Kisah Penjual Kucing Dalam Karung

alkisah

Alkisah. Entahlah kenapa kisah ini tidak dumulai dengan kata “konon” seperti kisah-kisah fiktif lainnya. Mungkin juga karena dalam kisah ini alkisah adalah nama sebuah dusun. Dusun alkisah tidaklah istimewa , masih sama seperti dusun-dusun lainnya. Disana ada si pintar dan lebih banyak si bodoh. Ada si baik dan lebih banyak si jahat. Sangat banyak si lemah tapi takut oleh sedikit si kuat. Kalaulah harus disebut keistimewaan dusun ini hanyalah karena disana ada seorang bernama Fulan. Lagi-lagi seperti kisah fiktif lainnya yang selalu menyebut seseorang yang tidak dikenal dengan nama “fulan”, didusun alkisah Fulan adalah betul-betul adalah nama seseorang. Fulan adalah penjual kucing keliling . Dia menjual kucing yang selalu tersimpan didalam karung. Tak akan ada seorang pun yang diijinkan untuk melihat dulu kucingnya sebelum orang tersebut membayarnya. Kebiasaan inilah yang membuat Fulan dikenal sebagai penjual kucing dalam karung.

Akhir-akhir ini Fulan kebingungan karena orang-orang di dusun alkisah tak pernah lagi membeli kucingnya. Padahal dia tahu didusun alkisah terkenal dengan hama tikus yang meresahkan. Lumbung-lumbung padi disana adalah sasaran yang paling sering didatangi tikus. Orang-orang dusun lebih senang membakar lumbungnya untuk membunuh tikus. Konon kata berita, hal ini lebih baik daripada harus menjaga lumbung dengan kucing. Tikus tak lagi merasa takut kepada kucing. Kucing semakin kurus ketika tikus bertambah gemuk. Mungkin karena kucing tak bisa memakan padi mentah sedangkan tikus sangat suka padi mentah.

Fulan penasaran dengan berita yang didengarnya dan mulai mencari tahu penyebabnya. Dia pun segera mendatangi kucing yang biasa berjaga di lumbung padi. Diam-diam Fulan menunggu beberapa waktu hingga suatu ketika datanglah tikus menghampiri kucing. Ternyata tikus datang dengan sekerat daging yang tampak lezat. Melihat daging lezat didepan matanya kucing pun segera menayantapnya dengan lahap sambil membiarkan tikus pesta pora didalam lumbung. Fulan kini mengerti mengapa orang-orang dusun tak pernah lagi membeli kucingnya. Padahal dahulu kucingnya banyak dicari orang dusun alkisah. Orang –orang dusun alkisah kini tak mau lagi membeli kucing Fulan walaupun kini Fulan membolehkan orang-orang untuk membuka karungnya.

Putus asa dengan keadaan di dusun alkisah, Fulan memutuskan untuk berhenti menjual kucing dalam karung. Kini Dulan merantau mencari pengalaman di dusun-dusun lainnya. Berpuluh dusun dia datangi, berpuluh kota dia jejaki. Namun satu hal yang tetap dia lakukan yaitu menjual kucing dalam karung. Hanya itulah pekerjaan yang bisa dilakukannya. Tak pernah terpikir olehnya untuk menjual tikus dalam karung atau sayur dalam karung. Bahkan Fulan meyakini bahwa dirinya telah dikutuk untuk menjadi penjual kucing dalam karung selamanya. Orang dusun alkisah yang ditinggalkan bahkan berani bertaruh jika suatu ketika Fulan kembali lagi ke dusunnya maka pekerjaannya pasti tak berubah.

Bertahun waktu berselang. Orang dusun mendengar kabar bahwa Fulan kini menjadi kaya raya di perantauan. Fulan terdampar di sebuah negeri yang konon katanya sangat subur. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Terletak di jalur khatulistiwa sehingga sering disebut negeri jamrud khatulistiwa. Saking suburnya negeri tersebut sempat dijadikan tempat jajahan Negara-negara yang letaknya diujung lain dunia. Namun rakyat negeri tersebut justru tidak merasakan kekayaan negerinya sendiri. Hal inilah yang menyebabkan keanehan bagi orang-orang dusun alkisah. Apa yang telah dilakukan Fulan hingga berhasil menjadi kaya raya di negeri yang rakyatnya sendiri pada umunya sengsara. Semakin tersiar kabar tentang Fulan semakin penasaran penduduk dusun alkisah dibuatnya.

Fulan kembali ke dusun alkisah. Penduduk dusun alkisah seolah tak percaya dengan kenyataan yang ada. Fulan yang menjadi buah bibir selama ini kini ada dihadapan mereka. Segalanya telah berubah, Fulan yang kurus kering kini menjadi tambun. Fulan yang dulu lusuh kini menjadi gemerlap. Hanya satu hal yang tak pernah dilupakan oleh orang-orang dusun alkisah yaitu Fulan tak pernah lepas dari karung. Karung itulah yang kini tetap dibawa-bawa Fulan kemanapun. Mereka bertanya-tanya masihkah Fulan menjadi penjual kucing dalam karung. Apakah penduduk negeri tempat Fulan tinggal adalah penggemar kucing. Apakah di negeri tersebut banyak tikus. Seolah mengerti apa yang ada didalam pikiran orang-orang Fulan pun segera menjelaskan.

“Aku tidak menjual kucing dalam karung karena disana dilarang membeli kucing dalam karung. Penduduk negeri tersebut sangat suka dengan janji-janji. Mereka memilih pemimpin yang pintar menjual janji dari mulai kepala dusun hingga pemimpin Negara semuanya menjual janji. Walaupun harga janji tersebut begitu mahal, sampai-sampai rakyat pun kehabisan uang untuk membeli janji. Rumah sakit kehabisan obat karena uangnya digunakan untuk membeli janji. Jalan-jalan hancur karena aspal dan pasirnya ditukar dengan janji. Hutan-hutan gundul karena sebuah janji. Akhirnya akupun berpikir untuk mengganti pekerjaanku sebagai penjual kucing dalam karung. Di negeri tersebut aku menjadi penjual janji dalam karung. Tak perlu takut ada yang yang ingin melihat isi karung karena memang isinya hanya janji”.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

16 Balasan ke Kisah Penjual Kucing Dalam Karung

  1. Hanif berkata:

    Ini kayaknya menyinggung negeri kita sendiri deh, itu kan persis dengan keadaan di Indonesia

  2. Dewi berkata:

    mari jualan janji aja,,, ntar kalo janjinya di tagih, bilang aja stok janjinya dah abis, besok lusa baru kulakan janji lagi,,😆

  3. yisha berkata:

    kayaknya yisha ngga paham deh………

  4. Ely Meyer berkata:

    Sementara aku nyimak dulu sambil mikir bro

  5. bundamuna berkata:

    sbg salah rakyat negeri yg kaya raya itu, saya hanya bs prihatin.. what should we do? *malah tanya😀

    klo si Fulan baca ini dia pasti hanya senyum-senyum sendiri.. *tak sadar kalau sedang ditampar

  6. Iwan Yuliyanto berkata:

    Analoginya mengena. Jual janji dalam karung lebih prospek dari dulu sampai sekarang. Tidak ada perubahan dalam tatanan berpikir di masyarakat.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s