Kembalinya Bima Kepada Pandawa

Lanjutan dari tulisan Menjemput Maut Dinegeri Impian

bima

Mendengar kabar seperti itu akang langsung pulang menuju Sumedang. Sepanjang perjalanan tak henti air mata berderai meskipun akang terus berusaha menahannya. Bayangan wajah Aep terus saja mengisi pikiran akang. Pertengkaran2 diantara kami yang dulu begitu menjengkelkan malah menjadi kenangan yang menggelikan. Terbersit juga perasaan merasa bersalah karena belum sempat meminta maaf atas kesalahan selama ini yang pasti ada diantara kami. Baru saat itu akang merasa perjalanan pulang ke kampung halaman terasa begitu lama dan menyiksa. Ingin rasanya segera tiba di rumah dan melepaskan rasa sedih bersama keluarga. Namun ketika sampai dirumah, hati ini terasa hancur melihat Ibu akang yang terlihat sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Akang terpaksa harus menahan kesedihan untuk menenangkan Ibu dan tidak menambah kesedihannya. Tengah malam yang biasanya sunyi itu dipenuhi oleh tangisan dari keluarga besar akang. Orang yang juga paling terpukul tentu saja istri Aep yang berkali-kali pingsan karena tak kuat menahan kesedihan.

Sambil berusaha menenangkan saudara lainnya, akang bersama kakak tertua memikirkan langkah apa yang harus dilakukan untuk memulangkan jenazah ke tanah air. Sebagai keluarga petani, tidak mudah kami mencari kerabat atau saudara yang bisa membantu kami berurusan dengan instansi pemerintah yang mengurus tenaga kerja di luar negeri. Semua tetangga di kampung diminta bantuannya jika ada kerabat atau siapa saja yang bekerja di Departemen Luar Negeri. Pertolongan pun hadir ketika ada tetangga yang mempunyai saudara jauh yang bekerja di Deplu. Mulailah hari-hari paling berat yang pernah dilalui keluarga akang berlalu. Kesedihan ditinggal mati oleh anggota keluarga adalah suatu cobaan berat ditambah lagi ketakutan akan tidak kembalinya jasad almarhum disisi keluarga.

Hari-hari dilalui dengan kesedihan berlipat, kesedihan karena ditinggal orang tercinta dan ketakutan jika ternyata Aep pulang hanya tinggal nama. Tanpa jasad tanpa makam untuk diziarahi tanpa kenangan tersisa di tanah kelahiran. Ibu begitu khawatir jika jasad anaknya tidak diperlakukan sebagaimana mestinya sebagai seorang muslim. Hal ini menambah tekad akang untuk berusaha sekuat tenaga memulangkan jenazah kakak tercinta. Menurut informasi yang didapat dari Kedubes RI di Korea, Aep meninggal karena kecelakaan kerja namun tidak ada detail kronologi kejadiannya. Namun salah seorang teman Aep yang masih tinggal di Korea memberi kabar bahwa kematian Aep adalah korban tindak kriminal. Informasi yang sangat sensitif seperti ini sengaja tidak disampaikan kepada kedua orang tua untuk menjaga mental mereka. Lagipula tak ada daya kami untuk mempermasalahkan kematian Aep di Korea kalaupun itu memang sebuah kematian yang tak wajar. Akang bersama kakak tertua bertekad apapun sebab kematian Aep akan kami abaikan dulu dan akan fokus memikirkan kepulangan jenazah. Hampir setiap hari kami mencari informasi tentang perkembangan proses pemulangan jenazah Aep. Kami tak peduli dengan ocehan petugas di Deplu yang terus menerus menyalahkan Aep yang nekad menjadi pekerja illegal di Korea. Menurutnya, jika saja Aep tidak menjadi pekerja illegal maka kepulangannya akan mudah dan bisa mendapat uang asuransi yang sangat besar.

Dua minggu sudah berlalu hingga kami mendapat kepastian bahwa jenazah Aep akan kembali ke tanah air. Sebuah ambulan akang siapkan dari tempat kerja akang sendiri untuk menjemput di bandara. Beberapa kerabat turut menjemput tanpa menyertakan Bapak akang yang merasa tidak sanggup harus menjemput jenazah anaknya. Sesampainya di rumah tangisan keluarga pun pecah melebihi tangisan saat pertama kali mendapat kabar kematian. Ditengah tangisan keluarga terselip sedikit kebahagiaan akang karena telah mengobati satu luka didalam hati Ibu. Biarlah Ibu menangis karena kematian putranya namun dia tetap bisa menunjukkan tempat putranya bersemayam. Di tanah kelahirannya dimana sebagian besar kenangan hidupnya berlangsung.

Kini keluarga akang yang dulu disebut keluarga Pandawa telah kehilangan “Bima”.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s