Laila

laila

Laila, kita berjumpa dalam gulita. Seperti malam. Seperti namamu. Tak ada kisah mengharu biru. Tak ada rindu menjegal lelap. Tak ada kata menguntai sajak. Tak ada cinta membuta mata. Tak ada kasih memerih hati. Entahlah, mungkin saja tak ada semua itu. Hanya niat melepas syahwat. Hanya maksud mengurai nafsu.

Laila, biarlah gulita ini tetap pekat. Seperti malam. Seperti namamu. Percayalah pada takdir. Takdir lebih gulita dari malam. Lebih pekat dari namamu. Membawa kita dalam pusaran hidup. Menyatu dalam samar. Hanya harapan sebagai sinar. Biarlah ketulusan menorehkan garis. Garis membentuk jalan hidup.

Laila, kita berjalan dalam gulita. Seperti malam. Seperti namamu. Mencetak jejak. Mewarnai kisah mengharu biru. Mencipta rindu mengantar lelap. Merangkai kata mencipta sajak. Mewarnai cinta dengan pelangi. Mengikat syahwat. Membelenggu nafsu. Mengurai simpul takdir.

Laila, kau tak lagi samar. Tak seperti malam. Tak seperti namamu. Kau menjelma utuh. Genggamanmu kini nyata. Menemaniku meniti takdir. Bersamamu ku tak hilang arah. Walau kau harus kehilangan gelap. Kehilangan malam. Hanya tinggal namamu. Laila.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Puisi dan tag . Tandai permalink.

29 Balasan ke Laila

  1. Puspita berkata:

    Mencoba membaca, tp gak mudeng.buakakaka

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s