berada ketika itu. Padahal banyak orang yang mencarinya, sebut saja contohnya seorang demang yang ingin menemui bendahara raja. Ternyata untuk menemui bendahara raja bukanlah hal yang mudah. Banyak aturan yang ditetapkan pihak istana untuk seseoarang yang ingin menemui bendahara raja. Apalagi jika yang datang hanya seorang Demang yang akan meminta bantuan kerajaan. Padahal sang Demang yang baru pertama kali ini datang ke istana kerajaan atas perintah sang Raja.

Di dukuh tempat tinggal Sang Demang sedang terjadi bencana. Raja pun segera memerintahkan agar rakyat di dukuh tersebut diberi bantuan. Namun ternyata titah sang raja yang sudah begitu jelas tidak begitu saja terlaksana sebagaimana mestinya. Bantuan yang dijanjikan bisa molor hingga berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Masih untung jika jumlah bantuan yang diterima sesuai dengan yang dijanjikan. Seringkali jumlahnya pun menyusut karena sebab yang tak jelas. Begitulah kabar yang didengar sang Demang.

Sang demang tahu bahwa hanya satu orang yang bisa membantunya untuk mempercepat bantuan bagi rakyatnya yaitu Oknum. Dia juga pernah mendengar kabar bahwa bantuan yang Oknum berikan juga tidak gratis. Dia pun segera mencari Oknum yang menurut kabar mempunyai banyak teman di istana. Namun dia merasa heran karena setiap orang yang ditanya tak pernah mengaku kenal dengan Oknum. Bahkan mereka bergitu murka ketika ditanya apakah mereka mengenal Oknum. Keheranan Demang semakin bertambah manakala semua orang yang ditanya mengatakan tidak pernah ada orang bernama Oknum di istana. Padahal dari cerita yang ia dengar sosok Oknum ini begitu nyata.

Dengan putus asa sang Demang memutuskan untuk mencari Oknum dimalam hari disaat semua orang lelap tertidur. Malam pun tiba saat sang Demang kembali ke istana kerajaan. Dengan penuh keyakinan ia pun mulai mencari Oknum disetiap gerbang masuk, pasar-pasar, warung kopi dan semua tempat yang mungkin didatangi Oknum. Kali ini orang yang ditanya tentang Oknum tidak galak seperti saat siang hari. Orang yang pertama didatangi adalah penjual kopi. Setengah berbisik penjual kopi mengatakan dia bisa mempertemukan sang Demang dengan teman dekat Oknum. Namun penjual kopi itu meminta imbalan atas informasinya tersebut jika sang Demang berhasil mendapatkan bantuan dari raja. Sang Demang tak mau mengabulkannya karena tak yakin dengan informasi dari penjual kopi.

Sang demang melanjutkan usahanya dengan menemui peronda malam dan bertanya tentang Oknum. Sama seperti kejadian sebelumnya, peronda malam pun meminta imbalan untuk mempertemukan sang Demang dengan Oknum. Bahkan imbalan yang diminta peronda malam lebih banyak daripada yang diminta penjual kopi. Tiba-tiba prajurit kerajaan mendatanginya dan mengatakan kalau sang Demang tak akan mungkin bertemu Oknum. Namun demikian prajurit kerajaan mengatakan akan membantu sang Demang hingga maksudnya tercapai. Prajurit meminta sang Demang untuk mendatanginya keesokan hari. Sang Demang pun senang karena tanpa Oknum pun akhirnya urusan dia di kerajaan bisa selesai.

Keesokan harinya sang Demang mendatangi tempat prajurit yang semalam mendatanginya. Benar saja bantuan yang dijanjikan Raja telah berada disana. Hanya saja prajurit meminta sedikit tanda terima kasih dari sang Demang atas bantuan yang telah diberikan. Sang Demang pun memenuhi permintaan prajurit. Mengurangi bantuan buat rakyatnya tidak akan menjadi masalah besar daripada menunggu beberapa hari lagi di istana kerajaan, gumam sang Demang dalam hati. Setelah kembali di dukuh sang Demang segera membagikan bantuan kepada rakyatnya setelah sebelumnya menyisihkan untuk dirinya sedikit bantuan tersebut. “ini hanya upah lelah untuk mencari Oknum yang tak berhasil kutemukan” ujar Sang Demang.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Puisi. Tandai permalink.

20 Balasan ke Sang Demang Dan Oknum

  1. Orin berkata:

    seandainya saja si oknum tak pernah terlahir di muka bumi ini…

  2. Ummu El Nurien berkata:

    informasi pun perlu biaya ya kang..
    lebih parah lagi, sebenarnya si jasa informasi pun sudah di gaji, masih minta upah lagi?

  3. pelancongnekad berkata:

    Oknum, selalu ada dimana-mana😦

  4. kishandono berkata:

    Itu dia makanya jatah rakyat jadi berkurang. lawong potong sana potong sini. jadinya potong bebek angsa deh

  5. Ini kisah fiksi yang banyak terjadi di pentas kenyataan ya, Mas, hmmm… oknum.

  6. kangdakup berkata:

    ada uang ada barang..hehe salam kenal. silahkan mampir di kangdakup.wordpress.com

  7. Ely Meyer berkata:

    ini berdasar kisah nyatakah kang ?😛

  8. kangyaannn berkata:

    kayaknya upah lelah sudah jadi keharusan ya kang ?

  9. Idah Ceris berkata:

    Jasa sebuah informasi koq jadi mahal ya? Dimana2 minta tanda terima kasih. hihihhi
    Terus, Oknum kira2 dimana ya, Kang Sutradara.😆

  10. yisha berkata:

    hmmmmmm………..akang pengin apa dari post ini?

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s