Sepenggal Mimpi Dari Masa Lalu

CIMG2783

Suatu masa dalam kehidupan akang waktu kecil akang begitu menginginkan sebuah profesi yang mungkin terdengar aneh bagi kebanyakan orang. Sebuah profesi yang menuntut seseorang untuk bertemu banyak orang, membangun networking yang luas, kepekaan terhadap situasi, pengetahuan tehnik yang cukup. Kehadirannya selalu ditunggu banyak orang, setiap yang bertemu dengannya selalu berusaha tampil sebaik mungkin didepannya. Tidak seperti Mang Burhan, tukang kredit asal tasik yang kehadirannya seolah dihindari ibu-ibu penghutang.

Tukang foto keliling. Entahlah tepatkah jika akang menyebutnya sebuah profesi sebagaimana yang akang gambarkan di paragraf pertama. Dimasa ketika ponsel masih berada di lab pengembangan dan kamera foto adalah salah satu benda yang dimiliki sedikit orang. Ketika momen penting hanya terekam dalam ingatan dan catatan. Kehadiran tukang foto keliling sungguh menjadi malaikat penyelamat bagi orang-orang saat itu. Dengan adanya tukang foto keliling pengantin yang baru menikah akan punya setidaknya beberapa lembar foto pernikahannya. Jangan membayangkan pernikahan yang meriah dengan segala pernak-perniknya. Akang cerita tentang pernikahan sederhana dari keluarga miskin di kampung dimana beberapa lembar foto pernikahan adalah kemewahan bagi mereka. Keluarga lainnya yang lebih mampu biasanya menyewa tukang foto pernikahan professional dari kota.

Pelanggan dari tukang foto keliling kebanyakan adalah pemuda-pemudi terutama yang sedang berpacaran. Mempunyai foto berdua dengan sang pacar seolah menjadi suatu kewajiban bagi mereka yang berpacaran. Foto yang disimpan didalam dompet atau dihiasi figura untuk kemudian digantung dikamar tidur. Itulah media yang tersedia bagi ke-narsis-an remaja saat itu, bukan di foto profil facebook, blackberry atau whatsapp dan lainnya. Mungkin itulah yang membuat akang yang masih kecil menginginkan profesi sebagai tukang foto keliling. Kehadiran tukang foto keliling selalu ditunggu gadis remaja kampung tentu saja dengan penampilan terbaik mereka. Begitulah yang menjadikan tukang foto keliling menjadi profesi yang cukup keren bagi akang saat itu.

Saat paling ditunggu-tunggu oleh tukang foto keliling adalah masa setelah lebaran. Bagi orang kampung lebaran adalah momen yang sangat istimewa terutama bagi anak-anak seperti akang. Memakai baju baru yang hanya bisa dilakukan setahun sekali membuat kami merasa tampil terbaik disaat setelah lebaran. Kesempatan inilah yang biasa digunakan orang tua untuk mengabadikan saat anak-anaknya memakai baju baru dengan menggunakan jasa tukang foto keliling. Difoto dengan menggunakan baju baru sungguh merupakan suatu kemewahan saat itu. Waktu empat hari hingga seminggu yang dijanjikan tukang foto untuk mengantarkan hasil detakan fotonya terasa begitu lama. Rasa penasaran terus membayangi bagaimana nantinya kami terlihat di foto. Maklum saja tidak seperti saat ini yang bisa langsung melihat hasil foto pada kamera digital. Foto yang telah diterima langsung difigura dan digantungkan disebelah foto lebaran tahun sebelumnya. Hal ini semakin menambah keren profesi ini karena jika ingat tukang foto keliling akang ingat baju baru, lebaran dan kegembiraan.

Sekian lama waktu berselang keinginan menjadi tukang foto keliling tenggelam ditelan perjalanan waktu dan perkembangan jaman. Kini bahkan anak kecil pun bisa memfoto siapapun dengan ponselnya yang ber-kamera. Tak perlu membawa sekantong cadangan batere ukuran A3 kemana-mana atau lampu blitz yang besarnya sebesar genggaman tangan. Tak perlu juga repot untuk memilih rol film yang isi 24 atau 36 frame dengan bonus 2 hingga 3 frame. Foto hasil jepretan pun tidak harus dicetak kedalam bentuk kertas untuk dinikmati. Cukup di upload ke sosial media yang banyak tersedia tanpa menunggu waktu seminggu lamanya. Hanya para peminat fotografer yang masih mencetak hasil karyanya dan itupun biasanya dalam ukuran besar dan demi kepentingan komersil. Hanya saja bagi akang tetap saja menjadi tukang foto masih menjadi impian dan kamera ber-lensa besar hanya menjadi angan-angan.

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , . Tandai permalink.

12 Balasan ke Sepenggal Mimpi Dari Masa Lalu

  1. hasannote berkata:

    Lihat saja, aku bentar lagi punya DSLR, mang!

  2. ditter berkata:

    Saya dulu sempat kepikiran beli kamera DSLR dengan lensa khusus, ditawarin teman yang jual bekas. Tapi saya nggak jadi beli, soalnya belum siap untuk merawatnya. Soalnya katanya perawatannya membutuhkan ketelatenan, hehe….

  3. Idah Ceris berkata:

    Emmmm, dipastikan sekarang sudah tidak ada tukang foto yang menggunakan kiise ya, Kang.
    Tentunya seiring kemajuan TI. Namu, itu semua tidak menghapus memoriku ketika foto eksyenku pertama kali didepan rumah.😆 Dijepret oleh tukang foto keliliiiiiiiiiiiing. Apa mungkin itu Akang, ya?😛

  4. duniaely berkata:

    sama sama Kang
    padahal foto fotomu sendiri sdh bagus lho kang🙂

  5. duniaely berkata:

    semoga angan angannya terwujud satu hari nanti ya Kang

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s