Ijinkan Ayahmu Jadi Anak

ayah-anak

“Hirup mah darma wawayangan bae”
Sebuah pepatah sunda yang biasa dikatakan para orang tua dahulu kepada anak-anaknya. Kalimat yang berarti “hidup itu seperti wayang adanya” mengandung makna bahwa kita sebagai manusia hanyalah sebagai pemeran dari cerita kehidupan ini. Setiap orang mempunyai lakon sendiri, berperan sebagai tokoh tersendiri dan dibalik itu semua ada Tuhan sebagai sang dalang yang berkuasa atas wayang-wayang yang dimainkannya. Kapanpun sang dalang hendak menghentikan peran wayang maka wayang tak berkuasa untuk menolaknya. Sebuah perumpamaan hidup yang tidak bisa dibandingkan seutuhnya tetapi kita masih dapat mengambil banyak pelajaran darinya. Jika hidup bisa memilih tentu kita akang memilih peran jadi ornag kaya daripada peran orang miskin. Lebih betah jadi penguasa daripada jelata dan peran-peran lain yang sesuai keinginan manusiawi. Tetapi kita hanya menjalani peran dalam sebuah lakon dan yang paling utama adalah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya.

Menjadi suami dari seorang istri dan menjadi ayah dari dua orang anak adalah peran yang akang jalani saat ini. Tak ada yang istimewa dengannya, masih sama dengan peran jutaan pria lain di muka bumi ini. Akang pun bahagia menjalaninya karena akang yakin masih banyak orang lain yang memimpikan peran ini. Namun bagaimanapun sebelum menjalani peran ini akang adalah seorang anak dari sepasang suami-istri yang mencintai akang. Seorang adik dari kakak-kakaknya, seorang kakak dari adik-adiknya. Entah berapa hari tersisa bagi akang untuk terus berperan sebagai suami dan ayah tetapi telah ribuan hari akang lewatkan bersama Ibu , Bapak, Kakak dan Adik sebelumnya. Lakon hidup membuat akang berganti peran dan memaksa untuk terpisah jarak dengan mereka semua.

Setahun belakangan kondisi stroke Bapak semakin mengkhawatirkan. Hal ini membuat akang sering bolak balik ke kampung halaman sendirian. Memang Ibu sering bilang jangan terlalu sering pulang, katanya kasian anak-anak kalau sering ditinggal. Lagipula masih ada saudara akang yang lain selalu menjaga Bapak jika sedang kambuh. Namun tetap saja komunikasi lewat telepon tak bisa menyelesaikan semuanya. Lewat telepon akang tak bisa mengangkat tangan bapak yang dulu kokoh namun kini sangat sulit walau sekedar mengangkat sendok ke mulutnya. Kaki kekarnya kini bergetar ketika mengangkat tubuhnya sendiri. Dahulu setiap dua hari sekali Ibu dan Bapak biasa berjalan kaki ke pasar yang berjarak 8 kilometer dan pulang dengan barang belanjaan untuk dijual dikampung. Butuh kesabaran ekstra jika mendengarkan Bapak bicara, suaranya begitu pelan dan mulai pelo.

Walaupun selalu melarang akang untuk sering pulang, Ibu selalu saja menumpahkan keluhannya setiap kali akang pulang. Mulutnya yang dulu biasa mendendangkan pupuh kinanti dan asmaranda di telinga akang, kini menghadirkan kekhawatiran. Tentang Bapak yang semakin sulit bicara dan menjadi pemarah jika Ibu bertanya berulang-ulang apa yang dibicarakannya. Ibu sering merasa serba salah jika Bapak bicara tidak jelas tetapi jika bertanya lagi maka sering dimarahi. Begitupun peralatan makan yang sering pecah ketika Bapak sering ingin berusaha sendiri dan tak ingin dibantu ketika hendak makan.

Mendengar hal itu akang hanya bisa menyesali diri. Ribuan hari mereka jalani untuk membesarkan akang dan saudara yang lainnya. Namun kini akang begitu sulit untuk memberikan satu-dua “hari” akang untuk mereka berdua. Memang sudah menjadi fitrah orang tua selalu berkorban demi anak-anaknya. Tak akan pernah seorang anak bisa membalas kebaikan orang tuanya dengan setimpal. Hanya Alloh yang bisa membalas dengan sempurna kebaikan orang tua kepada anak-anaknya. Namun demikian tetap saja adalah kewajiban bagi seorang anak untuk selalu berusaha membalas kebaikan kepada orang tuanya sebisa mungkin. Begitulah akang berusaha menjalankan kewajiban ini walau dalam hitungan hari harus berganti peran. Tak lupa akang selalu meminta ijin kepada kedua buah hati akang saat keduanya harus ditinggal bersama Ibunya.

“Nak….ijinkan ayahmu jadi anak….!”

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , , , , . Tandai permalink.

16 Balasan ke Ijinkan Ayahmu Jadi Anak

  1. Wong Cilik berkata:

    kondisi yang butuh kesabaran tinggi ya Kang …
    semoga Bapak diberi kesehatan dan keluarga yang merawat diberi kesabaran ektra …

  2. Orin berkata:

    Duh…reumbay kang :(( Semoga Bapak segera pulih ya, nuhun udah diingetin, Orin jg semenjak nikah jadi cuma pulang pas Lebaran aja *kangen rumah*

  3. lieshadie berkata:

    Yang sabar ya Abi Gilang….

  4. yisha berkata:

    pupuh kinanti dan asmaranda? itu apa, kang?

  5. Seorang ayah pun mesti juga berlaku sebagai anak ya, Kang🙂

    • abi_gilang berkata:

      Mumpung msh ada orang tua harusnta jadi kesempatan untuk ladang amal, tetapi apa daya karena jarak yg cukup jauh rasanya akang tidak maksimal berbakti kepada mereka.

  6. lambangsarib berkata:

    Suka dengan kata2 ini ~~~> “nak…. Ikinkan ayahmu jadi anak…!”

  7. pursuingmydreams berkata:

    Semoga ayah akang segera sembuh ya .. jadi ingat ortu saya jauhhh di Indonesia, sdh 2 thn saya merantau.

  8. pak bakul berkata:

    ujian hidup dan kesabaran..

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s