Manusia Malam

tidur

Hari jum’at, jam delapan pagi. Disaat sebagian besar orang masih memiliki semangat besar untuk menghadapi pekerjaannya masing-masing. Akang malah sedang bersiap untuk menuju rumah setelah bertugas semalaman. Sebagai seseorang yang bekerja di bidang jasa medis yang tidak selalu mengikuti ritme “office hours”, menjadi “manusia malam” sudah menjadi tuntutan pekerjaan. Perjalanan menuju rumah pun menjadi terasa berat karena mengendarai roda dua dengan rasa kantuk yang menggelayut di mata. Terbayang dalam benak tempat tidur yang siap menunggu kedatangan akang di rumah. Apalagi setelah sebelumnya menghabiskan seperangkat makanan yang pasti telah tersedia di meja makan.

Satu jam perjalanan terlewati dengan selamat tiba di rumah. Wangi makanan langsung menghampiri hidung yang sedari tadi di provokasi genderang lapar dalam perut. Namun satu hal terlupakan oleh akang, apalagi kalau bukan Akbar. Kedatangan akang dirumah seakan seorang lawan tanding yang siap beradu kekuatan dengannya. Boro-boro akang bisa merebahkan badan sejenak karena sejak dipintu pagar Akbar selalu menempel kemanapun akang melangkah. Ketika akang makan, Akbar ikut ngerecokin dengan mainan pesawat yang baru dibelikan ibunya hari kemarin. Sementara itu Gilang menyambut akang dengan teriakannya.

Ketika akang mandi Akbar setia menunggu didepan pintu kamar mandi dengan mainan kereta api ditangan. Badan yang segar dan perut yang kenyang semakin membuat keinginan akang untuk segera tidur semakin kuat. Masih ingat sebelum Akbar lahir, jika sehabis dinas malam akang biasa tidur bersama Gilang. Gilang tidak mengajak akang bermain karena baginya cukup jika akang tidur didekatnya maka Gilang akan tenang. Namun sekarang Akbar tidak bisa ditinggalkan tidur begitu saja bermain sendiri. Jika tidak mengajak bermain mobil-mobilan pasti akbar mengajak bermain kuda-kudaan. Usaha Si Uwa pengasuh untuk mengajak bermain diluar rumah tidak berhasil menjauhkan Akbar dari akang. Jika keadaan sudah seperti ini maka akang akan harus menunggu jam tidur siang akbar agar akang sendiri bisa tidur dengan nyaman. Dengan penuh perjuangan Akbar akhirnya tidur tepat menjelang kumandang adzan sholat jumat di masjid terdengar. Akang pun menuju masjid dengan rasa kantuk yang begitu kuat, alhasil waktu khutbah berubah menjadi ajang bobo siang.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Akbar dan tag . Tandai permalink.

31 Balasan ke Manusia Malam

  1. ~Amela~ berkata:

    kangen mungkin ya si Akbar kang. .
    jadinya ga mau jauh2 dari akang

  2. Budi Nurhikmat berkata:

    Godaan jum’atan adalah ngantuk pas khotbah…., tapi pas keluar udah melek lagi🙂

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s