Pengorbanan Sang Martir

CIMG0132

1983

Hari besar yang ditunggu-tunggu Abdi kini datang menjelang. Jam enam pagi Abdi telah berpakaian seragam rapi. Baju berwarna putih baru, celana pendek berwarna merahnya juga baru. Topi merah bertuliskan “Tut Wuri Handayani” tak lupa dikenakan di kepalanya. Malam sebelumnya Abdi sulit tidur karena terus membayangkan dirinya akan memulai sekolah di SD inpres. Orang tuanya hanya tersenyum simpul melihat Abdi yang mondar-mandir tak karuan nampak tak sabar ingin segera berangkat sekolah. Padahal jarak dari rumah Abdi ke sekolah hanya sejauh 400 meter. Di hari pertamanya Abdi tidak mau diantar orang tuanya, tak seperti teman lainnya yang ingin diantar orang tuanya. Abdi merasa sekolah yang akan ditujunya tidak terasa asing baginya karena sehari-hari dia memang suka bermain di lapangan yang ada disekolah tersebut.

Hari pertama masuk sekolah SD Inpres seolah menjadi pintu gerbang bagi anak-anak untuk memasuki dunia pendidikan. Orang tua sangat berharap terhadap anaknya suatu hari nanti bisa mencapai cita-citanya. Di kampung Abdi saat itu belum mengenal sekolah Taman Kanak kanak (TK) apalagi yang namanya PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Suatu prestasi besar bagi anak yang berumur 6 tahun untuk mau masuk sekolah pada saat itu. Pihak sekolah pun akan merasa bahagia jika dalam tahun ajaran baru jumlah murid kelas satu mencapai angka lebih dari 20 orang. Jangan pernah membayangkan untuk memasuki SD inpres harus melalui seleksi ketat seperti wawancara, psikotest dan tes calistung (baca, tulis dan hitung). Perjuangan guru kelas satu adalah benar-benar mengisi otak anak yang masih kosong dengan ilmu yang paling dasar. Abdi termasuk siswa yang sedikit “ber-otak” karena telah bisa menyebut angka hingga bilangan seratus. Walau dalam hal penjumlahan hanya mampu menjumlah tidak lebih dari jumlah semua jari kaki dan tangannya. Begitu pula dalam hal membaca Abdi mampu menyebut semua hurup namun masih kesulitan saat harus mengeja suatu kata.

Memasuki ruangan kelas di hari pertama tidak banyak acara seremonial yang dilakukan. Wali kelas hanya mengabsen semua muridnya dan mencocokan dengan data yang ada. Orang tua yang mengantar tidak diperkenankan masuk di kelas sehingga hanya bisa melongok di jendela kelas. Selang beberapa waktu semua murid dari kelas satu hingga kelas enam dikumpulkan dilapangan. Ya hari ini langsung diadakan upacara bendera walaupun agak terlambat dari biasanya. Abdi yang sedang berada di kelas mengikuti siswa lainnya yang berhamburan menuju lapangan upacara. Mulai muncul perasaan tegang saat Abdi ditugaskan untuk memimpin barisan kelas satu. Itulah pengalaman pertama seumur hidupnya untuk menjadi pemimpin barisan upacara bagi teman sekelasnya. Dengan tugasnya Abdi pun berdiri dibarisan paling depan diantara barisan peserta upacara.

Menjadi pemimpin barisan membuat Abdi semakin merasa terbebani. Upacara bendera pun dimulai, peserta upacara berbaris rapi mengikuti setiap rangkaian acara upacara bendera. Pemimpin upacara berdiri di tempat yanglebih tinggi dari guru lainnya yang berjejer menghadap peserta upacara. Bendera Merah Putih dikibarkan dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, mengheningkan cipta dipimpin oleh pemimpin upacara, pembacaan teks Pancasila dan UUD 1945. Semua rangkaian diikuti dengan khidmat oleh peserta upacara kecuali siswa kelas satu yang dipimpin Abdi. Kebanyakan mereka tidak mengerti apa yang sedang dilakukan orang-orang disekitarnya. Abdi mendengar suara-suara bisikan diantara teman-temannya di belakang. Abdi sendiri hanya terdiam terpaku, mungkin merasa takut untuk ikut berisik karena posisi berdirinya yang ada didepan. Semakin lama Abdi terlihat gelisah, tubuhnya mulai tak mau diam. Hilang sudah konsentrasinya untuk mengikuti jalannya upacara bendera.

“Abdi ngompol..Abdi ngompol”

Tiba-tiba seorang anak yang berdiri dibelakang Abdi berteriak tanpa dosa. Guru wali kelas satu segera menghampiri ke barisan dimana Abdi berdiri. Didapatinya celana Abdi sudah basah karena tidak kuat menahan kencing. Abdi yang menangis karenanya segera dibawa oleh wali kelas kebelakang barisan upacara. Teman sekelas Abdi hanya tertawa mengetahui Abdi ngompol dicelana saat upacara. Abdi pun langsung diantar pulang kerumahnya oleh salah seorang murid kelas enam. Sejak kejadian itu Abdi mogok sekolah, dan butuh tiga hari bagi orang tua Abdi untuk membujuk Abdi agar mau berangkat kembali ke sekolah. Setelah insiden Abdi tersebut guru wali kelas satu segera memberitahu siswa yang lainnya jika ingin kencing agar jangan segan-segan untuk memberitahu guru. Hampir setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, guru wali kelas satu selalu mengingatkan jika diantara muridnya ada yang ingin kencing atau buang air besar. Alhasil hanya Abdi yang mengalami “insiden siswa baru” diantara teman-teman sekelasnya.

Note: Dalam bahasa sunda “abdi” berarti “saya”:mrgreen:

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

29 Balasan ke Pengorbanan Sang Martir

  1. Fanny Novia berkata:

    whuuaaa..unforgetable momenta pastinya ini ya mas…😀

  2. Jumardi Salam berkata:

    Teruskan kekreatifitasmu kawan, salut buat abdi😀 maksudnya Mortir, hehe

  3. fratih berkata:

    Reblogged this on fratih.

  4. harisspirit berkata:

    Salut buat pengorbanan (terpaksa) Abdi, jadi yg lain gak kan sampe kejadian ngompol di celana lagi. Salam persohiblogan juga dari Cibinong, Bogor🙂

  5. Ryan berkata:

    ngompol ya???
    jadi inget pas TK, ada teman sekelas malah BAB di kelas.

    Salam kenal ya Abi.

  6. Masya berkata:

    hihiihihi,, *cubit abdi

  7. pak bakul berkata:

    hahaa.. tapi kebanyakan dari kita emang pernah punya pengalaman ngompol seperti itu..

  8. danirachmat berkata:

    Indahnya cerita masa kecilnya Mas..🙂

  9. Idah Ceris berkata:

    Hahahahah. . .
    Pasti wajahnya unyu banget pas ketauan ngompol ya, Kang.😀
    Dulu absen berapa, Kang?😛

  10. kebomandi berkata:

    oalaaah… kirain nama orang abdi tea.. hihi🙂

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s