Saatnya Memenuhi Janji

IMG_20130727_142445_0

Manusia adalah mahluk yang senang berkhayal dan berandai-andai. Kebanyakan khayalan tentu saja adalah hal belum bisa mereka capai. Dan akang adalah salah seorang yang juga sering melakukannya. Dahulu saat Gilang masih kecil akang sering membayangkan jika Gilang tak menjadi seorang penyandang Cerebral Palsy. Saat seorang tetangga memarahi anaknya yang sedang hujan-hujanan, akang malah berjanji jika Gilang bisa melakukannya maka akang tak akan marah sedikitpun. Ketika melihat coretan didinding rumah akang pun berjanji tak akang pernah melarang Gilang untuk melakukannya. Bahkan seandainya semua koleksi buku akang diobrak-abrik untuk dijadikan mainan maka akang pun tak akan memarahinya. Sambil berkelakar kepada istri akang berkata jika adiknya Gilang melakukan hal yang dianggap orang kenakalan anak-anak maka akang akan membiarkannya saja. Anggap saja hal itu dilakukan untuk mewakili Gilang yang tak pernah bisa melakukan itu semua.

janji2

Perjalanan takdir membawa Akbar dalam kehidupan akang bersama istri. Akbar tumbuh sebagaimana kebanyakan anak pada umumnya. Akang merasa bahagia dengan kehadirannya yang seolah menjadi pemberi semangat baru menjalani hidup bersama Gilang. Satu persatu khayalan yang dahulu akang harapkan dari Gilang kini benar-benar dialami bersama Akbar. Akbar kini menuntut janji dari semua yang akan janjikan untuk Gilang dahulu. Akbar-lah yang kini senang mencoret-coret tembok dan benda apapun tanpa pandang bulu. Jika ditanya tentang coretan yang dibuatnya selalu saja jawabnya adalah gambar kereta. Entahlah kereta benar-benar menjadi idola Akbar, bahkan ditempat terapi Gilang sering Akbar menjejerkan kursi tunggu untuk dibuatnya menjadi kereta. Sebenarnya akang telah berusaha untuk membiasakan Akbar menggunakan kertas jika ingin bermain crayon atau alat tulis lainnya. Namun apa daya usaha tersebut tidak berhasil hingga saat ini.

JANJI 1

Koleksi buku akang yang tidak begitu banyak menjadi bahan mainan yang tampaknya begitu mengasyikan. Sebelumnya buku-buku tersebut selalu tersimpan rapi tanpa ada siapapun yang mengotak-atik. KIni buku tersebut bisa berubah menjadi kereta dengan cara dijejerkan membentuk kereta, terkadang menjadi kursi dengan cara ditumpuk kemudian diduduki oleh akbar. Si Uwa pengasuh kini dibuat repot karena setiap hari harus merapikan buku yang tercecer diseantero rumah.

Kereta1

Melihat kelakuan Akbar demikian akang hanya bisa tersenyum sendiri. Ingatan akang langsung kembali kepada janji-janji akang kepada Gilang. Tak ada kata-kata protes yang keluar dari mulut akang melihat coretan crayon dilemari buku. Tak ada kemarahan melihat buku-buku akang dijadikan mainan bahkan terkadang hingga kertasnya sobek. Mungkin kini memang saatnya bagi akang untuk memenuhi semua janji tesebut. Akang hanya bisa memotret kelakuan Akbar dan menuliskannya di blog ini.

wpid-IMG_20130713_091315_0.jpg

Tentang Ade Sadikin

The ordinary people
Pos ini dipublikasikan di Cerita Akbar dan tag , , , . Tandai permalink.

25 Balasan ke Saatnya Memenuhi Janji

  1. bundamuna berkata:

    akang dan teteh adalah orang tua yang hebat! peluk gilang dan akbar…
    ayo akbar kita main kereta-kerataan.. tut.. tut.. tut..😀

  2. Ika Koentjoro berkata:

    Akaaaang tulisannya bikin aku terharu. Aku juga kadang2 aja marahin anak kalo coret2. Kursi, tembok semua dicoretin.

Ada komentar??? tulis aja...!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s